Mengenai Saya

Foto saya
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Nurdin Kurniawan, S.Pd. Bekerja sebagai PNS disalah satu sekolah di kota Kabupaten Cirebon. Selain sebagai guru aktif menulis di beberapa surat kabar yang ada di cirebon. Diorganisasi PGRI tercatat pula sebagai redaktur majalah Diaelktika, majalah milik PGRI Kab. Cirebon. Tinggal di Gebang yang merupakan Kampung Nelayan yang ada di Cirebon

Minggu, 14 Juli 2019

MENUNGGU REKONSILIASI (Artikel)


Artikel

MENUNGGU REKONSILIASI
Oleh : Nurdin Kurniawan, S.Pd.


            Perhelatan demokrasi terbesar bangsa Indonesia yaitu pemilu sudah dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019 yang lalu.   Hasilnya seperti kita ketahui sudah diumumkan oleh KPU dan dimemangkan oleh pasangan calon nomer 01 yaitu Joko Widodo yang berpasangan dengan K.H. Ma’ruf Amin. Seterunya  yang merupakan pasangan calon nomer 02 Prabowo Subianto yang berpasangan dengan Sandiaga Uno lalu mengajukan gugatan ke Mahkamah Konsituti (MK) yang belum bisa menerima kekalahan. Setelah melalui persidangan yang cukup alot akhirnya MK memanangkan  pasangan nomer urut 01 dan menolak semua gugatan pasangan nomer urut 02.
            Lebaran Idul Fitri 1440 H sudah berlalu. Suasana yang masih terasa panas setelah usai pemilu berharap luruh bersamaan dengan datangnya Idul Fitri yang merupakan hari raya umat Islam yang juga hari raya keseluruhan pasangan calon baik presiden ataupun wakilnya. Masyarakat menunggu momen Idul Fitri sebagai ajang silaturahmi tak hanya kedua tokoh yang sempat memanas  dalam pilpres untuk kembali dingin dengan acara silaturahmi atau yang biasa disebut dengan halal bi halal. Bersalam-salaman mempererat tali persaudaraan.
            Akar rumput yang dibawah  sudah bersalam-salaman. Masyarakat pun berharap agar elit partai yang ada diatas bisa mengikutinya, setidaknya memberikan contoh yang baik pada rakyat yang ada dibawah. Halal bi halal setidaknya merupakan ajang yang sangat baik untuk meredakan situasi yang sempat memanas saat dan sesudah pesta demokrasi.
            Harapan hanyalah sebuah harapan namun kenyataannnya ditingkat elit belum sepenuhnya bisa bersatu. Setidaknya rakyat ingin kedua paslon yang sempat memanas dalam ajang pilres bisa bersatu dengan ditandai dengan salaman bila perlu cipika-cipiki berpelukan erat. Sampai tulisan ini ditulis nampaknya belum juga ada tanda-tanda kearah sana walau sedang diusahakan oleh berbagai kalangan.
            Menjadi bahan pertanyaan dimasyarakat adalah hal seperti ini akan sampai kapan? Akankah seperti sejarah dengan melihat pengalaman sebelumnya dimana ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memimpin bangsa ini elama 2 peride yang mengalahkan seteru abadinya Megawati Sukarno Putri  tidak mengenal yang namanya rekonsiliasi. Waktu itu kondisi seperti ini tak ada yang mengusik dan semuanya baik-baik saja. Berapa kali peringatan Hari Kemerdekaan RI yang diselenggarakan di Istana Negara yang namanya Megawati Sukarno Putri tak pernah datang walau diundang secara resmi. Ibu Mega lebih senang memperingati Kemerdekaaan RI di markas PDIP.
            Rekonsiliasi Jokowi-Prabowo sangat penting karena masyarakat Indonesia ingin agar kondisi dalam negeri berjalan damai. Tak hanya itu, masyarakat juga menginginkan persoalan Pemilu 2019 diselesaikan dengan cara terhormat dan bermartabat, bukan dengan tindakan anarkis.
           
Peristiwa Langka
Sejarah suksesi kepemimpinan di tanah air kita dari presiden yang satu ke presiden berikutnya diakhiri degan cara-cara yang menurut orang kecil tak indah dipandang mata. Katakan saja ketika kepemimpinan dari Soekarno ke Soeharto. Presiden pertama dilesengserkan dan menejadi tahanan rumah sampai akhir hayatnya.
Dari Soeharto  ke B.J. Habiebie  pun berakhir dengan cara yang kurang elok dipandang mata. Soeharto dilengserkan oleh gerakan mahasiswa dan rakyat yang sudah bosan dengan sepak terjang Orde Baru. Masyarakat membutuhkan sebuah tatanan baru yang bisa membawa masyarakat Indonesia kearah yang lebih baik lagi. Lahirlah era reformasi yang diharap waktu itu bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih demokratis.
B.J. Habiebie yang menjadi presiden waktu itu tidak bisa melanjutkan kepemimpinan  mewujudkan Indonesia yang lebih baik lagi sebab Timor Timur lepas dari pangkuan Republik Indonesia. Keinginan untuk bisa mempimpin negara ini tak bisa dipertahankan karena  laporan pertanggungjawabannya ditolak MPR.
Era reformasi melahirkan pemimpin baru yaitu Abdurrahman Wahid (Gusdur) sebagai presiden. Di bawah kepemimpinan Gurdur pun tak berlangsung lama. Belum selesai masa jabatannya Gurdur pun harus lengser dibawah tekanan. Wakilnya yang lalu melanjutkan  sebagai presiden. Megawati yang sebelumnya menjadi wakil naik kini menjadi presiden sampai akhir  jabatan. Dalam pemilu selanjutnya Megawati selau kalah dalam pemilihan presiden oleh presiden selanjutnya Susilo Bambang Yudhoyono yang terpilih 2 peridode berturut-turut.
Pengalaman dari presiden Megawati ke presiden SBY antara petahana dengan presiden sebelumnya terlihat kurang harmonis. Masing-masing berjalan sendiri-sendiri seperti belum bisa menerima kekalahan akibat pemilihan umum. Kenangan seperti itu dibawa sampai akhir masa jabatan presiden habis. Masyarakat baru bisa menyaksikan keharmonisan Megawati dengan SBY ketika istri SBY yaitu Ani Yudhoyono meninggal dunia di Tahun 2019. Peristiwa yang begitu jauh berlalu setelah keduanya sudah sama-sama bukan presiden lagi. Ketika keduanya sudah menyadari usia mereka sudah tak muda lagi.
Dari peristiwa SBY dengan Megawati  menjadi pelajaran buat bangsa Indonesia. Diharapkan calon presiden yang kemarin ikut pemilu di Tahun 2019 bisa diakhiri dengan damai. Masyarakat merindukan antara pihak yang menang dan pihak yang kalah bisa bersatu kembali. Ada satu kepentingan yang jauh lebih besar dari sekedar kompetisi memperebutkan jabatan presiden. Membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar , kuat dan diakui dunia jauh lebih berarti dari sekedar  kompetisi memperebutkan sebuah kursi kepresidenan.
Rekonsiliasi keduanya diharapkan bisa terwujud. Pada saatnya nanti ketika Joko Widodo yang berpasangan dengan K.H. Ma’ruh Amin nanti dilantik  menjadi presiden dan wakil presiden diharapkan diruangan itu pula hadir Prabowo Subianto dengan Sandiaga Uno. Membangun bangsa pasca-Pemilu ini tidak bisa sendirian. Harus menyatukan seluruh elemen untuk bersatu demi kepentingan bangsa dan negara. Tentunya merupakan sebuah tantangan bagi bangsa Indonesia ke depan.
Bila rekonsiliasi ini terwujud menjadi babak baru bagi bangsa Indonesia dinama yang menang dan yang kalah pemilu  bisa berkumpul dalam satu ruang yaitu di Gedung DPR/MPR. Semoga hal ini bisa terwujud yang berarti rekonsiliasi bangsa ini berjalan dengan baik. Mengesampingkan ego pribadi, ego golongan dengan memilih mempersatukan bangsa ini menjadi bangsa yang besar dalam sebuah wadah NKRI. Bersama-sama mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

                                                                                                        *) Praktisi Pendidikan




Jumat, 05 Juli 2019

JALAN TERBAIK (Cerpen)


Cerpen
JALAN  TERBAIK
Oleh : Nurdin Kurniawan

            Batin ini menjerit mendengarkan penuturan anak keduanya yang begitu dirasakan menusuk relung  hati yang paling dalam.
            “Biarlah Neng berhenti kuliah saja”
            “Kasihan Teteh yang sebentar lagi selesai kuliahnya”
            “Kalau Neng masih terlalu lama”
            “Biar Neng ikut bantu Ayah saja mencari uang”
Dipeluknya si buah hati yang begitu tulus mengemukakan kalimat yang Mang Dadang tidak menyangka akan  keluar dari mulut      anaknya. Mang Dadang mengakui kalau saat ini dirinya sedang dihadapkan pada persoalan ekonomi. Tapi sebagai orangtua ia tak ingin harus ada yang dikorbankan. Ia ingin anak-anaknya bisa selesai semua kuliahnya.
            Barang-barang sang anak yang sudah dikemas dalam tas besar akhirnya ia bawa. Kamar kost-kosan si anak di Tasikmalaya segera ia tinggalkan. Mang Dadang tak ingin melihat kebelakang yang membuatnya makin sedih. Tadi saja ketika ia mau menjemput Neng anak keduanya ini tertunduk lesu. Ia duduk dilantai sambil merapatkan kedua kakinya. Neng memeluk kedua kakinya sambil menunggu Ayah datang.
            Terenyuh sekali hati Dadang melihat si buah hati duduk di lantai memeluk lututnya sementara tas besar ada disampingnya. Ini sungguh dirasakan amat berat oleh anaknya. Tak seharusnya ia cuti kalau saja Mang Dadang ada uang untuk melanjutkan kuliah  Neng.
            “Sudah siap?"
Neng menganggukkan kepala tanda siap untuk pulang ke Cirebon. Mang Dadang membuka sekali lagi lemari yang dipinjamkan si ibu kost. Dibuka dan memang sudah tidak ada apa-apanya lagi. Lemarinya sudah kosong. Permisi pada Ibu kost kalau ada acara di rumah yang mengharuskan Neng pulang. Mang Dadang tak mau mengatakan      hal yang sesungguhnya karena akan menyakitkan perasaan anak keduanya .
            Di perjalanan juga tak banyak yang diungkapkan Mang Dadang pada Neng anak keduanya ini. Sepanjang jalan seperti terasa sepi. Entah kenapa pula sepertinya mulut ini terkunci. Tapi Mang Dadang sesekali memeluk anaknya. Perasaan sang Ayah yang tidak tega melihat si buah hati harus pulang ke kampung halamannya lagi sementara kuliahnya belum selesai.
            “Kalau Ayah ada rejeki lagi  kuliah Neng harus berlanjut”
Neng hanya diam tak memberikan  jawaban dengan apa yang diungkapkan sang Ayah. Dirinya mengerti benar kalau keputusan ini termasuk berat.
            Anak keduanya ini memang beda  dengan  anak-anak Mang Dadang yang lain. Ia mengerti benar dengan apa yang sedang dirasakan keluarga. Sudah banyak kejadian yang membuat Mang Dadang  salut pada anak keduanya ini. Dulu ketika anaknya masih SMA, Neng rupanya menjadi bendahara kelas. Entah ia pegang uang apa dari sekolah. Pada saat yang bersamaan Mang Dadang membutuhkan uang. Mencari kesana kemari tidak mendapatkan. Tahu kalau Ayahnya sedang galau mencari sesuatu maka Neng menghadap.
            “Ayah seperti sedang bingung?”
Mang Dadang  kaget lalu meperbaiki posisi seperti tak ada apa-apa. Rupanya Neng ini bisa membaca pikiran orang lain. Apa yang dialami sang Ayah seperti bisa ditebak. Akhirya Mang Dadang menceritakan apa sebab dirinya gelisah seperti ini.
            “Ayah lagi butuh uang”
Mang Dadang lalu menyebutkan keperluan mendadak yang harus segera ditutup. Neng lalu masuk kamar dan membawa kantung keresek hitam yang berisi uang  kertas ribuan.
            “Neng ada uang tapi ini uang teman-teman Neng!”
            “Kalau Ayah mau pinjam silahkan saja tapi harus diganti dengan segera”
Tak enak perasaan Dadang sebagai seorang ayah. Malu harus meminjam uang dari anaknya yang jelas-jelas bukan uang miliki sendiri. Tapi karena butuh harus bagaimana lagi? Ya dengan terpaksa akhirnya uang teman-teman Neng ia terima. Konsekwensinya Dadang sangat paham. Ia harus mengganti dengan jumlah yang sama disaat anaknya ini membutuhkan uang itu lagi.
            Kejadian itu sudah berlangsung cukup lama sampai akhirnya Mang Dadang lupa kalau ia pinjam uang kas kelas anaknya . Neng pun tak pernah mengingatkan Mang Dadang kalau dirinya pinjam uang. Sampai suatu saat Neng terlihat lembab matanya seperti habis menangis. Mang Dadang penasaran ada apa dengan anaknya ini.
            “Neng malu”
“Pak Guru menagih uang kas yang dipegang Neng”
            “Memang kemanakan uang kas itu?”, tanya Mang Dadang  keheranan.
            “Uangnya kan dipakai Ayah!”
Mang Dadang memejamkan mata. Istigfar beberapa kali. Ia tak sadar kalau uang itu dulu pernah ia pinjam. Ia lupa sampai anaknya ini mengingatkan dengan suatu peristiwa yang menurut Mang Dadang tidak seharusnya terjadi. Neng lalu dipeluk ayahnya erat-erat.
            “Maafkan Ayah…”
            “Ayah lupa kalau Ayah yang meminjam uang itu”
Mang Dadang akhirnya mengeluarkan uang seperti yang dahulu ia pinjam pada anaknya ini. Bahkan Mang Dadang lebihkan agar anaknya ini bisa tersenyum lagi. Tetap saja sebagai orangtua ada perasaan dosa yang begitu besar terhadap anaknya. Kalau sudah lupa dirinya memang tak ingat apa-apa. Bagi Mang Dadang sebagai seorang Ayah uang itu tidaklah seberapa, tapi bagi Neng sudah tentu sangatlah berharga. Dari peristiwa itu Mang Dadang selalu perhatian pada anaknya yang nomer dua ini. Rasa sosialnya begitu tingggi, ia peduli sekali dengan kesulitan yang dihadapi orang lain termasuk dirinya sebagai Ayah.
            Berhentinya Neng dari kuliah memang hal yang berat bagi Mang Dadang. Inilah jalan yang terbaik untuk saat ini. Terasa berat bagi seorang Ayah memutuskan hal yang seperti ini. Namun apa daya ketika dirinya harus dihadapkan pada sebuah pilihan. Yang sementara waktu inilah jalan terbaik buat putrinya. Keputusan yang sangat berat yang harus dilakukan. Mang Dadang berharap putrinya ini mengerti dengan kondisi yang sedang dihadapi. Siapa sih yang ingin anaknya berhenti kuliah di tengah jalan?
                                                                        ***
            Di keheningan malam Mang Dadang  curahkan segala isi hati pada Yang Maha Kuasa. Mang Dadang memohon petunjuk dengan     semua apa yang sedang ia rasakan. Hidup ini sepertinya sedang berada di titik kulminasi yang paling bawah. Bagaimana tidak? Dahulu ia yang sering membantu adik-adiknya sampai sekolahnya selesai. Kini? Mang Dadang sampai menggeleng-gelengkan kepala. Kok dirinya yang ditolong sang adik. Ada adiknya yang menjelang Idul Fitri kemarin datang ke rumah. Adiknya itu datang dengan  membawa beras dan telur ayam. Bagi  Mang Dadang ini adalah perbuatan yang tidak lazim . Biasanya dirinyalah yang memberikan hal seperti itu apa beberapa adiknya.
            Mang Dadang beserta istri dan anak-anak menangis melihat semua ini. Baru kali ini peristiwa yang seperti ini terjadi. Lebaran yang seharusnya disambut gembira namun untuk tahun ini banyak sekali cerita sedihnya.
            Bila meningat kejadian yang seperti ini Mang Dadang buru-buru istigfar. Dirinya lalu teringat akan nasihat guru spiritualnya. Kyai Sibag selalu memberikan nasihat-nasihat yang selalu menggugah jiwa.
            “Mang Dadang ini sedang dibersihkan”
            “Harus bayak bersabar dan sholatlah”
            Wastainu bis sobri was sholah”
Plong rasanya kalau sudah Pak Kyai memberikan beberapa ayat yang menyatakan kalau dirinya memang sedang dibersihkan. Dirinya harus banyak-banyak bersabar.
Insya Allah Mang Dadang termasuk golongan orang-orang yang ditinggikan derajatnya”
Kalau sudah mendengarkan nasihat seperti ini Mang Dadang makin yakin kalau memang apa yang dialami di rumah hanyalah merupakan ujian. Mang Dadang yakin pula kalau Allah tak akan menguji kaumnya melebihi dari kemampuan.
            Mang Dadang lebih yakin lagi kalau apa yang dialami dirinya ini akan berakhir dengan kemenangan. Salah seorang jamaah yang jarang ngomong justru berani menasehati Mang Dadang.
            “Tenang saja Mang Dadang”
            “Dulu juga Pak Kyai habis-habisan hartanya…”
            “Lihat sekarang?”
            “Setelah dibersihkan apa yang dulu hilang kini kembali lagi!”
Mang Dadang tersenyum. Tumben si Wata anak baru kemarin bisa menasehati dirinya. Tapi Mang Dadang buru-buru istigfar. Jangan melihat siapa yang bicara! Tapi lihatlah apa yang ia ucapkan itu.  Kini Mang Dadang makin yakin setelah si Wata ngomong demikian. Dirinya memang sedang memasuki suatu fase dimana              orang yang akan diangkat derajatnya maka ia akan dibersihkan terlebih dahulu. Mang Dadang  yakin inilah jalan yang terbaik untuk dirinya. Jalan yang sudah diprogram oleh Yang Maha Kuasa. Dirinya harus banyak bersabar dan sholat.
            Makin larut maka makin nikmat yang dirasakan Mang Dadang. Tangannya masih saja memilah-milah biji tasbeh. Mengagungkan asma Allah dikeheningan malam. Sebagai manusia biasa dirinya berharapa agar apa yang sedang dialami anak, istri dan keluarga minta diberikan jalan yang terbaik. Suatu jalan yang didalamnya ada rahmat dan rahman, jalan pencarian  menuju ridho Allah SWT.

                                                                                                              Cirebon, 2 Oktober 2012

KEKUATAN SHODAKOH (Cerpen)


Cerpen
KEKUATAN SHODAKOH
Oleh : Nurdin Kurniawan

            Alhamdulillah begitu mendengar ada orang yang melaksanakan syukuran atas nikmat Allah yang telah diberikan pada hamba-Nya. Demikian yang aku ucapkan manakala mendengar ada jamaah di Masjid An Nuriyah yang syukuran. Walau hanya sebatas mendengar karena memang aku tidak bisa menghadiri acara tersebut. Kalau ada acara seperti itu ingin sekali bisa menghadiri namun keadaan aku sendiri tidak bisa hadir oleh sebab dan lain hal. Tapi mendengarnya saja sudah bersyukur. Itu artinya ada jamaah yang sedang mempunyai kelimpahan rejeki sehingga bisa berbagi dengan anggota jamaah yang lainnya.
            Beberapa kali aku mendengar dari Pak Kyai secara langsung kalau ingin cepat meningkat batas keimanan kita diantaranya dengan shodakoh. Pak Kyai lalu membacakan ayat dari surat Al Kautsar .
            “Kalau ibadah kita ingin cepat diterima Allah”
            “Maka sholatlah dan bersedekah!”
Tak hanya itu aku juga penah beberapa kali mendengar tausiah dari Ustad Yusuf Mansyur betapa yang namanya kekuatan sedekah. Dari sedekah inilah orang bisa sukses.
            Syukur itu yang aku lakukan dengan beberapa kejadian banyaknya jamaah yang sering melakukan sedekah atas usaha yang telah diraih. Kadang suka bertanya pada diri sendiri kapan aku shodakohnya? Orang lain sudah berlomba-lomba sedekah sementara aku masih dihimpit masalah urusan rejeki? Aku masih bekutat dengan apa yang disebut sebagai upaya pembebasan hutang!
            Massya Allah! Inilah yang berbeda antara kondisi ekonomi jamaah yang satu dengan jamaah yang lainnya. Ada yang sudah sukses sehingga kini yang namanya sedekah sudah menjadi bagian hidupnya. Ada yang merintis ekonomi sehingga bisa hidup saja sudah termasuk bagus, ada yang kini mulai beranjak menikmati apa hasil dari usahanya, pokoknya macam-macam yang dialami orang. Inilah yang patut disyukuri. Ternyata ada orang yang kondisinya jauh, jauh dibawah kita!
            Hati ini senang ketika ada jamaah yang dapat warisan sehingga bisa kurban  sapi ketika hari raya Idul Adha.  Hati ini merasa gembira manakalah ada yang keinginnnya terkabul lalu ia membeli kambing lalu syukuran di Masjid An Nuriyah. Rekan kita seperti Pak Matal, Subkhan, Uceng dll. sudah biasa melakukannya. Pokoknya hati ini ikut merasakan dengan apa yang sedang dirasakan jamaah. Itulah pentingnya kita mempunyai jamaah yang kuat. Sedikit ataupun banyak yang syukuran sebagai anggota jamaah kita merasa gembira walau hanya sebatas mendengar telah adanya acara syukuran.
            Hari ini aku kedatangan Mang Darji yang secara rutin suka datang ke rumah.  Khabar yang dibawanya adalah kalau hari ini Pak Matal mengadakan acara syukuran atas nikmat Allah yang telah diberikan. Menyembelih kambing ujar Mang Darji. Mendengarnya saja aku sudah beryukur. Kalau ada jamaah yang ikut sukses setidaknya jamaah yang lain juga ikut gembira. Itulah salah satu dari kekuatan shodakoh. Siapa-siapa yang shodakohnya kuat Insya Allah  akan dimudahkan rejekinya, akan dimudahkan usahanya, akan dimudahkan keinginnnya. Maka tak heran dengan mereka yang sudah berhasil akan semakin sering melakukan shodakoh. Ini sudah bisa dirasakan langsung oleh yang bersangkutan.
            Kini pertanyaan seperti itu harus ditujukan pada diri sendiri. Kapankah aku bisa shodakoh seperti mereka? Mudah-mudahan Allah mendengar apa yang sedang kita keluhkan, dan memberikan rejeki sehingga kita-kita juga juga melakukan shodakoh seperti yang telah dilakukan oleh teman-teman kita, amien.
                                                                        ***
            Mimpi! Awalnya dari mimpi seperti inilah apa yang kita inginkan insya Allah akan terkabul. Ingin shodakoh kambing maka awali dengan sebuah mimpi! Anggap saja kita sedang bermimpi ingin shodakoh kambing. Walau hanya sebuah mimpi mudah-mudahan itu awal yang tepat. Setidaknya ada sebuah target yang harus dicapai agar mimpi itu bisa terwujud.
            Mereka yang sedang bermimpi ingin shodakoh sapi maka bermimpilah! Walau hanya sebuah mimpi tapi ini tidak menutup kemungkinan akan terwujud. Segalanya bisa memungkin. Dari sebuah mimpi inilah akan terwujud suatu kenyataan. Bagaimana mungkin? Inilah  yang sementara bisa dibayangkan oleh orang-orang belum bisa melaksanakan syukuran. Kalau sudah waktunya nanti juga bisa dilaksanakan. Walau hanya sebuah mimpi!
            Wow… kalau begitu yang namanya mimpi itu mahal? Ya jelas, siapa sih yang bisa bermimpi enak? Ternyata mimpi juga butuh perencanaan yang matang. Kadang kita ingin sebuah mimpi yang indah tapi yang muncul kemudian justru yang sebaliknya. Mimpi seram bahkan tak kuat untuk diteruskan. Kita akhirnya bangun dari tidur karena saking ketakutan dengan mimpi yang kita peroleh.
            Mudah-mudahan dengan bermimpi yang sederhana ini apa yang menjadi keinginan kita dapat terwujud. Mimpi agar kita bisa melaksanakan shodakoh. Mimpi agar bisa menyumbang pembangunan masjid, mimpi agar kita bisa menyumbang orang-orang yang tidak mampu. Pokoknya mimpi yang bagus-bagus.
            Orang-orang yang seperti Mang Darji yang ingin bisa mempunyai kendaraan bagus hanya sekedar penyambung kaki juga merupakan sebuah mimpi. Aku yakin bagiku apa yang menjadi mimpi Mang Darji adalah sebuah keinginan sederhana, tapi bagi Mang Darji hal itu sebuh mimpi yang cukup berat. Tapi jangan dianggap remeh walau hanya sekedar mimpi. Bisa jadi karena sebuah keinginan hal  itu sampai diceritakan pada orang lain agar yang diimpikan itu agar bisa  dengan cepat terwujud.
            Sholat dan bersedekahlah! Kalimat sederhana yang sepertinya sudah tak asing bagi kehidupan kita sehari-hari. Laksanakan sholat dengan sebaik-baiknya. Sebisa mungkin awal waktu seperti yang sudah diajarkan di Masjid An Nuriyah. Satu lagi! Bersedekahlah! Kalau keduanya sudah bisa dipadukan sepertinya apa yang menjadi keinginan kita akan dengan mudah terkabulkan. Allah akan bukakan pintu rejeki pada hambanya yang mau mengejar apa yang sudah dijanjikan. Mudah-mufahan jamaah Majmu Syarif yang kondisi  ekonominya masih galau bisa menikmati  apa yang sudah menjadi mimpinya. Mimpi, setidaknya mimpi menjadi orang yang hidupnya jauh lebih baik dari yang kini sedang kita alami. Semoga!
                                                                        ***
