Mengenai Saya

Foto saya
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Nurdin Kurniawan, S.Pd. Bekerja sebagai PNS disalah satu sekolah di kota Kabupaten Cirebon. Selain sebagai guru aktif menulis di beberapa surat kabar yang ada di cirebon. Diorganisasi PGRI tercatat pula sebagai redaktur majalah Diaelktika, majalah milik PGRI Kab. Cirebon. Tinggal di Gebang yang merupakan Kampung Nelayan yang ada di Cirebon

Selasa, 27 Agustus 2019

C A R T I M (Cerpen)


Cerpen
C   A   R   T   I   M
Oleh : Nurdin Kurniawan

            Manusia diciptakan oleh Allah dengan sebaik-baiknya bentuk. Lihat saja binatang ataupun tumbuhan ! Kalau dibandingkan dengan manusia maka manusia itu adalah makhluk yang paling bagus bentuknya. Inilah sisi yang bisa dibanggakan dari makhluk yang bernama manusia. Namun dikalangan manusia itu sendiri ada saja yang kadang tidak merasakan nikmat keindahan yang diberikan Allah. Masih ada saja manusia yang suka saling olok-olokokan dengan bentuk tubuh yang sudah sangat bagus itu. Kenapa? Inilah yang suka menjadi renungan Cartim dalam beberapa bulan belakangan ini.
            Sepintas lalu memang ada yang beda dari penampilan Cartim. Untuk anak-anak yang sudah lama bergaul dengan Cartim hal ini tak menjadikan sesuatu yang aneh. Namun bila mereka yang masih baru tentu suka memperhatikan Cartim lama-lama. Ada apa? Rupanya Cartim ini diberi suatu kelebihan. Maaf! Orang-orang mengatakan gigi Cartim tonggos.
            Aneh? Bukan hal yang aneh dan bukan hal yang patut untuk ditertawakan. Justru inilah yang namya  anugrah. Lihat saja betapa banyaknya orang-orang yang seperti ini sukses. Lihat pula betapa banyaknya pelawak yang memanfaatkan ketonggosan ini sebagai modal popularitas. Sekarang ini saja ada diantara beberapa orang yang masih suka mentertawakan Cartim. Tapi ingat! Pasti dilain waktu apa yang dimiliki Cartim ini bisa mendatangkan uang . Bisa mendatangkan banyak sekali keberuntungan. Tidak percaya?  Lihat saja nanti!
            Seusia Cartim yang kini duduk di kelas 9 masih ada perasaan jengkel bila teman-temannya ada yang suka jahil. Suka iseng dengan kelebihan yang ia miliki. Tonggos kok jadi bahan olok-olokan. Mulanya tak ia tanggapi karena baru pertama kali anak ini melakukannya. Tapi karena seringnya  sowot juga Cartim akhirnya.
            “Awas kamu Ta!”
Anak yang bernama Tata lari menghindari Cartim yang terus mengejar. Cartim kalah gesit dari Tata yang memang larinya kencang. Dibiarkannya si  Tata jauh darinya.
            Usai jam istirahat anak-anak mulai masuk kembali ke ruang kelasnya. Seperti biasa Tata anak yang suka iseng dengan apa yang terdapat pada diri Cartim meledeknya.
            “Awas  jangan dekat-dekat dengan Cartim nanti digigit!”
Segitu ada gurunya namun Tata tak segan-segan meledek Cartim. Kali ini rupanya Tata kena batunya. Topi Tata dapat keambil Cartim.  Akumulasi dari kemarahan yang terpendam membuat Cartim sewot. Topi itu ditamparkan ke muka Tata. Telak sekali Tata yang badannya lebih pendek kena batunya. Plak-plak! Ternyata Cartim anak yang pendiam itu bisa juga marah. Sekali marah membuat orang lain tak akan menyangka apa yang akan dilakukannya.
            “Kamu sih keterlaluan kalau sudah bercanda”
            “Tuh akibatnya kena tamparan Cartim”, ujar salah seorang teman yang duduk disampingnya.
                                                                        ***
            Cartim adalah anak ke-4 dari 4 bersaudara. Sebagai bungsu ia memang mendapatkan kasih sayang orangtuanya lebih bila dibanding dengan saudara-saudara yang lainnya. Bapaknya yang bernama Daman hanyalah seorang penjual bubur kacang hijau di Jakarta. Ibunya Taseli hanyalah buruh tani yang sewaktu-waktu tenaganya banyak digunakan oleh para petani yang punya lahan.
            Tidak terlalu jauh jarak dari rumah Cartim ke sekolah. Cartim paham betul dengan kondisi keluarganya yang menurutnya sendiri miskin. Keadaan yang seperti itulah yang membuat Cartim prihatian. Ia sadar dengan pekerjaan orangtuanya yang banting tulang hanya untuk  menyekolahkan dirinya. Walau diberi ongkos ke sekolah Rp. 2.000 namun Cartim sangat senang sekali. Uang seperti ini kadang masih sisa tidak digunakan semua. Kadang kalau ada rejeki sang Ibu memberinya Rp. 4.000. Uang yang diberikan ibunya digunakan Cartim separuh untuk jajan dann sisanya lagi dipergunakan untuk menabung. Cartim sangat sadar sekali kalau di kelas 9 banyak sekali kebutuhannya. Cartim berusaha agar uang jajan ataupun  ongkos bisa dihemat. Nanti uang tersebut bisa digunakan untuk keperluan yang lainnya.
            Di kelas  prestasi Cartim tidak terlalu jauh dari yang diharapkan. Ketika duduk di kelas 8 pernah menduduki ranking 4. Itu artinya diantara teman-teman sekelasnya prestasi Cartim tidaklah jauh tertinggal. Lumayan bisa mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru di sekolah.
            Ingin kelak cita-citanya dikabulkan. Cartim ingin jadi pelukis. Bakat melukisnya banyak ia tumpahkan di kertas. Lukisan-lukisan natural yang sering ia torehkan diatas kertas. Bakatnya ini memang masih perlu bimbingan. Maka dengan segala keterbatasan apa yang ada  ini  baru sebatas keinginan. Mudah-mudahan cita-cita yang langka ini bisa direalisasikan dengan menjadi seorang pelukis.
            Masih banyak yang dipikirkan Cartim. Sebagai anak bungsu ingin  bisa membahagiakan kedua orangtuanya. Bapaknya yang berjualan bubur kacang hijau di Jakarta tentu jarang sekali bertemu dengannya. Bapak dan kakaknya yang ikut membantu jualan bubur hanya pulang sebulan sekali. Cartim menyadari apa yang dilakukan orangtuaya adalah bentuk tanggungjawab dan kasih sayang agar dirinya bisa sekolah terus sampai jenjang yang lebih tingggi. Cartim berharap dirinya bisa sekolah sampai SMK. Tak muluk-muluk  sampai jauh tinggi. Bisa sampai SMK saja    suatu anugrah yang harus disyukuri. Tapi kalau  Allah berkehendak lain maka Cartim yakin itu adalah yang terbaik buat dirinya.
            Selama ini alhamdulillah belum ada masalah dengan keuangan di sekolah. Segala macam bentuk keuangan yang harus dibayar maka Cartim bisa melunasinya. Orangtuanya mengerti benar kalau untuk urusan yang satu ini. Walau hanya anak tukang bubur kacang hijau namun kewajiban sekolah terus mendapat perhatian yang sangat khusus. Alhamdulillah tidak ada apa-apa lagi dengan yang namanya tagihan dengan keuangan sekolah.
                                                                        ***
            Hidup harus dijalani dengan sikap optimis.  Segala bentuk kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh manusia adalah suatu hal yang harus diterima dengan apa adanya. Cartim yakin benar apa yang dimiliki dirinya merupakan suatu anugrah yang tak ternilai harganya.  Mulanya beberapa teman ikut mentertawakan dengan apa yang dimiliki Cartim. Kini dengan berjalannya waktu   gigi tonggos bukan merupakan suatu hal yang perlu ditertawakan. Memiliki gigi tonggos bahkan kini bisa dijadikan aset yang sangat berharga. Manusia kadang tidak menyadari kelebihan yang dimiliki seseorang.
            Berkaca pada beberapa tokoh yang sangat terkenal di televisi. Berkaca pada beberapa tokoh nasional yang pernah ia lihat di layar kaca. Ternyata  gigi tonggos merupakan modal yang tak ternilai harganya. Ada suatu kelebihan yang diberikan Allah pada dirinya. Inilah yang harus disyukuri. Kalau pun masih ada yang suka melihatnya sebagai sesuatu yang aneh maka anggap saja itu adalah hal yang biasa. Jangan minder kalau ada orang yang masih beranggapan seperti itu. Hadapi hidup ini dengan optimis.
            Kunci pergaulan dengan sesama teman adalah kita jangan pernah sungkan untuk menyapa orang lain lebih dahulu. Kalau ingin disapa orang lain maka sapalah orang lain lebih dulu. Ini sangat mudah dilakukan namun kadang kitanya yang merasa engggan untuk memulai terlebih dahulu. Cartim bukanlah tipe orang yang ingin disapa lebih dahulu. Berteman dengan siapa saja tanpa merasa membedakan satu per satu. Dari sikapnya yang sepertti ini Cartim punya banyak teman. Mereka yang suka mengolok-olok juga  setelah tahu pribadi Cartim akhirnya mendekati. Ngobrol seperti dengan yang lain. Jangan pernah punya dendam kalau salah satunya ngomong atau mengolok-olok diri Cartim. Mungkin mereka tidak tahu saja, atau barangkali mereka  hanya sesaat. Tapi kalau sudah mengenal  siapa  Cartim maka yang tadinya  suka mengolok-olok juga akan sadar dengan sendirinya.
            Bersyukur dengan apa yang telah Allah berikan. Harus sabar, inilah jalan bila kita sedang menghadapi olok-olokan teman. Allah pasti akan membalasnya atau kita yang akan memaafkan apa yang dibicarakan sang teman. Insya Allah apa yang diterima kita jauh lebih berharga atau setidaknya kita menunjukkan pribadi yang jauh lebih baik.
            Segala persoalan kembali pada Allah. Kiranya Allah memberikan yang terbaik buat diri kita. Segala kekurangan ataupun kelebihan semata-mata Allah yang memberikan. Allah  punya tujuan yang kadang kita tak tahu atau tak mengerti dengan kelebihan yang diberikan itu.

