MENUJU TEMPAT LAHIR BETA
Oleh
: Nurdin Kurniawan, S.Pd.

Beruntung mereka yang masih punya
kampung halaman dimana kita dilahirkan dahulu. Sebab tak sedikit dari kita yang
kini sudah tak punya kampung halaman. Bisa karena rumah yang dahulu tempat
dilahirkan sudah tak ada lagi dengan berbagai alasan. Ada yang terkena gusuran
proyek besar, ada yang terkena gusur pelebaran jalan dan masih banyak yang
lainnya. Rasanya hampa kalau hendak pulang kampung kalau kampung yang akan
dituju kini sudah tenggelam dan sudah menjadi bendungan besar misalnya.
Fenomena pulang kampung menjadi
ramai dibicarakan manakala menjelang Idul Fitri. Berbondong-bondong orang yang
hendak pulang kampung. Berbagai cara dilakukan agar lebaran bisa berada di
kampung halaman. Jarak sepertinya tak menjadi masalah, yang penting ketika Idul
Fitri bisa berada di kampung halaman.
Pulang kampung saat Idul Fitri ini
ramai dilakukan dibeberapa negara yang penduduknya mayoritas beraga Islam.
Seperti di Indonesia dan Malaysia yang namanya pulang kampung seperti tradisi
yang tak pernah akan pudar. Rasanya lebih hidmat kalau Idul Fitri bisa
dilakukan di kampung halaman bersama keluarga besar.
Berbagai sarana transportasi yang
ada selalu penuh dan sesak dijejali oleh orang yang hendak pulang kampung. Tak
heran bila jalan penuh sesak dengan mobil pribadi ataupun mobil komersial. Para
pengendara sepeda motor juga ikut meramaikan jalanan yang ada. Jadilah pantura
sebagai ajang silaturahmi sesama pengendara. Berlama-lama di jalan membuat mereka
yang pulang kampung dengan konvoi menjadi makin akrab.
Ada suatu kenikmatan tertentu yang
katanya sulit untuk diungkapkan lewat kata-kata bila pulang kampung dengan
menggunakan motor. Punya sensasi tersendiri yang terlalu indah untuk dikatakan.
Walau resiko kecelakaan begitu dekat namun tak menghalangi mereka yang pulang
kampung dengan motor ciut nyalinya,
kebalikannya makin banyak jumlah motor di jalan makin besar tantangan untuk
cepat-cepat bisa berada di kampung halaman.
Itulah kenapa pantura selalu ramai
oleh pemudik saat Idul Fitri tiba. Sekali lagi beruntung mereka yang masih
punya kampung halaman. Bersilaturahmi dengan keuarga besar. Ketemu handai
taolan, bertemu dengan teman-teman semasa kita masih kecil dahulu. Indahnya
makna silaturahmi kalau sudah bertemu dengan orang-orang yang kita cintai.
Kampung halaman tempat lahir beta
memang sulit untuk dilupakan. Bertahun-tahun merantau di negeri orang. Sukses
menjadi orang dinegeri tetangga namun tetap saja kerinduan akan kampung halaman
tidak bisa dihilangkan. Jarak yang beribu-ribu kilometer tak menjadi halangan
untuk bisa pulang ke kampung halaman. Disanahah tempat lahir beta, dibuai dan
dibesarkan bahkan kelak kita dikuburkan.
Kebijakan
One Way
Banyaknya pemudik yang kan pulang kampung ke Jawa dari Jakarta membuat jalur
pantura tak kuat lagi menampung
banyaknya kendaraan. Ruas jalanan yang ada tak sebanding dengan jumlah
kendaraan yang terus bertambah setiap harinya. Macet terjadi dimana-mana. Jalan
tol trans Jawa yang ada juga tak mampu menampung jumlah kendaraan yang ada. Tol
yang ada difungsikan oleh pemerintah hanya untuk satu arah (one way).
Pemberlakuan kebijakan one way dijadwalkan pada 30-31 Mei dan 1-2
Juni 2019 untuk perjalanan arus mudik. Artinya, selama empat hari itu, jalan
tol akan dibuka searah dari Cikarang ke arah Brebes. Sebaliknya, pada 7 hingga
10 Juni 2019, jalan tol akan dibuka searah dari Brebes ke arah Cikarang. Jalur
searah alias one way jalan tol mulai dari KM 29 di Cikarang hingga KM
263 di Brebes, Jawa Tengah. Kebijakan tersebut diharapkan bisa memperlancar
arus mudik dari Jakarta menuju sejumlah daerah di Pulau Jawa, seperti
Yogyakarta, Semarang, Solo hingga Surabaya.
Setiap diberlakukan sebuah kebijakan
tentu saja ada plus minusnya. Sayangnya, kebijakan one way tol ini tak
serta-merta disambut gembira seluruh masyarakat. Sebab, tidak semua orang
melakukan mudik dari barat ke timur, ada juga yang melakukan perjalanan
sebaliknya dari sejumlah daerah di Pulau Jawa menuju Jakarta.
Bus-bus yang telah mengantarkan
penumpang ke Jawa dibuang ke jalur pantura. Perjananan bus menjadi terlambat ke
Jakarta . Penumpang yang sudah menunggu di Jakarta harus sabar menanti bus yang
baru mengantarkan penumpang ke Jawa.
Pantura kembali menjadi padat oleh kendaraan yang menuju arah Jakarta.
Meski penulis tak melakukan mudik seperti
mereka yang bekerja di Jakarta namun sensasi mudik sempat dirasakan pula. Ikut iring-iringan
mobil yang kendak ke arah Jakarta. Kepadatan pantura persis sama dengan situasi
jalanan di Jakarta disaat jam-jam kerja. Laju kendaraan hanya 20 Km/jam. Dari
Gebang ke Cirebon yang bisanya hanya 30 menit bisa menjadi 2 jam. Benar-benar
merasakan sensasi mudik.
Media massa baik cetak ataupun elektronik ikut memberitakan mudik 2019.
Berbagai stasiun televisi memberitakan acara live mudik di beberapa titik
kemacetan. Sepertinya suasana seperti ini menjadi berita aktual yang paling
ditunggu pemirsa. Betapa perjuangan untuk bisa lebaran dengan keluarga besar di
kampung halaman menjadi sebuah tradisi yang sepertinya mau tak mau harus
dilaksanakan. Hambar terasa kalau lebaran tidak bisa kumpul dengan keluarga
besar di kampung halaman.
Ditengah berita siaran langsung mudik Idul Fitri 1440 H
sebagai warga net juga tak boleh lengah dari berbagia berita yang masuk. Salah
satu yang membuat heboh adalah berita mudik diantaranya kiriman melalui WA
tentang kecelakaan yang terjadi di tol Pemalang. Dalam sebuah tayangan video
beredar kecelakaan yang melibatkan 8 kendaraan. Dalam video itu juga
disertai tulisan "Toll Pemalang - Tegal dari awal searah tiba-tiba dibikin
2 arah...risikonya begini..., hati-hati dalam mengemudikan mobil bila tiba-tiba
tol diubah jadi 2 arah...".
Kabid
Humas Polda Jateng, Kombes Pol Agus Triatmaja, mengatakan, kecelakaan lalu
lintas terjadi pada Minggu 2 Juni 2019, pukul 16.00 WIB di ruas jalan tol Jasa
Marga Seksi B tepatnya di KM 9 jalur B arah Jakarta, di Tembalang Semarang. Kecelakaan
itu melibatkan delapan kendaraan bermotor.
Peristiwa
bermula saat truk E-9872-E berjalan dari arah selatan (eks Pintu Gerbang
Tembalang) ke arah utara (Jatingaleh). Diduga pengemudi tidak bisa menguasai
kendaraannya hingga menabrak Toyota Rush AA-8937-PB, Sigra A-1163-ZT, Isuzu
Phanter AD-8906-KS yang berjalan searah di depanya. Kemudian menabrak Toyota
Avanza H-8862-MF, Daihatsu Xenia B-1124-BOU, Nissan Livina B-1159-TFV, Toyota
Avanza B-1374-VI yang berjalan dari arah utara (Jatingaleh) ke selatan (eks
Gerbang Tol Tembalang) yang sedang dalam kondisi contraflow atau rekayasa lalu
lintas.
Tak ada
korban jiwa dalam kecelakaan ini namun mereka yang terluka sudah ditangani
pihak rumah sakit. Semoga cepat sembuh dan bisa berlebaran bersama keluarga besar
di kampung halaman masing-masing.
Bisa
berlebaran di kampung halaman menjadi
sebuah perjuangan tersendiri bagi kawan-kawan yang berada diluar kampung
halaman. Setelah berpuasa 1 bulan lamanya datanglah hari kemenangan. Selamat
Idul Fitri 1440 H. Mohon maaf lahir
bathin. (N.K/FD).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar