Mengenai Saya

Foto saya
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Nurdin Kurniawan, S.Pd. Bekerja sebagai PNS disalah satu sekolah di kota Kabupaten Cirebon. Selain sebagai guru aktif menulis di beberapa surat kabar yang ada di cirebon. Diorganisasi PGRI tercatat pula sebagai redaktur majalah Diaelktika, majalah milik PGRI Kab. Cirebon. Tinggal di Gebang yang merupakan Kampung Nelayan yang ada di Cirebon

Sabtu, 15 Juni 2019

Menuju Tempat Lahir Beta (Artikel)


MENUJU TEMPAT LAHIR BETA
Oleh : Nurdin Kurniawan, S.Pd.

            Beruntung mereka yang masih punya kampung halaman dimana kita dilahirkan dahulu. Sebab tak sedikit dari kita yang kini sudah tak punya kampung halaman. Bisa karena rumah yang dahulu tempat dilahirkan sudah tak ada lagi dengan berbagai alasan. Ada yang terkena gusuran proyek besar, ada yang terkena gusur pelebaran jalan dan masih banyak yang lainnya. Rasanya hampa kalau hendak pulang kampung kalau kampung yang akan dituju kini sudah tenggelam dan sudah menjadi bendungan besar misalnya.
            Fenomena pulang kampung menjadi ramai dibicarakan manakala menjelang Idul Fitri. Berbondong-bondong orang yang hendak pulang kampung. Berbagai cara dilakukan agar lebaran bisa berada di kampung halaman. Jarak sepertinya tak menjadi masalah, yang penting ketika Idul Fitri bisa berada di kampung halaman.
            Pulang kampung saat Idul Fitri ini ramai dilakukan dibeberapa negara yang penduduknya mayoritas beraga Islam. Seperti di Indonesia dan Malaysia yang namanya pulang kampung seperti tradisi yang tak pernah akan pudar. Rasanya lebih hidmat kalau Idul Fitri bisa dilakukan di kampung halaman bersama keluarga besar.
            Berbagai sarana transportasi yang ada selalu penuh dan sesak dijejali oleh orang yang hendak pulang kampung. Tak heran bila jalan penuh sesak dengan mobil pribadi ataupun mobil komersial. Para pengendara sepeda motor juga ikut meramaikan jalanan yang ada. Jadilah pantura sebagai ajang silaturahmi sesama pengendara. Berlama-lama di jalan membuat mereka yang pulang kampung dengan konvoi menjadi makin akrab.
            Ada suatu kenikmatan tertentu yang katanya sulit untuk diungkapkan lewat kata-kata bila pulang kampung dengan menggunakan motor. Punya sensasi tersendiri yang terlalu indah untuk dikatakan. Walau resiko kecelakaan begitu dekat namun tak menghalangi mereka yang pulang kampung dengan motor  ciut nyalinya, kebalikannya makin banyak jumlah motor di jalan makin besar tantangan untuk cepat-cepat bisa berada di kampung halaman.
            Itulah kenapa pantura selalu ramai oleh pemudik saat Idul Fitri tiba. Sekali lagi beruntung mereka yang masih punya kampung halaman. Bersilaturahmi dengan keuarga besar. Ketemu handai taolan, bertemu dengan teman-teman semasa kita masih kecil dahulu. Indahnya makna silaturahmi kalau sudah bertemu dengan orang-orang yang kita cintai.
            Kampung halaman tempat lahir beta memang sulit untuk dilupakan. Bertahun-tahun merantau di negeri orang. Sukses menjadi orang dinegeri tetangga namun tetap saja kerinduan akan kampung halaman tidak bisa dihilangkan. Jarak yang beribu-ribu kilometer tak menjadi halangan untuk bisa pulang ke kampung halaman. Disanahah tempat lahir beta, dibuai dan dibesarkan bahkan kelak kita dikuburkan.

            Kebijakan One Way
            Banyaknya pemudik yang kan  pulang kampung ke Jawa dari Jakarta membuat jalur pantura  tak kuat lagi menampung banyaknya kendaraan. Ruas jalanan yang ada tak sebanding dengan jumlah kendaraan yang terus bertambah setiap harinya. Macet terjadi dimana-mana. Jalan tol trans Jawa yang ada juga tak mampu menampung jumlah kendaraan yang ada. Tol yang ada difungsikan oleh pemerintah hanya untuk satu arah (one way).
            Pemberlakuan kebijakan one way dijadwalkan pada 30-31 Mei dan 1-2 Juni 2019 untuk perjalanan arus mudik. Artinya, selama empat hari itu, jalan tol akan dibuka searah dari Cikarang ke arah Brebes. Sebaliknya, pada 7 hingga 10 Juni 2019, jalan tol akan dibuka searah dari Brebes ke arah Cikarang. Jalur searah alias one way jalan tol mulai dari KM 29 di Cikarang hingga KM 263 di Brebes, Jawa Tengah. Kebijakan tersebut diharapkan bisa memperlancar arus mudik dari Jakarta menuju sejumlah daerah di Pulau Jawa, seperti Yogyakarta, Semarang, Solo hingga Surabaya.
            Setiap diberlakukan sebuah kebijakan tentu saja ada plus minusnya. Sayangnya, kebijakan one way tol ini tak serta-merta disambut gembira seluruh masyarakat. Sebab, tidak semua orang melakukan mudik dari barat ke timur, ada juga yang melakukan perjalanan sebaliknya dari sejumlah daerah di Pulau Jawa menuju Jakarta.
            Bus-bus yang telah mengantarkan penumpang ke Jawa dibuang ke jalur pantura. Perjananan bus menjadi terlambat ke Jakarta . Penumpang yang sudah menunggu di Jakarta harus sabar menanti bus yang baru  mengantarkan penumpang ke Jawa. Pantura kembali menjadi padat oleh kendaraan yang menuju arah Jakarta.
            Meski penulis tak melakukan mudik seperti mereka yang bekerja di Jakarta namun sensasi mudik sempat dirasakan pula. Ikut iring-iringan mobil yang kendak ke arah Jakarta. Kepadatan pantura persis sama dengan situasi jalanan di Jakarta disaat jam-jam kerja. Laju kendaraan hanya 20 Km/jam. Dari Gebang ke Cirebon yang bisanya hanya 30 menit bisa menjadi 2 jam. Benar-benar merasakan sensasi mudik.
            Media massa baik cetak ataupun  elektronik ikut memberitakan mudik 2019. Berbagai stasiun televisi memberitakan acara live mudik di beberapa titik kemacetan. Sepertinya suasana seperti ini menjadi berita aktual yang paling ditunggu pemirsa. Betapa perjuangan untuk bisa lebaran dengan keluarga besar di kampung halaman menjadi sebuah tradisi yang sepertinya mau tak mau harus dilaksanakan. Hambar terasa kalau lebaran tidak bisa kumpul dengan keluarga besar di kampung halaman.
            Ditengah berita  siaran langsung mudik Idul Fitri 1440 H sebagai warga net juga tak boleh lengah dari berbagia berita yang masuk. Salah satu yang membuat heboh adalah berita mudik diantaranya kiriman melalui WA tentang kecelakaan yang terjadi di tol Pemalang. Dalam sebuah tayangan video beredar kecelakaan yang melibatkan 8 kendaraan. Dalam video itu juga disertai tulisan "Toll Pemalang - Tegal dari awal searah tiba-tiba dibikin 2 arah...risikonya begini..., hati-hati dalam mengemudikan mobil bila tiba-tiba tol diubah jadi 2 arah...".
            Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Agus Triatmaja, mengatakan, kecelakaan lalu lintas terjadi pada Minggu 2 Juni 2019, pukul 16.00 WIB di ruas jalan tol Jasa Marga Seksi B tepatnya di KM 9 jalur B arah Jakarta, di Tembalang Semarang. Kecelakaan itu melibatkan delapan kendaraan bermotor.
Peristiwa bermula saat truk E-9872-E berjalan dari arah selatan (eks Pintu Gerbang Tembalang) ke arah utara (Jatingaleh). Diduga pengemudi tidak bisa menguasai kendaraannya hingga menabrak Toyota Rush AA-8937-PB, Sigra A-1163-ZT, Isuzu Phanter AD-8906-KS yang berjalan searah di depanya. Kemudian menabrak Toyota Avanza H-8862-MF, Daihatsu Xenia B-1124-BOU, Nissan Livina B-1159-TFV, Toyota Avanza B-1374-VI yang berjalan dari arah utara (Jatingaleh) ke selatan (eks Gerbang Tol Tembalang) yang sedang dalam kondisi contraflow atau rekayasa lalu lintas.
Tak ada korban jiwa dalam kecelakaan ini namun mereka yang terluka sudah ditangani pihak rumah sakit. Semoga cepat sembuh dan bisa berlebaran bersama keluarga besar di kampung halaman masing-masing.
Bisa berlebaran  di kampung halaman menjadi sebuah perjuangan tersendiri bagi kawan-kawan yang berada diluar kampung halaman. Setelah berpuasa 1 bulan lamanya datanglah hari kemenangan. Selamat Idul Fitri 1440 H.  Mohon maaf lahir bathin. (N.K/FD).

                                                                                    *) Redaktur Majalah Dialektika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar