Mengenai Saya

Foto saya
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Nurdin Kurniawan, S.Pd. Bekerja sebagai PNS disalah satu sekolah di kota Kabupaten Cirebon. Selain sebagai guru aktif menulis di beberapa surat kabar yang ada di cirebon. Diorganisasi PGRI tercatat pula sebagai redaktur majalah Diaelktika, majalah milik PGRI Kab. Cirebon. Tinggal di Gebang yang merupakan Kampung Nelayan yang ada di Cirebon

Sabtu, 15 Juni 2019

Sejenak Tanpa Medsos (artikel)


 Sejenak Tanpa Medsos
Oleh : Nurdin Kurniawan, S.Pd.

            Hari Rabu, 22 Mei 2019 salah seorang teman yang kesehariannya tanpa lepas dari namanya gadget mengeluh Whatsapp yang ia pakai sehari-hari tak ada pesan masuk sama sekali. Dilihat kuotanya masih banyak karena belum lama diisi. Bertanya kesana kemari namun belum menemukan jawaban yang jelas atas apa yang dialami Hpnya. Setelah dilihat HP punya teman juga mengalami hal yang sama sang teman tadi akhirnya  mulai lega karena apa yang dialaminya tak hanya dirinya yang mengalami gangguan di media sosial ternyata teman yang lainnya juga tak beda jauh.
Jelas saja hal ini menjadi ramai diperbincangkan oleh Netizen. Apalagi mengingat bahwa Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah pengguna media sosial terbesar di dunia, yang berbagai aktivitas kesehariannya menyangkut penggunaan media sosial.  Barulah pada sore harinya ada informasi kalau media sosial termasuk Whatsapp, facebook, instagram diblokir oleh pemerintah untuk sementara waktu.
Pemblokiran sementara waktu ini ramai diperbincangkan warga nitizen. Lalu ramai-ramai muncul hastag #WhatsUpdown, #Facebookdown, #Instagramdown yang menjadi tranding topik di berbagai media cetak dan elektronik dalam beberapa hari..
            Sebagai mahluk sosial yang hidup diera gadget tak lepas dari yang namanya HP tentu saja apa yang dilakukan oleh pemerintah membuat banyak orang kecewa. Kecewa karena untuk mendapatkan informasi dan menyebarkan informasi sementara waktu tidak bisa dilakukan dengan leluasa. Apa yang dilakukan oleh pemerintah tak lepas dari banyaknya konten hoaks yang diunggah pengguna media sosial terkait dengan hasil pengumuman KPU tentang siapa pemenang calon presiden dan wakil presiden yang  telah dilaksanakan beberapa hari yang  lalu.
            Pemerintah melakukan pembatasan media sosial bersamaan dengan adanya aksi 22 Mei 2019. Hal tersebut menurut Menteri Komunikasi dan Informatika,  Rudiantara seperti dilansir Detik.com  untuk mencegah viralnya berita negatif terkait aksi 22 Mei di media sosial terutama WhatsApp. Lebih lanjut Rudiantara menjelaskan jika fitur yang tidak diaktifkan untuk sementara yakni pengiriman video dan foto. Hal ini lantaran, lanjut Rudiantara karena  foto dan video lebih cepat viral dan membuat warganet langsung emosi, bahkan tanpa teks.
Rudiantara kembali menegaskan, membatasi fitur pengiriman foto dan video WhatsApp dikarenakan aplikasi ini lebih individu. Pembatasan ini berlaku selama tiga hari dan dilakukan untuk membatasi konten gambar dan video untuk menjaga penyebaran hoaks.
Adanya pembatasan seperti ini tentu saja sangat mengganggu mereka yang dalam kesehariannya tak lepas dari yang namanya media sosial. Sekarang ini ibu-ibu rumahtanggapun sangat terbantu sekali adanya media sosial. Mereka dapat mengiklankan haril produksi rumahtangga melalui media sosial. Hasil produksi rumahan tingggal di foto lalu unggah. Menunggu beberapa saat sambil ada yang memesan. Produk apa saja bisa diiklankan dimedia sosial.
Adanya pembatasan seperti ini tentu sangat merugikan. Apalagi sebagai warga negara yang tahu hak dan kewajiban  merasa kecewa. Dalam Undang Dasar 1945 pasal 28 F.
Pasal 28F berbunyi," Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
Namun demikian mencermati apa yang terjadi di Jakarta pasca pengumukan KPU tentang siapa pemenang pilpres Tahun 2019 apa yang dilakukan oleh pemerintah  bisa diterima juga. Kerusuhan yang terjadi di Jakarta dengan mudah diakses melalui penyebaran media sosial. Kadang berita yang masuk berupa video atau foto tanpa proses edit terlebih dahulu. Gambar yang diterima kadang terlalu vulgar yang membuat orang yang menyaksikannya merasa ngeri. Kalaulah berita itu benar tidak terlalu jadi masalah, yang mengkhawatirkan adalah berita-berita yang tidak benar alias hoaks.
Dua-tiga hari kedepan media sosial akan terasa hambar karena tanpa ada gambar dan foto. Nitizen yang tak lepas dari gadget kini harus sabar sampai menunggu situasi politik dan keamanan di negeri tercinta ini kembali normal.
Itulah penjelasan kenapa Instagram, Facebook, WhatsApp dalam beberapa hari ini dirasakan tidak lancar seperti biasanya. Pertanyaan yang diajukan sang teman kini terjawab sudah. Media sosial seperti Instagram, Facebook, WhatsApp  sebagian messaging system lainnya dirasakan down oleh netizen. Marilah sejenak untuk sementara waktu mengisi waktu dengan hal lain, dalam ketenangan dan rasional. Di Bulan Ramadhan kita isi dengan berbagai kegiatan positif. Semoga kondisi yang menyebabkan para pengguna madia sosial merasa terganggu akibat ketidaklancaran ini bisa dimengerti. Sebagai pengguna media sosial tentunya kita berharap apa yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya bisa kembali normal, situasi menjadi kondusif lagi. Apa yang dilakukan oleh pemerintah bisa dimengerti, lebih mengedepankan persatuan dan kesatuan tetap dalam bingkai NKRI.

                                                                                           *) Redaktur Majalah Dialektika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar