Mengenai Saya

Foto saya
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Nurdin Kurniawan, S.Pd. Bekerja sebagai PNS disalah satu sekolah di kota Kabupaten Cirebon. Selain sebagai guru aktif menulis di beberapa surat kabar yang ada di cirebon. Diorganisasi PGRI tercatat pula sebagai redaktur majalah Diaelktika, majalah milik PGRI Kab. Cirebon. Tinggal di Gebang yang merupakan Kampung Nelayan yang ada di Cirebon

Sabtu, 15 Juni 2019

Para Pahlawan Demokrasi (Fokus Kita)



FOKUS KITA

PARA PAHLAWAN DEMOKRASI

                Pesta demokrasi telah usai. Pesta demokrasi yang terbilang paling lama sepanjang sejarah republik ini berdiri. Digabungnya pemilihan presiden dengan pemilu legislatif membuat jalannnya proses penghitungan siara paling lama dalam sejarah Indonesia. Dibeberapa TPS sampai ada yang dilanjut sampai pagi bahkan dilanjut sampai siang  hari. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana capai dan lelahnya para petugas KPPS yang berada di garda terdepan pesta demokrasi. Demi terciptanya pesta demokrasi yang benar-benar jurdil bebas rahasia mereka mengesampingkan rasa kantuk, lelah, tegang yang berbaur pada saat yang sama.
Tugas yang begitu berat tanpa diimbangi kondisi tubuh yang prima membuat beberapa teman di KPPS roboh. Seperti dilansir CNN Indonesia, jumlah petugas penyelenggara Pemilu 2019 yang meninggal dunia terus bertambah. Data sementara secara keseluruhan petugas yang tewas mencapai 554 orang, baik dari pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) maupun personel Polri.
Anggota KPU Eni Novida Ginting mengatakan pihaknya akan memberikan santunan kepada petugas KPPS yang sakit maupun meninggal. Bagi petugas yang meninggal, KPU memberikan Rp36 juta per orang. Sedangkan untuk petugas KPPS yang mengalami cacat, KPU memberikan bantuan sebesar Rp30,8 juta per orang, luka berat Rp16,5 juta per orang dan luka sedang Rp8,25 juta per orang.
KPU menargetkan verifikasi petugas KPPS yang meninggal dan sakit saat bertugas selama Pemilu 2019 selesai sebelum 22 Mei 2019. Sementara Mabes Polri mencatat anggotanya yang tewas saat mengamankan Pemilu 2019 hingga 29 April 2019 lalu berjumlah 22 orang. Anggota Polri yang meninggal dinilai keletihan karena mengawal proses panjang Pemilu.
                Tugas KPPS  yang begitu berat inilah yang memunculkan istilah baru dengan sebutan “Pahlawan Demokrasi”. Sebutan yang tidak muncul pada pemilu-pemilu sebelumnya. Semoga mereka yang meningggal saat bertugas sebagai KPPS, PPS , PPK  diampuni segala dosanya dan mendapatkan tempat terbaik disisi-Nya.
                Siapapun yang kemudian terpilih baik itu sebagai presiden, wakil prsiden, anggota legislatif ataupun anggota DPD kami ucapkan selamat. Tugas berat tentunya sudah menunggu didepan mata. Implementasikan janji-janji ketika sedang kampanye kemarin dengan bukti yang nyata bukan janji. Kemakmuran rakyatkah yang menjadi prioritas kerja nanti. Rakyat sangat berharap harga sembako murah, anak-anak bisa sekolah dengan mudah tanpa harus dibebani bayar ini dan itu,  listrik terjangkau , BBM murah dan masih bisa menabung buat masa depan.
                Kerja keras para KPPS, PPS, PPK yang kebayakan adalah para guru menjadi sorotan tersendiri Dialektika. Berikut penelusuran Dialektika ke beberapa tempat  menemui para guru yang bertugas sebagai KPPS, PPS dan PPK yang tersebar di beberapa tempat di Kabupaten Cirebon. Seberapa dahsyatnya menjadi KPPS sehingga banyak rekannya yang gugur dalam menjalankan tugas. Berikut ini penuturannya pada Dialektika.


