Mengenai Saya

Foto saya
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Nurdin Kurniawan, S.Pd. Bekerja sebagai PNS disalah satu sekolah di kota Kabupaten Cirebon. Selain sebagai guru aktif menulis di beberapa surat kabar yang ada di cirebon. Diorganisasi PGRI tercatat pula sebagai redaktur majalah Diaelktika, majalah milik PGRI Kab. Cirebon. Tinggal di Gebang yang merupakan Kampung Nelayan yang ada di Cirebon

Senin, 12 Agustus 2019

SUATU MASA (Cerpen)


Cerpen

SUATU MASA
Oleh : Nurdin Kurniawan

            Masih terasa hembusan angin laut disiang yang panas. Masih terasa bau asap orang-orang yang membakar sate berkenaan Idul Adha yang baru dikelar. Masih terdengar kumandang takbir di hari tasrik  usai Idul Adha yang tinggal beberapa hari lagi. Semuanya mengingatkan pada suatu perjuangan manusia dalam menghadapi waktu yang sudah ditentukan. Suatu masa yang nanti juga akan datang. Silih berganti siang dan malam, silih berganti susah dan senang, kadang ada diatas kadang ada dibawah. Semuanya akan terjadi dalam suatu masa yang tentunya hanya  Pemilik bumi dan langit yang tahu.
            Masih terngiang apa yang dikatakan sang istri. Rasanya belum lama dibayarkan kini harus diulangi lagi. Suatu masa dimana harus membayar ini dan itu. Suatu masa yang harus dipenuhi untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) sang anak yang masih kuliah. Suatu masa pula yang terulang dimana harus segera ditutup uang kontrakan rumah. Bila suatu masa penagihan datang secara bersamaan seperti ini jadinya.
            Dasman mengerutkan dahi beberapa kali. Harus mencari pinjaman dari mana lagi? Rasa-rasanya semua pos sudah didatangi. Dari mulai saudara dekat sampai kerabat jauh. Dari  melihat daftar gaji sampai sisa gaji lainnya barangkali  saja masih ada sisa yang bisa mencukupi. Seperti itulah daur kehidupan kalau sudah datang suatu masa.
            Kalau nanti pas pinjam akan mendapat nasehat, kalau nanti pinjam orangnya tidak ada, kalau...wah... banyak sekali kemungkinannya. Paling enak kalau sudah mengugkapkannya lewat tulisan. Seperti inilah yang harus dihadapi. Harus mengadu kemana lagi jika yang mendengarpun keluhannya hampir sama?
            Ujian manusia hidup memang banyak sekali ragamnya. Ada yang diuji dengan sakit, ada yang diuji dengan gagal panen, ada yang diuji dengan anak dan istri. Kalau direnungi lebih dalam yang diujikan Allah pada Dasman kali ini adalah masalah keuangan. Hampir tiap hari ada saja yang harus ditutup dan semuanya itu membutuhkan yang namanya duit untuk operasionalnya.
            Biaya pendidikan memang harus diutamakan. Barang siapa menyekolahkan sang anak membutuhkan banyak dana percayalah Allah akan mempermudahkan rejekinya. Kalimat inilah yang membuat Dasman berbesar hati. Rasa-rasanya Allah juga tak akan membiarkan sang anak terkapar tak jelas kuliahnya. Pasti akan ada jalan.... hanya saja jalan yang sedang ditunggu itu belum juga tampak jelas.
            Menjemput rejeki adalah dengan menebar sodakoh. Hal ini sudah lama sekali Dasman dengar. Dasman sendiri yakin sekali dengan cara yang satu ini. Masalahnya sekarang ini Dasman sendiri sedang membutuhkan banyak biaya. Ingin bersedekah layaknya orang-orang, namun diri sendiri saja sedang kesulitan. Mungkin belum saja rejeki itu datang berlebih sehingga bisa membagi juga dengan yang lain.
            Hanya sekedar merenung ditengah kepenatan hidup. Kiranya bisa ditemukan cara yang bisa dengan segera mengatasi masalah yang satu. Pusing kalau sudah seperti ini karena ada saja yang harus diselesaikan. Sementara hanya bisa melihat orang yang lalu-lalang di depan rumah. Dengan berbagai keperluan mereka hilir mudik pasti ada akan ada yang dituju. Dipikir secara mendalam kiranya siapa lagi yang akan dituju?
            Ngutang...sepintas lalu bagi yang sudah terbiasa adalah hal yang wajar. Namun tak demikian dengan orang yang takut akan akhirat. Sebab dengan adanya hutang itu pintu surga tertutup. Lalu bagaimana agar pintu yang tertutup itu bisa terbuka kembali? Tentunya hanya memurahan rejeki Allah saja yang bisa menanganinya.
Dasman sedang berada didepan permasalahan yang cukup besar. Sedang mengharap pintu rejeki segera terbuka. Sudah lama rasanya mengiba terus-terusan kiranya pintu rejeki terbuka dengan lebar. Bila rejeki diartikan sebagai kesehatan, kenikmatan, kebugaran memang itu tak dipungkiri bisa dirasakan. Namun kalau sudah yang menyangkut masalah uang inilah yang terasa sulit sekali direalisasikan. Rasa-rasanya ingin memiliki sejumlah rupiah saja sulitnya minta ampun. Segitu bekerja dengan sungguh-sungguh. Bagaimana dengan yang hanya leha-leha mengharapkan suatu karunia yang jatuh dari langit? Entahlah...yang jelas sekarang Dasman ingin agar satu per satu permasalahan yang sedang datang ini bisa ditemukan solusi mengatasinya.
            Bila sudah yang namanya mepet belum juga mendapatkan pintu rejeki dari Yang Maha Kuasa tentunya harus  dipaksakan untuk bisa menahan rasa malu. Pinjam adalah sesuatu yang wajar  namun ada kalanya pinjam juga belum tentu bisa terkabulkan. Kalau bukan rejeki memang terasa susah. Berarti pinjam juga artinya rejeki. Seperti itulah kira-kira yang harus diakui kalau ingin menutup salah satu lubang yang menganga.
            Ada perasaan malu, berat hati, perasaan tak mampu membayar tepat waktu yang terlintas dalalam pikiran Dasman. Haruskah melangkah kalau masih ada suatu keraguan? Lalu akan sampai kapan ragu ini terus ditanam dalam dada. Harus ada keberanian untuk melangkah, mudah-mudahan ada suatu jalan keluarnya kalau diberanikan untuk terus melangkah.
            Ada satu nama yang harus dituju, mudah-mudahan bisa memberikan bantuan. Terus terang ini juga jalan yang dibukakan Allah walau sebenarnya Dasman tak ingin mengulangi. Masa pinjam miliknya Allah juga? Jeruk makan jeruk dong? Tak apalah namanya juga orang sedang berusaha....walau terasa pahit untuk dikenang.
            Mau dirasionalkan juga susah. Dari milik Allah lalu dipinjam seorang hamba agar keperluan hidupnya setidaknya bisa tercukupi. Kalau orang lain berlomba menanamkan kebajikan dengan perbayak sedekah, ini justru kebalikannya. Ingin bersedekah namun jalan rejekinya seret. Bagaimana bisa melakukan sedekah kalau yang selama ini saja masih berharap bisa ditutup segala hutang yang menganga.Hanya bisa berbicara dengan diri sendiri sementara mengungkapkan pada orang lain tak berani. Dasman tahu sebab diluar sana ada yang jauh lebih terpuruk dari dirinya. Maka dari itu kalau menggerutu hanya untuk diri sendiri saja bukan untuk yang lain. Kalau nanti ada yang mengetahui dengan membaca tulisan seperti ini mohon harap dimaklum. Seperti inilah yang namanya kehidupan hanya bisa melihat diatasnya saja tanpa berani menyelem lebih jauh.
            Bila di Jawa ditemukan istilah sawang pinyawang, artinya orang saling melihat yang enaknya saja sementara yang tidak dilihat tak diberitakan. Ketika ada seseorang yang kelihatannnya enak baik dalam segala hal dikiranya tak ada masalah yang lainnya. Kalau ditelaah lebih jauh ternyata tak seperti itu. Bisa jadi yang oleh kita dianggap terlihat enak tak seperti yang dibayangkan.
            Dasman masih berfikir untuk kelanjutannya. Sebagai manusia biasa Dasman yakin kalau yang dialami hari ini hanya satu fase dalam kehidupan. Suatu masa yang harus ia lalui. Belum ketahuan endingnya seperti apa. Tapi sebagai manusia biasa Dasman hanya bisa berharap kiranya Yang Maha Kuasa memberikan kemudahan dalam mengarungi bahtera kehidupan ini. Masalah di jalan ada riak dan gelombang semua orang juga akan mengalaminya. Hanya Dasman berharap kiranya Yag Maha Kuasa meringankan segala ujian yang harus Dasman hadapi.
            Dibalik kesulitan akan ditemui suatu fase kemudahan yang diberikan oleh Yang Maha Pencipta. Ditunggu-tunggu kiranya waktu yang akan ditetapkan ini bisa secepatnya bisa dinikmati.
            Ya Allah berikanlah kami kemudahan dalam menghadapi  gelombang kehidupuan. Ya Allah selamatkan kami di dunia dan di akhirat demikian Dasman berdoa dalam hati menutup tulisannya.

                                                                                                            Cirebon, 12 Agustus 2019

Minggu, 04 Agustus 2019

AKU INGIN SEKOLAH (Cerpen)


Cerpen

AKU INGIN SEKOLAH
Oleh : Mang Iwan

            Lorong antar ruang kelas itu tak ramai seperti dulu lagi dimana anak berlarian kesana kemari. Tak terdengar lagi gelak tawa anak-anak yang kemarin merayakan kelulusan.  Tak ada lagi terjangan bola yang masuk ke ruang kelas. Semuanya terasa sepi apalagi dengan keadaan sekarang dimana siswa satu sekolah yang mendaftarkan ke sekolah negeri tak ada satupun yang diterima. Keadaan ini membuat kondisi sekolah tak lagi kondusif. Orangtua menyalahkan sekolah, kepala desa menyalahkan guru. Guru dan kepala sekolah saling curiga. Kondisi saling menyalahkan dengan anak-anak yang menangis tak menentu nasibnya dimasa mendatang.
            SMPN Mandala yang merupakan sekolah terdekat dengan beberapa sekolah dasar yang mengelilinginya juga sedang bingung. Dari pembagian zonasi seperti aturan menteri ada beberapa                          desa yang tidak tercover. Ini artinya ada beberapa siswa dari desa tertentu yang tidak masuk dalam lingkaran siswa yang diterima. Tentu hal ini akan menjadi masalah sebab baru pada tahun pelajaran 2019-2020 ada siswa yang berasal dari desa tertentu seluruhnya tidak diterima.
            Tak hanya Drs. Karman yang pusing dengan aturan yang baru beberapa tahun diterapkan. Hal senada dilarasan oleh Jamhari sang kepala desa. Baru pada tahun sekarang anak-anak yang berasal dari desa Plabuhan yang berjumlah 8 orang tidak diterima. Orangtua si anak didik datang ke balai desa mengajukan permasalahan yang mereka alami. Mereka sebelumnya mengadu ke kepala sekolah dasar   dimana anak-anak belajar. Mendapat penjelasan yang juga tak jelas-jelas maka beberapa  dari orangtua ini datang ke balai desa. Mereka menuntut agar anak-anaknya bisa belajar sama seperti anak-anak dari desa lain yang diterima.
            “Anak-anak kami nilainya bagus-bagus...”
            “Anak-anak kami berkelakuan baik...”
            “Anak-anak kami ingin sekolah seperti yang lain”
            “Kenapa satu desa anak kami yang akan melanjutkan  tidak diterima di sekolah negeri?”
            “Apa yang salah dengan kami?”
Jamhari hanya bisa menampung apa yang dikeluhkan beberapa orangtua yang datang ke balai desa. Jamhari sendiri kurang paham dengan yang namanya zonasi dalam PPDB. Aturan macam apa yang menyebabkan sang anak tidak bisa masuk ke sekolah negeri seperti tahun-tahun sebelumnya yang tidak ada masalah
            “Kami sudah dari sekolah asal pak kuwu...”
            “Jawaban mereka tidak memuaskan!”
            “Kami hanya ingin anak-nak kami sekolah...”
            “Tolong jangan hambat anak kami yang sedang ingin sekolah!”
Jamhari tak bisa memberikan banyak jawaban, dipanggilnya sekdes untuk mendatangkan sang kepala sekolah yang kantornya hanya berjarak 50 meter dari balai desa. Persoalan anak-anak dari desa Plabuhan tidak bisa diselesaikan sendirian. Harus juga melibatkan sang kepala sekolah yang tentunya tahu jelas duduk permasalahan kenapa 8 anak didiknya yang mendaftar di SMPN Mandala tak ada satupun yang diterima.
            Drs. Karman menjelaskan sistem zonasi yang berlaku saat PPDB tahun sekarang.
            “Tak hanya bapak yang kecewa....”
            “Kami dari sekolah juga sangat kecewa...”
            “Baru tahun ini anak-anak sekolah kami semuanya tidak diterima”
            “Pemerataan pendidikan yang digelontorkan pemerintah nol besar”
            “Ini buktinya....”
            “Satu sekolah tidak ada yang diterima!”
Dihadapan orangtua peserta didik yang mengadu Drs. Karman meminta maaf. Bahwa dirinya sudah berusaha mengantarkan anak didik untuk bisa sekolah dengan baik. Namun di sekolah yang lebih tinggi nyatanya keinginan untuk belajar terhambat oleh aturan yang namanya zonasi. Kedua pimpinan ini berunding yang akan menghadap ke kepala sekolah SMP untuk mengadukan nasib anak-anak yang sedang ingin belajar tapi terhambat oleh aturan zonasi.
                                                                        ***
            Memperjuangkan nasib anak bangsa yang sedang berkembang merupakan suatu kodrat alami bagi guru kelas 6.  Sugiman menjadi terpikirkan dengan anak didiknya yang terjegal tak bisa masuk ke sekolah negeri. Semenjak ia diangkat jadi guru selalu mengajar di kelas 6. Baru tahun 2019 ini anak didiknya tidak diterima di sekolah negeri. Bukan karena mereka bodoh ataupun goblok! Bukan....mereka ini anak-anak cerdas yang tidak bisa tertolong oleh aturan yang tidak pernah diujicobakan terlebih dahulu. Sebuah aturan yang hanya menyamaratakan sekolah baik yang ada di desa dengan di kota, menyamaratakan  falisits sekolah yang ada di desa dengan di kota, menyamaratakan jumlah guru yang ada di sekolah kota dengan desa. Jadilah seperti sekarang ini dimana ada anak-anak yang tidak tertampung di sekolah negeri hanya karena jaraknya jauh dari sekolah yang dituju.
            Kalaulah semua sekolah fasilitasnya sudah sama semua, kalaulah semua sekolah sudah sama saprasnya , kalaulah jumlah gurunya sama setiap sekolah tentu aturan seperti zonasi tak masalah diterapkan. Ini.... ada sekolah dasar yang sangat jauh dari sekolah yang ada dipusat kota kecamatan merasakan akibatnya. Kalah jarak oleh beberapa sekolah dasar yang mengelompok dengan sekolah SMP. Mereka inilah yang mendapat posisi yang lebih diuntungkan. Nah... Desa Plabuhan yang jauh tentu sangat tak diuntungkan. Mau diapakan anak didik yang jauh dari sekolah yang ada di pusat kota kecamatan? Tak hanya Plabuhan, ada beberapa desa lain yang juga nasibnya sama. Anak didiknya tak bisa sekolah negeri hanya karena kalah jarak.  Kejadian seperti inilah yang belum terekam oleh para pengambil kebijakan di pusat.
            Kepala sekolah dari Plabuhan disertai kepala desa akhirnya menemui kepala sekolah SMP. Disalah satu ruangan rupanya ada juga kepala sekolah dari desa lain. Sepertinya permasalahn yang dihadapinya adalah sama. Mereka ini anak didiknya tidak bisa masuk di sekolah negeri seperti yang diharapkan anak-anak.
            “Permasalahan yang bapak sampaikan kami tempung”
            “Kami akan menghadap kepala dinas”
            “Mudah-mudahan ada solusinya...”
Rapat terbatas ini akhirnya membubarkan diri. Jamhari tentu mengintruksikan pada Drs. Karman agar bisa menyampaikan pada orangtua si anak didik. Mudah-mudahan 8 anak didiknya bisa sekolah di sekolah negeri.
            Aturan yang terbilang masih baru dengan berbagai konsekwensinya terkadang membuat bingung. Kalau yang diatas mengatakan semuanya sudah jelas diatur tapi mereka tak paham situasi sesungguhnya yang terjadi di lapangan. Tahunya  sudah di SK-kan dalam sebuah aturan. Mereka yang dibawah harus menjalankan aturan dengan sebaik-bailknya. Jangan coba-coba main mata apalagi main api dengan PPDB.
            Aturan baru harus disikapi dengan pemahaman yang baru pula. Tidak semata-mata ada sebuah aturan kalau tidak ada yang dituju. Zonasi memang bagus, hanya saja perlu sosilalisasi yang begitu mendalam. Sekolah yang belum tercover oleh zonasi yang  begitu jauh jaraknya dari pusat kota menjadi hal baru yang baru ditemukan dalam PPDB. Inilah yang sedang dan harus diusahakan agar ada penyelesaiannya. Jangan ada anak didik yang sedang giat-giatnya ingin sekolah terhambat hanya karena alasan jarak. Masa Ujian Nasionalnya sudah bagus menggunakan sistem online dengan komputer tapi kenapa PPDB-nya ukurannya meteran! Inilah yang kadang tidak masuk akal, namun terjadi di negeri ini. Evaluasinya sudah keren eh...PPDBnya masih meteran. Seolah prestasi akademik hanya nomer sekian...kalah oleh radius dari rumah (meteran).
            Melalui perjuangan yang keras anak-anak yang tadinya tidak bisa diterima di sekolah yang dituju akhirnya harus rela sekolah lain, di sekolah yang justru lebih jauh dari zonasi. Anak-anak ini diberi pengertian oleh guru kelas 6 dan oleh kepala desa kalau memang seperti itu aturan yang sedang berlaku. Suatu pendholiman bagi mereka yang rumahnya jauh dari sekolah.
            “Bersabar saja anak-anak...”
            “Yang penting kalian masih bisa sekolah di sekolah negeri”
            “Masalah jauh itu relatif...”
            “Jalani saja dahulu gampang kalau kalian capai di tengah perjalanan bisa pindah”
Sebagian orangtua mengerti dengan aturan PPDB yang sekarang, namun yang lainnya tetap merasa kecewa dengan aturan zonasi. Zonasi ternyata tak selamanya mendekatkan anak dengan orangtua justru adanya zonasi anak makin jauh sekolahnya dari rumah orangtua. Semoga ada regulasi baru sehingga anak-anak yang domisilinya jauh dari sekolah bisa diterima di sekolah negeri tanpa harus kalah jarak dengan mereka yang domisilinya didepan gerbang sekolah persis. Jangan patahkan semangat anak yang ingin sekolah.
                                                                                                                      Gebang, 13 Juli 2019
           


BUKAN TAK BOLEH (Cerpen)


Cerpen

BUKAN TAK BOLEH
Oleh : Nurdin Kurniawan


            Ketukan suara pintu membuka lamunan Duladi yang dari tadi sedang memikirkan perjalanan hidup yang sedang berliku. Rasanya baru kali ini persoalan hidup yang harus dijalani terasa berat. Bagaimana tidak di bulan yang hampir bersamaan ini banyak sekali yang harus dibayar. Terakhir yang harus dihadapi adalah mendahulukan mana yang harus ditutup. Lamunan ini terhenti gara-gara didepan ada yang mengetuk pintu.
            Berharap ada jalan yang bisa membuka kebekuan pikiran. Kalau yang satu ini beku tentunya akan menimbulkan kemacetan dimana-mana. Ya kemacetan pembayaran yang seharusnya  bisa ditutup untuk  membuka celah bagi pinjaman yang lain. Selama ini harus diakui bila hanya mengandalkan gaji tidaklah seberapa. Namun karena kebutuhan yang mendesak harus bayar ini dan itu maka yang namanya gali dan tutup lubang adalah hal yang biasa.
            Perasaan baru bulan kemarin menutup biaya kontrakan sang anak yang kuliah di Jogja. Kini sudah muncul lagi keluhan dari sang anak yang akan menghadapi ujian praktik. Kuliah di kedokteran swasta bisa dibayangkan sendiri. Biayanya mahal, setiap ada kegiatan praktik harus bayar. Seperti itu yang membuat keuangan Duladi makin dalam jauh sekali untuk merogohnya. Banyak menggalinya daripada menutup lubang.
            Pintu dibuka ingin tahu tahu siapa yang datang. Terlihat sosok yang dahulu terlihat tegap namun kini tak bisa dihilangkan sosoknya yang tegap karena mulai menua dimakan umur.
            “Silahkan masuk Pak Mujakir”
Terlihat senyuman dari sahabat yang dahulu sama-sama  mengajar di sekolah yang sama. Mujakir pensiun lebih awal sementara Duladi masih mengajar. Duladi memang sempat menjadi kepala sekolah selama dua periode. Kini harus merelakan jabatan kepala sekolah karena sudah 2 kali menjabat. Dari lengser sebagai kepala sekolah ini sebagian pundi-pundi dirasakan mulai berkurang. Kedatangan Mujakir ini tak lepas dari masalah keuangan. Barangkali teman dekat ini masih bisa membantu keuangan Duladi yang sedang kembang kempis.
Bla...bla...bla... Duladi menjelaskan persoalan pada sang sahabat. Siapa tahu sang sahabat merasa iba bisa membantu persoalan yang sedang dihadapi. Mujakir manggut-manggut sepertinya tahu banyak persoalan yang sedang dihadapi sang sahabat.
“Dulu waktu Fajar mau kuliah dikedokteran saya sudah menyarankan...”
“Kalau diterima di negeri silahkan diteruskan tapi kalau swasta dipikirkan dulu!”
“Kan tahu... biaya kuliah kedokteran di swasta mahal”
Terdengar suara hirupan nafas yang terasa sangat dalam. Duladi menatap wajah sang sahabat yang berharap sedikit banyak dapat membantu masalah keuangan.
            “Fajar mau KOAS”
            “Masih harus menyediakan beberapa juta lagi”
Duladi menyebutkan angka pada sang sahabat. Masih kisaran puluhan juta lagi. Mujakir yang datang menggunakan sepeda motor mengkalkulasikan uang yang tadi disebut sang sahabat pada kelipatan harga motor.
            “Sama dengan 4 kali motor yang saya pakai...”
            “Mahal juga ya...”
Duladi manggut-manggut seolah mengiyakan apa yang dikatakan sang sahabat.
            “Begitulah”
            “Setidaknya uang itu harus tersedia minggu depan”
            Bukannnya tidak boleh kita bercita-cita tinggi, bukannya tidak boleh kita sebagai orang biasa mengkuliahkan anak diperguruan tinggi swasta. Boleh-boleh saja dan tak ada larangan, tapi...harus diingat dengan keuangan yang ada. Baru kali ini Duladi menghadapi masalah keuangan yang sangat hebat. Gaji hanya tulisan angka yang tidak bermakna sebab isinya juga sudah tidak ada. Pinjaman disana-sini yang jatuh tempo sudah sangat banyak. Sementara ucapan mulai tak setajam dahulu ketika masih menjadi kepala sekolah. Sekarang dengan hanya mengandalkan gaji guru sepertinya sudah terasa  berat sekali. Suatu resiko yang harus dihadapi.
            Duladi berharap Mujakir ada uang tabungan yang nganggur yang sekiranya bisa dipinjam.
            “Barangkali masih ada sisa tabungan....”
            “Saya pinjam dahulu...”
Mujakir hanya mesem mendengarkan penuturan sang sahabat. Ia tahu teman baiknya ini sedang membutuhkan dana yang cepat tapi... apa yang diungkapkan Duladi juga hampir persis sama dengan kebutuhan yang sedang Mujakir hadapi.
            “Orang memang sawang pinyawang
            “Saling melihat satu dengan yang lain...”
            “Tak beda jauh sebenarnya apa yang bapak hadapi dengan yang saya hadapi...”
            “Masalah keuangan...”
            “Saya juga barusan membayar uang kontrakan sang anak di Bandung”
Duladi juga tahu kalau Mujakir punya anak yang sama-sama sedang kuliah. Tapi kebutuhan dirinya terasa lebih banyak dan harus segera ditutup.
            Sepertinya persoalan yang satu belum selesai muncul yang lainnya. Kemarin baru saja dirundingkan dengan kepala sekolah membahas masalah tabungan yang belum kelar. Dari urusan tabungan ini Duladi sempat diultimatum pimpinan kalau belum juga bisa membereskan masalah tabungan dirinya akan dimutasi. Sudah menjadi  peraturan yang tak tertulis kalau di Sekolah Dasar (SD) Mahardika bila tak bisa mengatasi masalah tabungan diakhir pembagian  pada siswa akan mengalami sanksi dimutasi. Walau akhirnya bisa tertutup namun Duladi harus pinjam sana pinjam sini. Kini terasa gaji tak bermakna lagi sebab  apa yang harus dibayarkan dalam setiap bulannya melampuai jumlah  uang yang tertera dalam daftar gaji. Minus amat banyak yang membuat kepala Duladi tak pernah merasakan dingin dan segar seperti yang dalu.
            “Jadi saya harus bagaimana ini?”
Mujakir ikut memikirkan apa yang sedang dialami sang sahabat.
            “Kalau  gadaikan kendaraan bagaimana?”
Duladi melirik ke motor dan mobil yang ada di halaman depan. Berusaha untuk tersenyum karena memang itu kendaraan yang masih ia punya.
            “Kendaraan yang saya punya sudah tidak ada BPKBnya”
            “Semuanya sudah saya gadaikan”
            “Kemarin....kemarin waktu mau membagikan tabungan”
Mujakir haya bisa geleng-geleg kepala, apa yang ia alami  sepertinya tak seberat apa yang dialami sang sahabat.
            “Kalau rumah....?”
            “Justru ini yang saya takuti...”
            “Saya takut tak bisa membayar angsuran kalau rumah ini ikut digadaikan”
Ditengah keheningan Rokayah istri Dulkadi muncul membawakan minuman dingin.
            “Minum dulu Pak Mujakir...”
Mujakir langsung mensruput  sirop jeruk yang terasa nikmat. Setidaknya pikiran sedikit tenang ikut memikirkan persoalan yang sedang dihadapi sang sahabat. Betapa runyamnya kalau gaji habis bahkan minus sementara setiap bulannya harus membayar cicilan ini dan itu yang jumlahnya dalam setiap bulan jauh melebihi angka gaji yang ada dalam struk gaji. Belum lagi yang dibayar itu berbunga alias ada anaknya. Inilah yang membuat Duladi tak bisa tidur nyenyak dalam setiap malamnya.
            Tak bisa membantu  terlalu banyak akhirnya Mujakir mohon pamit pasa sang sahabat. Sambil terus memberikan semangat agar sang sahabat  pantang  menyerah. Masih banyak yang bisa dilakukan untuk pendidikan sang anak.       
            Setelah melalui perenungan yang lama akhirnya Duladi berkesimpulan rumah yang ditinggali dengan  anak istri harus diagunkan ke salah satu bank.Untuk menyelamatkan kuliah sang anak yang tinggal sebentar lagi. Duladi berkeyakinan kalau untuk pendidikan anak-anak Allah juga akan memberikan rejekinya. Untuk mencari ilmu pasti akan ada jalan keluarnya. Kalau sekarang bersusah-susah dahulu memang tak mengapa hal ini masih wajar. Akan datang saatnya nanti susahnya ini akan mendapat balasan.
                                                                        ***
            Hawa segar setidaknya membawa angin yang segar pula. Berada  ditempat tugas yang baru membuat penyesuaian yang baru lagi. Bila melihat kebelakang memang pahit rasanya harus menjalani hal seperti ini. Namun syukuri saja sebab tak akan banyak gunanya dipikirkan terlalu mendalam kalau tak bisa mengembalikan keadaan dengan cepat.
            Semenjak kasus tabungan belum dianggap selesai Duladi mendapatkan tugas ditempat yang baru. Mulanya tak bisa diterima dengan dimutasi dengan cara seperti ini, namun mau apa lagi kalau terus dipaksakan juga hanya akan menjadi pembicaraan ditempat yang lama. Sudah ada beberapa kali guru yang terkena mutasi hanya karena tak mampu menyelesaikan masalah tabungan. Sebagai konsekwensinya memang guru yang bersangkutan dimutasi. Tentunya hal ini setelah segala urusan dibereskan terlebih dahulu ditempat yang lama.
            Dipikirkan terlau mendalam juga tak akan menyelesaikan suatu persoalan. Yang sudah, ya sudahlah jalani saja. Duladi masih yakin kalau hutang yang ia pikul sekarang ini akan menukan jalannya sendiri. Pengorbanan memang harus dilakukan untuk mendapatkan sebuah buah yang harum dan wangi. Jalan yang penuh onak dan duri harus dilalui. Omongan di kanan dan kiri sekarang ini hanya bisa didengarkan.  Bisa jadi hal ini sebagai penambah semangat. Habis-habisan untuk membiayai kuliah sang anak. Terasa berat harus gali dan gali lubang dengan sesekali menutup. Pada akhirnya nanti kalau sudah waktunya akan ada manisnya juga. Waktulah yang nanti akan bicara.
            Diatas langit masih ada langit. Masih bisa untuk berdoa walau beberapa kali hampir putus asa. Tenang saja tak semata-mata Allah menguji hamba-Nya  kalau si hamba tak kuasa untuk menerimanya. Mudah-mudahan masih ada jalan yang masih bisa dilalui dengan apa yang sedang dihadapi. Boleh, boleh dan boleh berfikir mengejar cita-cita setinggi langit. Dibalik kesulitan akan ada kemudahan.

                                                                                                                          Cirebon, 31 Juli 2019