Mengenai Saya
- Paedagogog Mang Iwan
- Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
- Nurdin Kurniawan, S.Pd. Bekerja sebagai PNS disalah satu sekolah di kota Kabupaten Cirebon. Selain sebagai guru aktif menulis di beberapa surat kabar yang ada di cirebon. Diorganisasi PGRI tercatat pula sebagai redaktur majalah Diaelktika, majalah milik PGRI Kab. Cirebon. Tinggal di Gebang yang merupakan Kampung Nelayan yang ada di Cirebon
Rabu, 11 Maret 2020
Selasa, 28 Januari 2020
Sepuh (Cerpen)
Cerpen
S E P U H
Oleh : Nurdin Kurniawan
Langit
jingga dengan awan bagaikan kumpulan domba terlihat indah dibalik Gunung
Ciremai. Ketukan tongkat dengan langkah kaki yang terbata-bata terdengar iba.
Menjelang kemunculan rembulan terdengar
orang yang meminta dibukakan gerbang. Markum yang sedang asik mengetik di
laptop menengok kearah datangnya suara. Dilihat sosok tua yang sudah tak asing
lagi. Wajah tua yang mengharap secepatnya sang tuan rumah membukakan pintu
gerbang.
“Lama
sekali...”
Dengan langkah yang tertatih-tatih
terasa berat menopang tubuh yang tak seperti dulu lagi. Tongkat ular naga yang
membuat Mbah Dirja masih terlihat tangguh.
“Kebiasaan....”
“Mana
minumnya?”
“Kalau mbah
habis olahraga sediakan teh manis”
Mendengar ada suara tamu didepan Rokamah menghampiri sang suami. Terlihat mbah
Dirja sudah duduk di sofa. Rokamah mengerti lalu membuatkan air teh manis.
“Berapa
putaran mbah?”
“Sudah
8 putaran mbah hari ini”
Rokamah hanya mesem mendengarkan penuturan
mbah Dirja. Rokamah tahu kalau ingatan mbah Dirja sudah tak sehebat dahulu
lagi. Kemarin saja waktu bertamu masih dalam hitungan menit ia minta makan.
Padahal sebelumnya sudah diberi nasi
bungkus. Kali ini olahraga jalan kaki mengelilingi
perumahan yang culup luas katanya sudah selesai 8 putaran. Sang sami saja
paling kuat hanya 4 atau 5 putaran lalu minta pulang.
Sosok
mbah Dirja bagi keluarga Markum sudah bukan orang lain lagi. Mbah Dirja
seangkatan dengan ayahnya Markum sewaktu beliau masih hidup. Menghargai
pertemanan antara orangtuanya dengan mbah Dirja maka mbah Dirja diperlakulan
istimewa. Tak seperti tamu yang lainnya si mbah kadang sudah seperti orangtua
sendiri. Setiap usai olahraga mengelilingi komplek perumahan pulangnya pasti ke
rumah Markum. Antara rumah Markum dengan rumah mbah Dirja terhalang beberapa
blok saja tapi masih dalam satu komplek.
Ngobrol
kesana kemari walau sering diantaranya diulang-ulang. Maklumlah kalau orang
sudah sepuh pembicaraan yang sudah pernah diceritakan sehari atau dua hari sebelumnya
diulang dan diulang lagi. Kadang bagi Markum terasa tak berkembang kalau
ngobrol dengan mbah Dirja. Namun karena menghargai kalau beliau adalah sepuh yang
seangkatan dengan bapaknya maka obrolan dengan mbah selalu dilayani.
Ingatan
mbah Dirja terasa mulai berkurang semenjak beliau terpeleset di kamar mandi.
Mungkin terkena benturan dengan lantai yang membuat si mbah kini suka
bertanya kalau sedang ngobrol.
“Ini
dengan siapa ya...?”
Padahal ngobrol sudah lama. Markum yang
menyadari kalau mbah adalah gurunya ketika masih di Sekolah Dasar dahulu masih
bisa sabar. Markum masih ingat si mbah adalah walikelas ketika masih di kelas 5
SD.
“Markum
...mbah”
“Eh....mbah
lupa”
Markum mesem melihat si mbah mulai
teringat dirinya.
“Kemana
saja mbah beberapa hari tidak kelihatan?”
Si mbah tak menjawab apa yang ditanyakan
Markum. Ia asik melihat kedepan jalan yang sibuk dengan mobil yang datang silih
berganti.
“Mbah...”
“Ya...tanya
apa tadi?”
“Beberapa
hari ini mbah tak terlihat suka olahraga lagi?”
Si mbah malah menatap wajah Markum
seolah sedang mengingat sesuatu. Tertunduk tak lantas menjawab apa yang
ditanyakan Markum. Pikirannya malah melanggangbuana mengingat masa-masa muda
dahulu.
“Kamu
inikan anaknya si Herlambang bukan?”
“Mbah....masih
ingat kalau saya anaknya Herlambang?”, tanyaku
“Iya...kadang
si mbah suka ingat...”
Dulu ketika masih sama-sama muda mbah
Dirja pernah sekantor dengan bapak sama-sama sebagai guru. Itu puluhan tahun lalu ketika bapak masih ada. Bapak
meninggal 10 tahun yang lalu setelah 4 tahun pensiun dari guru. Teman seangkatan
bapak rata-rata sudah meninggal, hanya mbah Dirja yang usianya awet. Sesekali
mbah Dirja memijat-mijat kepalanya.
“Masih
terasa sikit mbah?”
Si mbah hanya menggukkan kepala.
Terlihat beban yang berat yang masih
dirasakan. Di rumah hanya sendirian sementara sang istri sudah meninggal 3
tahun yang lalu. Anak satu-satunya tinggal di luar kota.
Markum
kadang menyengajakan diri melihat kondisi si mbah kalau sehari tak nongol. Maklumlah
ia seperti orangtua sendiri. Khawatir seperti di berita beberapa mingggu yang
lalu di tv ada berita yang sangat memilukan. Ada orangtua yang sudah manula hidup
hanya berdua pasangan suami-istri. Lima anaknya hidup di luar kota semua sukses
mempunyai rumah masing-masing. Manula yang lelaki sakit hanya istrinya yang
membantu. Rupaya tak lama kemudian sang istri juga sakit. Tetangga tak ada yang
tahu kalau kedua orangtua yang hidupnya dibalik rumah gedong dengan tembok
tinggi itu sedang sakit. Sampai diketahui keduanya sudah menjadi tengkoraknya
saja. Rupanya manula itu meningggal diperkirakan antara 2 minggu dan tiga
minggu yang lalu. Dari berita ini Markum selalu lewat depan rumah mbah Dirja
memastikan kalau beliau sehat-sehat saja.
“Mbah
sudah makan siang?”
Dilihat memang ada piring bekas makan
namun apakah piring itu bekas makan siang atau makan pagi belum tahu. Untuk
urusan makan memang anaknya sudah menghubungi warung nasi yang ada dipinggir
rumah. Utuk urusan makan si mbah memang tidak perlu repot. Anaknya tinggal
bayar pada tetangga yang juga kebetulan buka warung nasi.
Kadang
suka terpikirkan kalau punya orangtua yang jauh dari anak-anaknya. Seperti mbah
Dirja yang hidupnya sebatang kara walau punya anak dan cucu. Jarak dan kesibukan
kadang suka membuat jarak makin terasa jauh. Walau sekarang ada HP namun tetap
saja intensitas untuk bertatap muka kadang diperlukan.
***
Terdengar
dari kejauhan suara terompet bangun pagi. Markum hanya mesem kalau sudah
mendengar suara terompet bangun pagi di gedung sebelah tempatnya sedang
mengikuti penataran. Kebetulam tempat penataran di kota Batu- Malang berdekatan
dengan asrama Arhanudse TNI AU. Setiap
jam 5 pagi tentara sudah apel pagi yang dilanjutkan dengan kegiatan olah raga.
Begitu dan begitu yang dilakukan setiap harinya di asrama sebelah. Suasana
seperti berada di kamp tentara walau tepatnya hanya bertetangga saja.
Suara
hp bergetar beberapa kali. Markum tak langsung mengangkatnya karena sedang pos
test. Karena terus bergetar akhirnya Markum buka juga. Terlihat nama teman
kecilnya yang juga anak mbah Dirja. Markum keluar ruangan sebentar untuk
mengangkat telpon.
“Maaf
Kum...”
“Bagaimana
khabar bapak saya...?”
Markum lupa kalau dirinya sedang
mengikuti penataran dan tak memberitahukan
Wahyudi anak mbah Dirja.
“Maaf
Di...saya sedang penataran di Kota Batu”
“Memang
ada apa?”
Wahyudi lalu menjelaskan ia sudah
menghubungi bapaknya namun tak diangkat-angkat.
“Kalau
begitu nanti saya hubungi istri saya”
“Oh...tidak
usah biar saya minta nomer istri kamu saja”
“Biar
saya yang nelpon biar kamu tidak terganggu...”
Syukurlah kalau Wahyudi yang nanti menelpon sang istri. Ujian sedang
dilaksanakan Markum tak ingin jika pos testnya mendapatkan nilai rendah.
Di
kamar tempatnya diklat Markum hanya berdiam diri. Masih terbayangkan betapa
baiknya mbah Dirja pada dirinya dan anak-anak. Sang istri tadi memberitahu
kalau mbah Dirja sudah meninggal dunia. Menurut dokter yang menangani katanya
si mbah meninggal 2 hari yang lalu. Markum sedih betapa orang yang ia cintai
meningggal tanpa ada yang mengatahui. Sudah dapat dibayangkan orang seperti
Wahyudi yang jauh diluar kota mendengar
kalau orangtuanya meninggal tidak ada yang mengetahui. Orang yang sudah sepuh
memang harus ada yang menjaga. Sesibuk
apapun yang menjadi anaknya jangan sampai meninggalkan orang yang sudah sepuh
seorang diri.
Keberhasilan
anak-anak bukan karena ia menjadi ini dan itu. Punya barang mewah ini dan punya
barang mewah itu. Apalah artinya dengan jabatan atau pangkat yang tinggi dengan
rumah yang terbilang mewah sekalipun kalau orangtuanya sendiri tinggal
sendirian tak ada yang menemani. Lebih sedih lagi manakala mereka meninggal
dunia tetanggapun tak tahu kapan meninggalnya. Ketika masih anak-anak mereka
merawat kita dengan tulus. Tinggal
ketika mereka sudah sepuh malah kita sibuk dengan urusannya masing-masing. Orangtua
masih sanggup merawat 10 anaknya dengan
baik, namun sayang 10 anak belum tentu mampu merawat satu orangtuanya yang
masih hidup. Sebuah renungan!
Cirebon,
25 Desember 2019
Kerajaan Atas Angin (Artikel)
ARTIKEL
KERAJAAN ATAS ANGIN
Oleh: Nurdin Kurniawan, S.Pd. *)
Beberapa bulan terakhir kita
dihebohkan dengan bermunculannya beberapa kerajaan baru. Tentunya kita masih
ingat bahwa yang namanya kerajaan tidak serta merta muncul lalu memproklamirkan
berdirinya sebuah kerajaan baru dalam waktu sekejap. Kerajaan apalagi yang
lebih besar seperti kekaisaran (empire) tentu sudah mengakar sejak dahulu. Anak turunannya yang kemudian melanjutkan
estafet pemerintahan.
Hilangnya sebuah kerajaan
memungkinkan manakala keturunannya sudah tidak ada lagi bisa karena faktor alam
seperti bencana alam bisa pula karena ‘dihabisi’. Dahulu Rusia adalah sebuah kekaisaran dimana
kaisan terakhirnya adalah bergelar Tsar. Terjadinya revolusi disana menyebabkan
keluarga Tsar dibunuh oleh rejim komunis. Anak keturunannya yang selamat
melarikan diri ke berbagai negara. Mereka yang lolos tak pernah dipublikasikan
masih ada atau sudah habis semua. Waktu itu rejim komunis mencari keluarga Tsar
sampai benar-benar hilang dari peredaran.
Demikian pula dengan Iran sebelum
terjadinya Rovolusi Iran. Raja yang bergelar Syah meregang nyawa didalam
istananya sendiri ketika Rovolusi Iran gergejolak. Syah yang hidup glomor harta
sementara rakyatnya menjerit susah mencari makan membuat rakrat berontak.
Jadilah kini Iran menjadi sebuah republik Islam setelah raja dan keturunannya
dilengserkan dengan cara kudeta berdarah.
Di Afrika juga sama dahulu Libya
merupakan sebuah negara dengan sistem monarki. Kepala negara dan kepala pemerintahannya
dijabat oleh raja. Setelah kudeta
berdarah raja dilengserkan dan diganti dengan republik yang kepala negaranya
adalah seorang presiden. Nasib kerajaan-kerajaan yang hanya mementingkan
keglamoran keluarga raja saja berakhir dengan mengenaskan.
Hilangnya sebuah kerajaan yang paling
terkenal adalah dengan runtuhnya kerajaan di Prancis. Perlawaan rakyat yang
sudah muak dengan tingkahlaku keluarga bangsawan dibuktikan dengan penyerbuan
terhadap penjara Bastile. Penjara yang didalamnya dipenuhi oleh orang-orang yang
secara vokal menentang kezdoliman raja dan keluarganya yang hidup dengan
kemewahaan sementara rakyatnya kelaparan. Penjara Bastile berhasil diruntuhkan
dan orang-orang lalu menyerbu kediaman raja. Kerajaan yang sudah lama berdiri akhirnya
runtuh dan Prancis kini dipimpin oleh seorang presiden sebagai kepala
negaranya.
Fenomena
Kerajaan Baru di Indonesia
Publik
terhentak ketika ada seorang tokoh masyarakat yang hanya lokal saja kepopulerannya
lalu mendeklarasikan berdirinya sebuah kerajaan. Adalah Totok Hadiningrat yang mengundang awak media memperkenalkan
berdirinya Keraton Agung Sejagat. Spektakuler juga wilayah kekuasaannya sebab
Korea Utara yang punya nuklir dan Amerika Serikat adalah bagian dari
wilayahnya. United Kingdom England juga bagian dari Keraton Agung Sejagat. Klaim
juga ditujukan terhadap Pentagon yang merupakan gedung yang sangat fenomenal di
Amerika dimana markas Departemen Pertahanan Amerika Serikat diklaim sebagai
bagian dari Keraton Agung Sejagat. Hebat juga pidato Totok dihadapan awak media
dengan pakaian kebesaran sang raja.
Sepertinya Badan Intelejen Indonesia
(BIN) kecolongan dengan apa yang disampaikan
oleh Raja dari Keraton Aguhg Sejagat. Mengundang awak media dengan klaim yang tak
tanggung-tanggung terhadap beberapa kerajaan yang ada di dunia. Konon saja
Polres Purworejo menggulung tokoh dan pengikut Keraton Agung Sejagat.
Seperti gayung bersambut setelah
Keraton Agung Sejagat dibubarkan Polres dan pentolannya digiring ke markas, kini disebelah
barat muncul kerajaan serupa walau katanya diakui oleh petingginya tak sama
dengan Keraton Agung Sejagat. Kali ini di Jawa Barat muncul yang namanya Sunda
Empire. Kekaisaran yang katanya masih merupakan bagian dari kerajaan agung yang
pernah berdiri di tanah Sunda dengan seorang raja yang memang legendaris Susuhunan
Sri Paduka Prabu Siliwangi.