                                                                                                          Cirebon, 3 September 2012

BIMA ARYA ANDRIA (Cerpen)


Cerpen
BIMA ARYA ANDRIA
Oleh : Nurdin Kurniawan

            Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) belum terlalu lama. Setelah masuk semester ganjil langsung dihadang libur awal puasa lagi. Sebagai wali kelas sedang menata-nata kelas. Baru kali ini KBM baru awal-awal sudah mendapatkan laporan tentang anak kelas 7 yang bolos. Terkejut juga ketika mendengar katanya bolos sudah ke 8 kalinya. Langsung saja aku kros cek dengan anak yang yang ditugasi untuk absensi kelas. Ternyata memang ada 8 hari anak tersebut bolos.
            Bolos! Itu artinya dari rumah berangkat namun ketika di sekolah pulang atau tidak nongol lagi. Aku berusaha mencari nomer telpon yang dimiliki si anak. Data dari buku leger memang aku punya nomer telpon anak yang bersangkutan. Tapi bila aku bel ternyata tidak aktif. Aku berusaha untuk mencari nomer telpon yang lainnya. Dari anak didikku yang lain akhirnya didapat nomer anak yang bersangkutan. Rupanya nomer ibunya yang diberikan pada diriku. Ketika aku bel rupanya terdengar musik yang keras sekali. Aku tutup lagi karena aku tidak jelas mendengarkan suara orang dari sana. Setelah ditutup barulah orang yang  aku bel tadi mengebel ulang.
            “Halo dengan siapa ini?”
Karena nomer yang muncul adalah nomer yang aku tadi bel aku yakin ini ada kaitannya dengan Bima Arya Andria yang suka bolos itu.
            “Ya ini nomer gurunya Bima Arya”, jawabku
Orang yang ada di telpon lalau menjelaskan siapa dirinya. Setelah  aku tahu kalau yang nelpon adalah ibunya Bima maka  aku jelaskan kenapa Bima dalam beberapa hari tidak berangkat sekolah.
            “Ah masa sih Pak?”
            “Setahu saya anak saya berangkat selalu”
Aku beberkan data yang selama ini aku punya. Ada 8 hari anak ini bolos sekolah.
            “Kalau begitu Ibu datang saja ke sekolah”
            “Nanti akan dijelaskan lebih lanjut tentang anak ibu”
Aku berharap ibu si anak ini mau datang ke sekolah.
            Sehari sebelumnya aku menerima sms dari seseorang. Kalau dari nadanya seperti orang yang sudah kenal aku lebih dekat.
            “Din mangkat tah?”
Aku yang memang hari ini berangkat sekolah mengatakan ya. Tapi aku tidak tahu nomer siapakah ini. Makanya aku sms ulang menanyakan nomer siapakah ini. Dari sms yang aku terima dia menjawab Bima. Aku tahu anak ini memang bermasalah. Makanya aku tanyakan Bima yang dimaksud.
            “Kemana saja kamu selama ini tidak sekolah?”
            “Lagi di rumahsakit jiwa pak”
Aduh! Dari omongannya yang seperti ini aku langsung gemas. Ada saja anak yang mengaku bernama Bima dengan jawaban yang seenaknya perut. Aku berencana memanggil orang yang bersangkutan.
            Menjelang sekolah usai ada tamu yang datang ingin bertemu denganku. Aku sudah bisa menebak kalau orang itu adalah orangtuanya Bima yang memang aku suruh berangkat ke sekolah. Masih muda karena Bima ini memang anak pertama. Setelah ngobrol kesana kemari barulah masuk keinti pembicaraan.
            “Anak saya selalu berangkat pak!”
            “Bahkan anak ini kalau berangkat diantar sama bapaknya”
            “Sampai masuk ke sekolah tidak?”
            “Bapaknya kalu ngantar sampai gerbang sekolah”
Aku sempat berfikir kenapa pula anak ini lalu tidak ada di sekolah. Rupanya anak ini bolos katika pergantian jam pelajaran. Bahkan ada diantaranya tidak masuk sekolah sama sekali.
            “Ya sudah bu”
            “Besok anak ini harus berangkat lagi”
            “Bima harus ketemu langsung dengan saya”
            “Pokonya anak ini harus mempunyai absensi khusus”
            Esoksnya memang anak ini datang diantar oleh bapaknya. Aku lihat raut anak ini bukan tipe pemberontak atau yang aneh-aneh. Lalu kenapa pula anak ini suka membolos sekolah? Ada banyak pertanyaan kenapa anak ini suka membolos. Sebagai wali kelas tentu aku harus menyelesaikan permasalahan dari anak ini. Setelah dinasehati sepertinya anak ini akan normal kembali lagi.
            Tak ingin anak ini kembali mengulangi kebiasannya bolos, maka selama seminggu Bima harus setor muka. Caranya anak  ini selama pagi dan siang hari kalau berangkat harus minta tandatangan walikelasnya. Begitulah cara agar anak ini tak mengulangi lagi kesalahanya lagi.
            Seminggu sudah berlangsung anak ini memang berangkat dengan rajin. Aku tak segan-segan untuk memberikan tandatangan pada Birma. Aku                 berharap anak ini tak mengulangi lagi kesalahan yang sudah ia lakukan.
            Sebagai bentuk  tanggungjawab sebagai wali kelas aku juga mengadakan home visit. Baru tahu kalau di wilayah Ender bagian utara ada perumahan. Rumah anak ini persis di bibir sungai. Aku juga tak bisa membayangkan kalau lagi banjir. Tapi orang-orang disini sudah terbiasa dengan yang namanya banjir. Terbukti kalau rumah dipinggir sungai dianggapnya biasa saja. Kedatangannya di rumah orangtuanya Bima untuk mempertegas kalau mendidik anak harus sungguh-sungguh. Jangan mudah percaya kalau anak berangkat dari rumah lalu disekolahnya ada. Belum tentu juga! Mudah-mudahan apa yang dialami Bima ini untuk yang terakhir kalinya. Kedatangan walikelas ke se rumah sungguh akan membuat anak ini selalu teringat. Apa yang disampaikan wali kelas mudah-mudahan bisa menyerap di hati Bima.
            Tahu akan kondisi orangtuanya, tahu akan kondisi si anak. Itulah keuntungan kalau kita sedang mengadakan home visit. Mudah-mudahan apa yang aku alami pada hari ini bisa membuat orang-orang yang tadinya tak tahu  akan kebiasaan diriku, tak tahu akan maksud dari kunjungan ke rumah jadi bisa jadi memahami. Mudah-mudahan pula apa yang terjadi hari ini bisa diambil hikmahnya.