          Ahmad Mawardi, S.Pd., S.Ag.
                Pemilu 2019 kemarin guru yang satu ini bertugas sebagai PPS Desa Kanci Kulon, Kecamatan Astanajapura. Matanya masih terlihat sembab kurang tidur dalam beberapa hari ini. Pada Hari H pemilu sampai subuh masih saja berada di balai desa mengontrol jalannya pemungutan suara.
                Desa Kanci Kulon yang balaidesanya sedang direhab menjadi kendala tersendiri. Penerangan listrik sangat terbatas sehingga ia harus mengeluarkan anggaran tambahan untuk penerangan listrik. Tadinya berfikir kotak suara akan diamankan di rumah karena balai desanya sedang direnovasi dan beberapa ruangan belum dipasang pintu. Namun datang kontrolan dari atas yang membuat beberapa ruangan di desa difungsikan untuk penyimpanan logistik pemilu.
                Dilihat dari rasa capainya sampai sekarang belum juga hilang (wawancara H+3). Honor sangat jauh dari pengorbanan. Harapan dari terselenggaranya pemilu 2019 adalah honor ditambah, informasi pekerjaan dan datangnya logistik jangan mendadak, rapat-rapat di tingkat kecamatan juga jangan dadakan.


Anne Cyintia Dewi, S.Pd.

                Baru pertama kali menjadi anggota KPPS tak menyangka tugasnya akan berakhir pukul 24.40 WIB. Kalau dilihat sekilas tugas KPPS tidaklah terlalu berat, namun...setelah masuk didalamnya  wah berat juga. Anne bertugas di TPS 9 Desa Gebang Kulon, Kecamatan Gebang.
                Kendala pemilu kemarin adalah bawaslu yang sudah diberi salinan C.1 hilang dan minta lagi. Ada saksi yang datang menjelang penghitungan suara selesai.
                Honor KPPS ada yang tersedot keanggaran operasional sebab tarub untuk di TPS dibeli bukan pinjam ataupun sewa. Ada positifnya juga kini tarubnya bisa untuk kegiatan karangtaruna.
                Sebagai anggota KPPS pemula terasa juga capainya, apalagi dalam hal pengisian administrasi. Begitu banyak berita acara yang harus dikerjakan KPPS sehingga banyak memakan waktu. Memang ada bimtek namun  tidak begitu jelas.  Disamping itu juga ingin terutama saksi parpol harus diseleksi, jangan datang  mendekati akhir pemungutan suara. Anggota KPPS yang baru pertamakali menjadi KPPS terkendala dalam hal administrasi.



Nurhalim, S.Pd.I
                Heran juga bisa selesai dengan relatif cepat bila dibanding beberapa rekan yang berada di TPS lain. Di TPS TPS 12 Desa Gebang Kulon alhamdulillah bisa rampung sampai pukul 21.00 WIB.
                Kendala yang dirasakan pada pemilu 2019 adalah banyaknya salinan berta acara yang harus diisi. Bila melihat bendelannya yang begitu tebal seperti tidak percaya kalau itu semua harus diisi. Pihak PPS sebelumnya tidak memberitahu seharusnya berapa yang harus diisi jadi ini sih diisi semua, ternyata hanya  beberapa saja sesuai dengan kebutuhan. Cukup lumayan juga bertele-telenya mengisi berita acara yang banyak dan menjenuhkan.
                Honor KPPS sangat tidak layak dengan beban kerja KPPS, seperti kerja rodi. Ditanya soal kesediannya menjadi KPPS manakala negara membutuhkan? Kepala SMK Muhammadiyah ini dengan tegas menolak. Tak mau menjadi KPPS lagi, kapok!

Anggi  Sugiyono, S.Pd.

                Tugas Anggi Sugiyono, S.Pd. adalah sebagai pengawas di TPS. Mendapat tugas mengawas di TPS 07 Desa Kalimekar, Kecamatan  Gebang. Tak beda jauh dengan KPPS yang masih terasa lelah, tugas sebagai pengawas di TPS juga terasa berat. Baru selesai melaksanakan tugas pukul   05.00 WIB  keesokan harinya.
                Mendapatkan C.1 sebagai bukti bertugas di KPPS cukup lama juga sebab harus menunggu selesainya berita acara yang juga sedang direkap oleh KPPS. Cara pengerjaan yang diselesaikan di akhir membuat pengisian dirasa lama, seharusnya diisi sesuai dengan tahapan. Misalnya berita acara pilpres selesaikan disaat usai penghitungan pilpres usai. Karena semuanya dilakukan diakhir yang membuat pengerjaan masih terus dilakukan.  Yang lain sholat shubuh berjamaah, kami masih saja mengurusi pengisian berita acara sampai akhirnya mendapatkan C.1.
                Menjadi pembelajaran buat semua apalagi tugas sebagai pengawas berat. Kalau 5 tahun berikutnya ditawari jadi pengawas lagi masih pikir-pikir. Terlalu berat tugas sebagai pengawas walau honor pengawas setara dengan ketua KPPS yaitu 550.000. Bahkan masih tinggi honor pengawas karena tanpa dipotong pajak. Jangan ada pemilu seterentak lagi, tak efisien waktu.

Nurdin Kurniawan, S.Pd.
                Sejak reformasi sampai sekarang sudah beberapa kali pemilu baik legislatif maupun eksekutif dimintai bantuannya sebabagi Ketua KPPS. Pilpres Tahun 2019 kemarin sudah menyatakan ingin istirahat sebagai Ketua KPPS namun dari desa  berapa kali datang ke rumah meminta bantuannya sebagai KPPS. Walau sudah menyatakan ingin istirahat tetap saja tugas berat akhirnya  diterima  setelah melihat PPS Desa kesulitan mencari ketua. Kata pihak PPS kalau mencari anggota sih banyak yang mau namun mencari ketua ternyata sulit juga.
                Harus diakui pileg dan pilpres yang disatukan tahun 2019 merupakan pemilihan umum yang paling berat, paling capai dan paling banyak memakan korban jiwa. Proses penghitungan suara baru selesai pukul 01.00 WIB.
                Apa yang menjadi kendala? Besarnya ukuran kertas suara pileg dan DPD membuat masyarakat kesulitan mencari calon yang dia inginkan.  Banyak pula yang tidak hapal siapa yang akan dipilih membuat calon pemilih melihat satu per satu. Disinilah lamanya orang yang ada di bilik suara dalam menentukan pilihan. Bahkan ada manula yang 1/4 jam dibilik suara tanpa mengerti siapa dan apa yang bakal ia coblos.
                Parpol harus disederhanakan lagi seperti dahulu, jangan banyak-banyak. Tokh... banyak parpol yang format dan platformnya sama dengan beberapa partai yang lain. Kenapa tidak merger saja?
                Melihat banyaknya petugas KPPS yang tewas dalam menjalankan tugas rasa-rasanya honor yang 550.000 dipotong pajak tak sesuai dengan pengorbanan anggota KPPS. Kalau petugas KPPS yang tewas mendapatkan santunan, rasa-rasanya  KPPS yang hidup pun selayaknya diberikan ucapan terimakasih bukan sebatas ucapan.
                Cukup sudah sampai tahun 2019 saja sebagai Ketua KPPS. Bila melihat banyaknya korban sepertinya petugas KPPS beresiko lebih besar daripada tentara yang maju ke  medan area perang sekalipun. Tentara masih bisa pulang dengan berkumpul dengan keluarganya, nah...petugas KPPS maut selalu mengintai. Siapa yang masih mau? (N.K./FD).




FOKUS KITA

PARA PAHLAWAN DEMOKRASI

                Pesta demokrasi telah usai. Pesta demokrasi yang terbilang paling lama sepanjang sejarah republik ini berdiri. Digabungnya pemilihan presiden dengan pemilu legislatif membuat jalannnya proses penghitungan siara paling lama dalam sejarah Indonesia. Dibeberapa TPS sampai ada yang dilanjut sampai pagi bahkan dilanjut sampai siang  hari. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana capai dan lelahnya para petugas KPPS yang berada di garda terdepan pesta demokrasi. Demi terciptanya pesta demokrasi yang benar-benar jurdil bebas rahasia mereka mengesampingkan rasa kantuk, lelah, tegang yang berbaur pada saat yang sama.
Tugas yang begitu berat tanpa diimbangi kondisi tubuh yang prima membuat beberapa teman di KPPS roboh. Seperti dilansir CNN Indonesia, jumlah petugas penyelenggara Pemilu 2019 yang meninggal dunia terus bertambah. Data sementara secara keseluruhan petugas yang tewas mencapai 554 orang, baik dari pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) maupun personel Polri.
Anggota KPU Eni Novida Ginting mengatakan pihaknya akan memberikan santunan kepada petugas KPPS yang sakit maupun meninggal. Bagi petugas yang meninggal, KPU memberikan Rp36 juta per orang. Sedangkan untuk petugas KPPS yang mengalami cacat, KPU memberikan bantuan sebesar Rp30,8 juta per orang, luka berat Rp16,5 juta per orang dan luka sedang Rp8,25 juta per orang.
KPU menargetkan verifikasi petugas KPPS yang meninggal dan sakit saat bertugas selama Pemilu 2019 selesai sebelum 22 Mei 2019. Sementara Mabes Polri mencatat anggotanya yang tewas saat mengamankan Pemilu 2019 hingga 29 April 2019 lalu berjumlah 22 orang. Anggota Polri yang meninggal dinilai keletihan karena mengawal proses panjang Pemilu.
                Tugas KPPS  yang begitu berat inilah yang memunculkan istilah baru dengan sebutan “Pahlawan Demokrasi”. Sebutan yang tidak muncul pada pemilu-pemilu sebelumnya. Semoga mereka yang meningggal saat bertugas sebagai KPPS, PPS , PPK  diampuni segala dosanya dan mendapatkan tempat terbaik disisi-Nya.
                Siapapun yang kemudian terpilih baik itu sebagai presiden, wakil prsiden, anggota legislatif ataupun anggota DPD kami ucapkan selamat. Tugas berat tentunya sudah menunggu didepan mata. Implementasikan janji-janji ketika sedang kampanye kemarin dengan bukti yang nyata bukan janji. Kemakmuran rakyatkah yang menjadi prioritas kerja nanti. Rakyat sangat berharap harga sembako murah, anak-anak bisa sekolah dengan mudah tanpa harus dibebani bayar ini dan itu,  listrik terjangkau , BBM murah dan masih bisa menabung buat masa depan.
                Kerja keras para KPPS, PPS, PPK yang kebayakan adalah para guru menjadi sorotan tersendiri Dialektika. Berikut penelusuran Dialektika ke beberapa tempat  menemui para guru yang bertugas sebagai KPPS, PPS dan PPK yang tersebar di beberapa tempat di Kabupaten Cirebon. Seberapa dahsyatnya menjadi KPPS sehingga banyak rekannya yang gugur dalam menjalankan tugas. Berikut ini penuturannya pada Dialektika.


          Ahmad Mawardi, S.Pd., S.Ag.
                Pemilu 2019 kemarin guru yang satu ini bertugas sebagai PPS Desa Kanci Kulon, Kecamatan Astanajapura. Matanya masih terlihat sembab kurang tidur dalam beberapa hari ini. Pada Hari H pemilu sampai subuh masih saja berada di balai desa mengontrol jalannya pemungutan suara.
                Desa Kanci Kulon yang balaidesanya sedang direhab menjadi kendala tersendiri. Penerangan listrik sangat terbatas sehingga ia harus mengeluarkan anggaran tambahan untuk penerangan listrik. Tadinya berfikir kotak suara akan diamankan di rumah karena balai desanya sedang direnovasi dan beberapa ruangan belum dipasang pintu. Namun datang kontrolan dari atas yang membuat beberapa ruangan di desa difungsikan untuk penyimpanan logistik pemilu.
                Dilihat dari rasa capainya sampai sekarang belum juga hilang (wawancara H+3). Honor sangat jauh dari pengorbanan. Harapan dari terselenggaranya pemilu 2019 adalah honor ditambah, informasi pekerjaan dan datangnya logistik jangan mendadak, rapat-rapat di tingkat kecamatan juga jangan dadakan.


Anne Cyintia Dewi, S.Pd.

                Baru pertama kali menjadi anggota KPPS tak menyangka tugasnya akan berakhir pukul 24.40 WIB. Kalau dilihat sekilas tugas KPPS tidaklah terlalu berat, namun...setelah masuk didalamnya  wah berat juga. Anne bertugas di TPS 9 Desa Gebang Kulon, Kecamatan Gebang.
                Kendala pemilu kemarin adalah bawaslu yang sudah diberi salinan C.1 hilang dan minta lagi. Ada saksi yang datang menjelang penghitungan suara selesai.
                Honor KPPS ada yang tersedot keanggaran operasional sebab tarub untuk di TPS dibeli bukan pinjam ataupun sewa. Ada positifnya juga kini tarubnya bisa untuk kegiatan karangtaruna.
                Sebagai anggota KPPS pemula terasa juga capainya, apalagi dalam hal pengisian administrasi. Begitu banyak berita acara yang harus dikerjakan KPPS sehingga banyak memakan waktu. Memang ada bimtek namun  tidak begitu jelas.  Disamping itu juga ingin terutama saksi parpol harus diseleksi, jangan datang  mendekati akhir pemungutan suara. Anggota KPPS yang baru pertamakali menjadi KPPS terkendala dalam hal administrasi.