Petinggi Sunda Empire Raden Rangga
menyebutkan kalau pemimpin tertinggi Sunda
Empire dalah seorang perempuan dengan nama Ratu Agung Ratna Ningrum Sri
Siliwangi. Ratu Agung Ratna Ningrum Sri Siliwangi ini posisinya sebagai kaisar.
Dibawah kaisar masih ada lagi yaitu posisi perdana menteri (PM). Hebatnya lagi
dalam Sunda Empire ini bahwa Perdana
Menteri Dunia artinya seluruh tatanan bumi, apakah presiden, raja, diatur dalam
Grand Prime Minister (Perdana Menteri) yang dijabat oleh Nasri Banks yang tak
lain adalah suaminya Ibunda Ratu Agung.
Masih menurut Raden Rangga beberapa
tokoh dunia seperti Jack Ma pendiri Alibaba sang pengusaha online yang sukses
dan istrinya Donald Trump, pengusaha Bill Gates ikut bagian dalam Sunda Empire.
Sunda Empire-Earth Empire itu adalah kekaisaran matahari, kekaisaran bumi. Juga
diartikan Sunda itu suku Sunda, tapi ini adalah tindakan, proses turun-temurun
kekaisaran dari dinasti ke dinasti dan saat ini dinasti Sundakala demikian yang
diucapkan Raden Rangga dalam video yang
diunggah di youtube.
Masih menurut Raden Rangga, Sunda Empire ini terbagi menjadi enam
wilayah. Di antaranya Sunda Atlantik
dimana Bandung sebagai tera cop diplomatik dunia dan Sunda Nusantara.
Munculnya keraton-keraton diatas
angin atau kekaisan yang wilayahnya entah berantah membuat kita yang
mendengarkan suka tertawa geli. Seolah klaimnya terasa benar karena dibumbui
oleh fakta sejarah yang dipotong-potong sesuai dengan keinginan si pencipta.
Nama-nama yang disebutkan memang ada dalam sejarah tapi tidak ada kaitan dengan
kemunculan keraton atau kekaisaran baru seperti Keraton Agung Sejagat ataupun
Sunda Empire. Rasa-rasanya Jack Ma ataupun Bill Gates akan tersenyum kalau
dikonfirmasi akan keikutsertaannya dalam Sunda Empire.
Pemerintah dalam hal ini harus
serius menangangi bermunculannya kerajaan-jerajaan baru. Bila dibiarkan
setidaknya akan mennganggu stabilitas nasional. Disamping itu hal seperti ini
bila dibiarkan akan berdampak negatif pada keraton-keraton yang legal.
Fenomena kemunculan beberapa keraton
atau kerajaan apalagi kekaisaran baru seperti Sunda Empire, Keraton Agung
Sejagat seperti berada di negeri dongeng. Keberadaannya hanya terbilang hari
atau bulan saja lalu lahir. Dalam sekejap mata sebuah kerajaan bisa berdiri. Sikap
tegas dari pemerintah yang akan mengakhiri keberadaan kerajaan dan kekaisaan
yang wilayahnya diatas angin. Pemerintah harus bersikap tegas jangan sampai
yang seperti ini makin bertebaran yang membuat kondisi makin tak menentu. Belum
lagi rakyat kecil yang tidak tahu menahu hanya karena iming-iming akan diberi jabatan
dalam pemerintahan baru di kerajaan atau keraton lalu ikut berbagung.
Seperti membaca sebuah buku kumpulan
cerita lucu. Dengan terus menerus didogma akhirnya seseorang akan
ikut bergabung dalam sebuah ikatan. Apalagi dengan adanya janji-janji manis
untuk bisa mendapatkan sesuatu menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi anak-anak
muda dengan adanya pakaian yang mentereng dengan pernak pernik kepangkatan militer
membuat lebih tertarik lagi.
Seperti dalam sebuah cerita kalau
kita sedang membaca buku dongeng. Munculnya beberapa kerajaan dan kekaisaran
baru membuat mesem yang menyaksikannya. Namun yang seperti ini memang nyata adanya. Entah sedang
muncul fenomena apa dinegeri tercinta Indonesia ini. Mudah-mudahan kita jangan
sampai terjebak didalamnya yang akhirnya ikut bagian dari beberapa kerajaan
yang baru muncul. Tetaplah dalam bingkai NKRI.
*) Praktisi Pendidikan
Tinggal di Gebang
Terompet Duka di Awal Tahun (Cerpen)
TEROMPET DUKA
DI AWAL TAHUN
Oleh : Nurdin Kurniawan
Keceriaan
terlihat dari sorot Anto dan Hamidah kakak beradik yang akan liburan tahun baru
di Bekasi. Uwaknya yang ada di Bekasi megajak untuk liburan tahun baru. Tentu saja ajakan sang uwak
ditanggapi dengan sukacita. Maklumlah hampir dua tahun Anto dan Hamidah tak mengunjungi
rumah sang uwak. Biasanya uwak sendiri yang datang ke Cirebon menjemput dengan
mobil pribadinya. Mustofa terlihat gembira ketika kakaknya datang dengan sengaja
mau membawa anak-anak berlibur di Bekasi.
Dulu
ketika masih punya mobil Mustofa sering mengajak anak-anak bepergian. Setidaknya
kalau mau belanja sembako sengaja ke kota hanya untuk membahagiakan sang anak.
Kini mobil itu sudah tak ada lagi. Adanya sang kakak yang datang dari Bekasi
untuk mengajak liburan tentu merupakan hiburan tersendiri buat anak-anak.
“Selama
di rumah uwak jangan nakal ya...”
“Ingat
jalan lupa untuk sholat tepat waktu!”
Anto dan Hamidah berpamitan pada kedua
orangtuanya. Mustofa beserta istri sengaja tak ikut karena ada kesibukan yang
tak bisa ditinggal. Lagi pula kalau ikut pergi ke Bekasi hanya akan merepotkan
sang kakak. Mustofa tahu betul kalau kamar sang kakak yang ada di Bekasi hanya
3. Untuk anak-anaknya saja masih kurang tempat apalagi kalau Mustofa ikut nanti
akan tidur dimana?
Anak-anak
tampak senang sepanjang perjalanan. Dilihat kanan-kiri Tol Cipali yang lagi
ramai. Memasuki daerah Indramayu hujan
mulai turun bahkan ruas tol yang masih terbilang baru ini juga ikut terendam
banjir. Mobil sangat hati-hati melewati jalanan yang mulai tergenang air.
Pelan-pelan asal selamat, akhirnya sampai juga di Jati Asih – Bekasi.
Deretan
perumahan penduduk yang berjejer tertata rapih. Rumah Wak Jamhuri berada ditengah-tengah
pemukiman. Berada dideretan yang terletak di tengah blok pula. Jalan yang ada didepan
rumah hanya bisa dilewati satu mobil. Kalau ada 2 mobil maka salah satunya
berhenti atau tak jadi keluar memberi kesempatan pada mobil yang berada diluar
untuk jalan terlebih dahulu. Komplek perumahan di kota memang sangat
memperhitungkan lahan yang ada. Kalau masih bisa dibangun rumah maka pihak
pengembang akan membangunkan rumah. Masalah fasilitas umum dikesampingkan
terlebih dahulu.
Rencannya
sore akan jalan-jaln ke alun-alun Kota Bekasi menyaksikan pesta kembang api.
Sudah dari siang segala macam keperluan
disiapkan termasuk membawa bekal makan yang rencananya akan dimakan di
alun-alun lapangan Kota Bekasi. Tak lupa terompet tahun baru yang sengaja
dibeli disalah satu pedagang kaki lima yang mangkal dekat lampu merah.
Terkadang
menunggu adalah waktu yang sangat melelahkan. Anto yang masih duduk dikelas 6 SD
dan sang adik yang baru duduk di kelas 4 SD tentu berharap bisa menyaksikan
pesta kembang api yang katanya tak kalah meriah dengan pesta kembang api yang ada
di Jakarta. Semenjak lepas magrib barang-barang sudah dikemas dimasukkan dalam
mobil.
Diluar
hujan mulai turun. Mulanya hanya rintik-riuntik namun lama-lama turun hujan mulai besar. Sambil menunggu hujan reda menyaksikan
acara di televisi. Hujan makin terasa derasnya. Petir menggelegar membelah
bumi. Anak-anak mulai makin tak nyaman saja. Inginnya keluar rumah namun
suasana di luar yang membuat keluarga Jamhuri menunggu waktu yang tepat.
Ditunggu
beberapa jam hujan tak mau reda. Dilihat jalanan yang mulai tergenang air. Air
yang tak biasanya masuk rumah kini sudah memenuhi teras rumah.
“Sepertinya
makin besar saja hujannya”
“Sandal-sandal
tolong dimasukkan rumah saja”
Pengeras suara di masjid sudah
memberitahukan warga agar waspada. Rumah yang diujung dekat dengan sungai mulai
dimasuki air. Makin panik warga dengan adanya air yang mulai masuk pemukiman.
Barang-barang yang masih bisa dipindahkan maka dipindahkan menghindari
terjadinya kerusakan yang lebih parah. Air hujan malah meringsek masuk kamar.
Disaat sedang memindahkan barang-barang yang bisa dipindahlan jangan sampai
tergenang kini listriknya mati. Dalam gelap gulita berusaha untuk memindahkan
barang-barang ke loteng yang sekiranya aman.
Baru
kali ini yang namanya hujan terbilang hebat derasnya. Ditunggu sampai reda
eh...tak reda-reda. Air malah makin tambah banyak. Kentongan di masjid mulai dibunyikan
agar warga yang bisa mengungsi untuk
mengungsi ke Kantor Kelurahan. Disana memang ada aula di lantai dua
kantor kelurahan yang bisa dimanfaatkan untuk mengungsi.
“Ayo
semuanya ke loteng”
“Jangan
ada yang di bawah!”
Usep dan Dadan anak Wak Jamhuri yang
masih kuliah ikut bantu-bantu menggotong barang-barang elektronik yang masih
bisa diselamatkan. Listrik mati yang terdengar diluar hanya suara kentongan yang
makin keras ditabuh. Rupanya komplek
perumahan ini sudah dikepung banjir.
Jalan
di depan rumah terlihat seperti sungai baru dengan alirannnya yang sangat
deras. Beberapa mobil yang terpakir didepan rumah yang berada di jalan mulai
bergerak. Suara sirine alarem mobil yang bunyi dengan sendirinya. Rupanya
mobil-mobil itu berbenturan dengan benda keras lainnya yang dilalui mobil yang terbara arus.
Jamhuri
ikut menyaksikan kalau mobil Avanza yang terparkir depan rumah mulai bergerak
mengikuti arus. Mau keluar rumah dicegah sang istri.
“Mau
kemana?”
“Sudah
biarin saja jangan macam-macam...”
“Arusnya
sangat deras...”
Maksud Jamhuri siapa tahu apa ada benda
yang bisa digunakan untuk mengganjal ban agar mobil jangan sampai terbawa arus.
Sirine dalam mobil meraung-raung tak mau
berhenti. Dari loteng Jamhuri menyaksikan mobil kesayangannya bergerak terbawa
arus. Dibelakang mobil Jamhuri ada pula mobil tetangganya yang juga ikut
terbawa arus. Di ujung jalan mobil-mobil ini beradu dengan kendaraan lain yang
kebetulan bertemu di satu titik.
Malam
yang seharusnya gembira diawal pergantian tahun menjadi duka yang tak terperi.
Air makin naik setinggi dada orang dewasa. Kalau anak-anak mungkin sudah tenggelam.
Ditunggu sampai pertengahan malam menjelang pergantian tahun hujan masih turun
walau tidak sebesar waktu isya tadi. Tapi entah kenapa air bukannya surut akan
tetapi makin banyak saja. Rupanya di daerah Bogor hujan juga yang mengakibatkan
air kiriman ikut memasuki wilayah Bekasi.
Tak
terdengar suara terompet menjelang pergantian tahun. Setiap rumah rupanya sibuk
dengan urusan banjir. Mereka sibuk menyelematkan barang-barangnya masing-masing.
Dilihat Anto dan Hamidah yang tadinya akan merayakan pergantian tahun di Kota
Bekasi sudah tertidur. Jamhuri hanya bisa mengelus-elus dada. Jauh-jauh Jamhuri ke Cirebon hanya ingin
membahagiakan keponakannya namun apa daya. Hujan deras yang menggenangi Bekasi
menjadi awal petaka di pergantian tahun
Sampai
pagi memasuki Tahun 2020 tak terdengar suara terompet yang bisanya membahana
seantero langit Bekasi. Kali ini hanya kesedihan yang diarasakan penduduk Bekasi.
Jati Asih seperti hamparan lautan yang tak bertepi. Semuanya berisi air coklat
yang dilain tempat berubah berwarna hitam.
Segala
aktivitas dilakukan di loteng. Tak berani turun sementara air masih terlihat tinggi.
Barulah sekitar pukul 09.00 air mulai surut. Penduduk sudah ada yang berani
keluar rumah. Sengaja mengayuh menggunakan drum minyak memanfaatkan air yang
masih tergenang untuk kemelihat suasana Jati Asih yang tenggelam.
Tak
bisa menyaksikan berita di tv karena listrik masih mati. Informasi hanya
didapat dari HP. Ternyata bukan hanya Bekasi yang terendam tapi ibukota negara
juga ikut tenggelam. Terompet duka di awal tahun baru. Disaat orang-orang di
negara lain menyambutnya dekan sukacita namun untuk Indonesia derita yang dirasakan. Di jalan-jalan dilihat
banyak kendaraan yang teronggok dipingggir jalan. Satu bertumpang tindih dengan
kendaraan lainnya. Seakan mobil tak ada harganya tergeletak di pinggir jalan
tak ada yang merawati. Kendaran motor juga banyak gergelimpangan tak tahu siapa
pula pemiliknya. Jangankan untuk menyelamatkan kedaraan, untuk menyelamatkan nyawa sendiri saja
terasa sulit.
Derita
di awal pergantian tahun. Jamhuri hanya bisa membelai kedua keponakannya yang
tak sempat melihat keindahan kembang api
di awal pergantian tahun. Terompet yang dibeli di dekat lampu merah juga tak
tahu kini keberada dimana, yang penting sekeluarga selamat. Jamhuri masih belum
mengecek keberadaan kendaraan roda empat satu-satunya yang ia miliki. Dilihat
kedua keponakannya ikut merasakan sedih. Boro-boro ingat mobil yang penting
kini sekeluarga masih dalam lindungan Allah Taala.
Setelah
air surut barulah Jamhuri mencoba mencari mobil avanza birunya. Dilihat setiap
onggokan mobil yang bertumpangtindih dengan mobil-mobil yang lain. Setelah
dicari ternyata mobil yang kemarin memjemput kedua keponakannya bergerak 150 meter dari tempatnya berada. Dekat dengan
pertigaan beradu bertumpukan dengan mobil yang lain dalam posisi terbalik.
Terompet
duka di awal tahun baru. Kesedihan yang mendalam tak bisa membawa jalan-jalam
keponakan yang dari awalnya ingin menyaksikan pesta kembang api di langit
Bekasi. Awal tahun yang membuat seisi rumah harus banyak-banyak membaca
istigfar. Mungkinkah ini amarah alam yang sudah kesal dengan ulah manusia yang
sesuka hati berbuat semaunya. Jagan pula bertanya pada rumput yang bergoyang
karena hanya akan menambah banyak PR yang belum dikerjakan.
Cirebon, 3 Januari 2020
Langganan:
Postingan (Atom)




