                                                                                                           Cirebon, 23 September 2013

ASEP DUHANA 2 (Cerpen)


Cerpen
ASEP  DUHANA
Bagian Kedua
Oleh : Nurdin Kurniawan

            Angkot darin arah Ciledug melaju dengan  pelan. Maklumlah hanya ada beberapa gelintir orang didalamnya. Bila sudah siang seperti ini makin jarang orang yang naik angkot. Pada jam-jam tertentu saja yang namanya angkot penuh. Asep duduk di salah satu sudut angkot. Matanya memperhatikan warung di pinggir jalan  yang menjual buah-buahan. Diperhatikan sepi tak ada yang menjaganya. Mata Asep makin tajam memperhatikan  apakah di warung itu ada orangnya atau tidak. Mata Asep tertuju pada sosok yang sedang tidur di ranjang bambu. Asep menarik nafas dalam-dalam setelah tahu apa yang dilihatnya. Dadanya bernafas lega setelah mengetahui kalau ada orang di warung itu.
            Sore itu Asep habis membeli  beberapa barang yang akan dipergunakan untuk keperluan tugas di sekolah. Dari rumah ke Ciledug memang tak seberapa jauhnya. Tadi  memang dirinya tak berhenti dahulu di warung Bapaknya. Warung yang menjual buah-buahan di pingggir jalan. Kalaulah mampir tentu tugas sekolah belum juga  tergarap. Biarlah sang Bapak tidur dengan nyeyaknya sambil menungggu pembeli yang datang.
            Kadang tak tega bila melihat Bapak sendirian di warung. Apalagi tadi ketika angkot lewat Asep melihat sendiri Bapaknya sedang tertidur. Kasihan memang bila melihat kerja keras Bapak. Dari pagi sampai ketemu pagi lagi Bapak selalu berada di warung. Kalau bukan dirinya yang akan menggantikan menjaga warung lalu siapa lagi? Dua kakak Asep sudah bekerja di Jakarta dan di rumah ini hanya Asep dengan Ibu. Ibu kadang menggantikan Bapak kalau        pekerjaan di rumah sudah selesai.
            Usai mengerjakan tugas sekolah Asep buru-buru ke warung . Ia ingin menggantikan Bapak. Biarlah Bapak bisa tidur di rumah. Kasihan tadi ketika Asep melihat Bapak sedang tertidur. Bagaimana nanti kalau barang dagangannya ada yang mencuri? Bagaimana pula perasaannya ketika sedang tidur pulas lalu ada orang yang membeli? Asep merasakan sendiri kalau sedang tidur pulas lalu dibangunkan. Kepala jadi pusing dan terasa berat. Hal seperti itu dialami Bapaknya hampir tiap hari ketika sang Bapak menjaga warung buah-buahan yang dijaganya.
            Hanya bangunan sederhana di mingggir jalan milik pemerintah. Dikelilingi pagar bambu tak kurang dari 3 X 3 meter. Penerangan listrik yang digunakan dapat nyambung dari toko sebelah. Tiap bulannya Bapak harus nyetor listrik yang ia gunakan 2 titik Rp. 40.000. Disamping kiri dan kanan warung Bapak adalah warung-warung kaki lima yang juga sama-sama mengais rejeki. Berderet menjual macam-macam keperluan sehar-hari.  Warung-warung yang berderet itu menjual barang yang berbeda-beda. Jadi walaupun penuh dengan pedagang kaki- lima namun rejeki masing-masing. Tak ada persaingan disini karena memang barang yang dijual juga berbeda-beda.
            “Sudah Pak biar Asep yang menjaga”
Tangan Asep merapihkan buah-buahan yang dipajang didepan. Ada berbagai macam buah seperti apel, jeruk, salak, belimbing, angggur, semangka, buah naga, papaya.  Asep sudah hapal betul harga masing-masing buah yang dijualnya. Tentu itu semua ia dapat dari sang Bapak yang mengajarinya. Buah-buahan yang dijual itu    bisa turun sampai 3.000 rupiah. Jadi kalau ditawarkan pada pembeli harga normal. Setelah tawar-menawar barulah turun hinggga            mencapai angka 3.000 rupiah.