Nurhalim, S.Pd.I
                Heran juga bisa selesai dengan relatif cepat bila dibanding beberapa rekan yang berada di TPS lain. Di TPS TPS 12 Desa Gebang Kulon alhamdulillah bisa rampung sampai pukul 21.00 WIB.
                Kendala yang dirasakan pada pemilu 2019 adalah banyaknya salinan berta acara yang harus diisi. Bila melihat bendelannya yang begitu tebal seperti tidak percaya kalau itu semua harus diisi. Pihak PPS sebelumnya tidak memberitahu seharusnya berapa yang harus diisi jadi ini sih diisi semua, ternyata hanya  beberapa saja sesuai dengan kebutuhan. Cukup lumayan juga bertele-telenya mengisi berita acara yang banyak dan menjenuhkan.
                Honor KPPS sangat tidak layak dengan beban kerja KPPS, seperti kerja rodi. Ditanya soal kesediannya menjadi KPPS manakala negara membutuhkan? Kepala SMK Muhammadiyah ini dengan tegas menolak. Tak mau menjadi KPPS lagi, kapok!

Anggi  Sugiyono, S.Pd.

                Tugas Anggi Sugiyono, S.Pd. adalah sebagai pengawas di TPS. Mendapat tugas mengawas di TPS 07 Desa Kalimekar, Kecamatan  Gebang. Tak beda jauh dengan KPPS yang masih terasa lelah, tugas sebagai pengawas di TPS juga terasa berat. Baru selesai melaksanakan tugas pukul   05.00 WIB  keesokan harinya.
                Mendapatkan C.1 sebagai bukti bertugas di KPPS cukup lama juga sebab harus menunggu selesainya berita acara yang juga sedang direkap oleh KPPS. Cara pengerjaan yang diselesaikan di akhir membuat pengisian dirasa lama, seharusnya diisi sesuai dengan tahapan. Misalnya berita acara pilpres selesaikan disaat usai penghitungan pilpres usai. Karena semuanya dilakukan diakhir yang membuat pengerjaan masih terus dilakukan.  Yang lain sholat shubuh berjamaah, kami masih saja mengurusi pengisian berita acara sampai akhirnya mendapatkan C.1.
                Menjadi pembelajaran buat semua apalagi tugas sebagai pengawas berat. Kalau 5 tahun berikutnya ditawari jadi pengawas lagi masih pikir-pikir. Terlalu berat tugas sebagai pengawas walau honor pengawas setara dengan ketua KPPS yaitu 550.000. Bahkan masih tinggi honor pengawas karena tanpa dipotong pajak. Jangan ada pemilu seterentak lagi, tak efisien waktu.

Nurdin Kurniawan, S.Pd.
                Sejak reformasi sampai sekarang sudah beberapa kali pemilu baik legislatif maupun eksekutif dimintai bantuannya sebabagi Ketua KPPS. Pilpres Tahun 2019 kemarin sudah menyatakan ingin istirahat sebagai Ketua KPPS namun dari desa  berapa kali datang ke rumah meminta bantuannya sebagai KPPS. Walau sudah menyatakan ingin istirahat tetap saja tugas berat akhirnya  diterima  setelah melihat PPS Desa kesulitan mencari ketua. Kata pihak PPS kalau mencari anggota sih banyak yang mau namun mencari ketua ternyata sulit juga.
                Harus diakui pileg dan pilpres yang disatukan tahun 2019 merupakan pemilihan umum yang paling berat, paling capai dan paling banyak memakan korban jiwa. Proses penghitungan suara baru selesai pukul 01.00 WIB.
                Apa yang menjadi kendala? Besarnya ukuran kertas suara pileg dan DPD membuat masyarakat kesulitan mencari calon yang dia inginkan.  Banyak pula yang tidak hapal siapa yang akan dipilih membuat calon pemilih melihat satu per satu. Disinilah lamanya orang yang ada di bilik suara dalam menentukan pilihan. Bahkan ada manula yang 1/4 jam dibilik suara tanpa mengerti siapa dan apa yang bakal ia coblos.
                Parpol harus disederhanakan lagi seperti dahulu, jangan banyak-banyak. Tokh... banyak parpol yang format dan platformnya sama dengan beberapa partai yang lain. Kenapa tidak merger saja?
                Melihat banyaknya petugas KPPS yang tewas dalam menjalankan tugas rasa-rasanya honor yang 550.000 dipotong pajak tak sesuai dengan pengorbanan anggota KPPS. Kalau petugas KPPS yang tewas mendapatkan santunan, rasa-rasanya  KPPS yang hidup pun selayaknya diberikan ucapan terimakasih bukan sebatas ucapan.
                Cukup sudah sampai tahun 2019 saja sebagai Ketua KPPS. Bila melihat banyaknya korban sepertinya petugas KPPS beresiko lebih besar daripada tentara yang maju ke  medan area perang sekalipun. Tentara masih bisa pulang dengan berkumpul dengan keluarganya, nah...petugas KPPS maut selalu mengintai. Siapa yang masih mau? (N.K./FD).




Tidak ada komentar:

Posting Komentar