            Kekuatan shodakoh adalah sebuah  keajaiban yang pernah sungguh dirasakan oleh mereka yang telah melaksanakannya. Bagaimana mungkin  dengan memberikan pada orang lain sesuatu akan berimbas pada apa yang kita dapatkan? Inilah yang mungkin  suka tidak masuk akal. Namun demikian apa yang sudah dialami ini sudah tidak disangsikan lagi. Sudah banyak orang yang dengan kesadarannya mengalami hal yang seperti ini. Shodakoh sungguh merupakan suatu keajaiban. Bila kita ingin berhasil maka sisihkan seberapa rejeki yang kita terima untuk diberikan  pada orang lain. Mudah-mudahan apa yang aku tulis ini bisa menggerakkan hati ini untuk sebisa mungkin memberikan shodakoh walau kalau hanya dihitung dengan rupiah jumlahnya sungguh masih jauh dari yang diharapkan.
            Ada sesuatu  yang berharga kalau Mang Darji datang ke rumah. Ada saja khabar yang ia bawa. Ini seperti mengingatkan diriku agar selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Dibalik itu semua ada saja orang yang hidupnya ternyata jauh dari apa yang kita bayangkan. Sungguh berapa banyak orang yang hidupnya jauh dibawah kita.  Mereka serba kekurangan namun mereka tak mengeluh dengan apa yang sedang diujikan. Sungguh tabah hati mereka yang seperti ini. Hal inilah yang kadang tidak ada  pada diri kita. Banyak-banyaklah mengucapkan syukur dengan apa yang sedang kita terima. Hanya dengan syukur itulah kita bisa merasakan apa yang telah Allah berikan pada diri kita.
            Diatas awan masih ada awan, diatas langit masih ada langit. Begitulah orang banyak memandang. Kalau begitu tak ada kesudahannya. Kalau untuk memotivasi keimanan kita agar terus bertambah memang bagus. Tapi ini jangan dinisbatkan pada upaya mencari kekayaan. Kalau begitu nanti tidak ada hentinya. Sekedar  mengingatkan  hati maka bila ini muncul kedalam hati kita maka lihatlah orang-orang yang berada di bawah kita. Kalau sudah urusan akhirat maka lihatlah seperti yang tadi. Diatas awan masih ada awan biar ibadah kita makin getol saja.
            Masih menjadi pemikiran umat apa yang aku tuangkan dalam cerita ini. Kemiskinan ekonomi masih menjadi kendala sebagian besar umat Islam. Katakan saja kalau ekonomi sebagain besar sudah mapan sepertinya tak akan menjadi kendala yang berarti. Justu banyaknya umat kita ini ada dibawah garis kemiskinan walau ada beberapa yang masuk katagori sudah mampu. Tinggal digerakkan saja agar yang masih berada di bawah ini bisa naik tingkatan.
            Umat Islam harus kaya! Seharusnya  seperti itu. Bagaimana mungkin bisa naik haji kalau miskin? Bagaimana mau sedekah kalau tidak punya duit! Bagaimana mau bayar zakat kalau kita sendiri masih menerima zakat? Inilah yang menjadi pemikiran kita. Harus dicarikan solusi agar tingkat kemapanan umat Islam diatas rata-rata.
            Dari shodakoh malah aku bicara ke yang lain-lain. Ya seperti itulah kalau sudah menulis. Banyak yang muncul seketika yang akhirnya menjadi pemikiran untuk diungkap. Tapi setidaknya dari shodakoh ini menjadikan kita teringat akan orang-orang  yang harus ditolong. Ada orang yang dengan apa yang kita berikan menjadikan hidupnya jadi lebih mudah lagi. Dengan shodakoh mudah-mudahan rejeki kita dipermudah Allah. Yakinlah akan kekuatan yang namanya shodakoh.

                                                                                                         Cirebon, 25 November 2012