            Biasanya kalau giliran menjaga warung ini dari pukul 14.00  sampai pukul 19.00. Setelah itu Bapak datang lagi untuk menggantikan Asep  sampai pagi. Bapak memang suka tidur di warung . Begitu keseharian yang dilakukan Bapak mengisi  masa tuanya dengan berjualan aneka macam buah-buahan. Semua itu dilakukan karena ia ingin sana anak bisa sekolah tingggi. Memang ada dua anaknya yang sudah pada bekerja, tapi Bapak tak terlalu mengharap banyak. Kedua anaknya itu juga sama-sama prihatin hidupnya. Jangankan untuk memberi orangtua, untuk  anaknya  sendiri saja susah. Orangtuanya sudah merasa senang kalau anak-anaknya terlihat sehat. Masalah kirim mengirim sih kalau ada. Bila tidak ada jangan dipaksa-paksakan yang akhirnya akan membebani anak-anaknya.
                                                                        ***
            Ada perasaan bersalah yang tak bisa Asep lupakan. Dilihatnya beberapa papaya bonyok karena berbenturan dengan benda keras lainnya . Tadi pagi Bapak menyuruh Asep belanja pepaya ke pasar Gebang. Pagi-pagi benar hal itu sudah Asep lakukan. Di Gebang motor seperti biasa diparkir di pingggir jalan. Asep masuk pasar dan motor  dikunci sebagaimana biasanya. Pepaya yang dicari sudah dapat. Besar-besar ukurannya dan harganya bisa terjangkau kalau dijual lagi. Sekembali dari membeli papaya betapa terkejutnya Asep setelah mengetahui keranjang yang tadi terletak di jok bagian belakang tak ada ditempatnya lagi. Asep penasaran lalu mencari-cari disekitarnya barangkali ada orang yang iseng bergurau dengan menyembunyikan tas seharga Rp. 200.000 yang sengaja dibuat untuk membawa buah-buahan dan barang belanjaan lainnya. Putar-puter dicari disekeliling tempat parkir tak juga diketemukan. Ditariknya nafas dalam-dalam. Asep geleng-geleng kepala. Sudah bisa diyakinkan kalau tas itu ada yang mencuri.
            Kini dipikirkan bagaimana caranya papaya yang besar-besar itu bisa terangkut semua di motor? Dadakan Asep membeli karung beras . Hanya beberapa          papaya yang bisa masuk, sisanya masih harus dipikirkan agar terbawa semua. Terpaksa ia taruh disela-sela kaki biar dijepit kaki sekalian. Ditumpuk dengan pepaya yang lainnya. Pokoknya pepaya ini harus terangkut semua.
            Jarak dari Gebang ke Ciledug cukup lumayan juga. Ditambah lagi jalan kabupaten yang dilalui rusak. Gejlag-gejlug sepanjang perjalanan. Sudah juga sangat hati-hati menghindari lubang yang menganga  besar-besar. Tetap saja ada lubang yang tak bisa dihindari diterjang juga. Baru ketahuan pepayanya banyak yang rusak setelah dikeluarkan satu per satu dari karung. Banyak yang bonyok.
            “Pepaya yang seperti inisih tidak bisa dijual kiloan”
            “Haris dijual sudah dalam keadaan dikupas dan dipotong-potong”
Asep menyadari apa yang dilakukannya sudah membuat kecawa sang Bapak. Namun harus bagaimana lagi sebab kejadian seperti ini tidak diduga. Siapa lagi yang dengan  sengaja mengambil tas yang ia bawa? Gara-gara pencuri itulah akhirnya papaya yang tadinya bagus-bagus kini banyak yang bonyok.
            “Asep minta maaf Pak!”
            “Sudah tidak apa-apa”
            “Nanti juga akan terganti”
Beruntung punya Bapak yang sangat pengertian. Bapak memang dari Asep kecil sampai sekarang tidak pernah marah seperti yang Asep lihat pada orang lain kalau orang tua suka memarahi anaknya kalau salah. Bapak orangnya penuh dengan kelembutan. Cukup dengan kata-kata Asep bisa memahami apa yang diingini sang Bapak.
            Kalau sudah rejeki tak seorangpun yang dapat menolaknya. Beberapa pepaya yang masih utuh ternyata cepat juga laku terjual. Yang bonyok tadi  akhirya dikupas dan dijual sudah dalam potongan kecil-kecil kedaan siap santap.  Sisanya dibawa pulang untuk dimakan di rumah. Kadang tetangga juga diberi biar ikut sama-sama merasakan apa yang dijual di jalan.
                                                                        ***
            Menjelang lebaran ada keinginan untuk mencari uang tambahan buat membeli baju baru. Asep tak ingin merepotkan orangtuanya dengan meminta ini dan itu. Kebetulan pula sekolah sudah pada libur. Kesempatan yang sangat bagus memanfaatkan waktu yang seperti ini dengan berjualan.
            Dipikir-pikir jualan apa yang cocok menghadapi situasi menjelang lebaran. Jualan baju? Jualan sembako? Ah… rasa-rasanya kalau jualan seperti kedua barang itu membutuhkan modal yang  cukup besar. Mata ini susah juga dipejamkan memikirkan apa yang hendak dilakukan untuk mewujudkan keinginannya itu.
            Sudah lama tak main ke rumah Paman. Kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh, hanya dengan naik sepeda beberapa menit sudah bisa di rumah sang Paman. Paman dan bibinya ini sudah lama berjualan di pasar. Menjelang lebarang ini yang namanya orang pasti butuh akan ketupat.  Maka ini harus dipikirkan. Kira-kira jualan kulit ketupat saja pasti akan banyak orang yang mencarinya.
            “Asep kamu bantuin Paman saja”
            “Ikut Paman jualan bungkus ketupat!”
Kebetulan sekali, dari dulu ada keingiann untuk ikut berjualan dan kini sang Paman menawarinya. Tanpa berpikir lama akhirnya apa yang ditawarkan sanga Paman oleh Asep sanggupi.
            “Kapan jualannya Paman?”
            “Besok”
            Tangan sang Paman memang ahli sekali dalam merangkai janur menjadi ketupat. Dalam hitungan menit sudah jadi apa yang disebutnya sebagai kerangka ketupat.  Asep oleh sang Paman dimodali pula  jualan balon. Dari jualan di pasar ini lumayan juga hasil yang didapat. Hampir tiap hari Asep ikut pamannya. Jualan di pasar tanpa sepengetahuan orangtuanya.
            Bahagia sekali ketika sang Paman memberikan hasil jerih payah Asep.
            “Ini hasil jualan kamu”
Pamannya memberikan uang Rp. 100.000. Uang yang sangat besar yang pernah Asep terima. Hati ini sangat senang sekali. Baru kali ini Asep mendapatkan uang hasil jerih payahnya sendiri tanpa harus minta      ke orangtuanya. Tangan sana Paman langsung Asep cium. Hari ini juga uang itu akan dibelanjakan baju  dan celana.
            Bergegas menuju Supermarket yang tak jauh dari tempat Pamannya mangkal. Banyak orang yang juga sedang mencari pakaian buat anak dan istrinya. Asep terlihat diantara banyak kerumunan yang sedang memilih-milih baju. Setelah mendapatkan yang cocok barulah Asep keluar dari kasir. Uang Rp. 100.000 itu habis semuanya digunakan untuk membeli pakaian. Rp. 20.000 untuk membeli baju dan yang Rp. 80.000 untuk membeli celana. Sungguh puas hati ini dengan kedua barang yang baru dibelinya. Pakaian yang diperoleh dari hasil keringat sendiri. Lebaran kali ini sungguh sangat berarti. Tak terasa air mata hampir menetes dari sela-sela mata Asep. Suatu perjuangan yang tidak mudah. Perjuangan anak kelas 9 SMP untuk memperoleh baju dan celana dari hasil keringatnya sendiri.

                                                                                                          Cirebon, 5 September 2012