Mengenai Saya

Foto saya
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Nurdin Kurniawan, S.Pd. Bekerja sebagai PNS disalah satu sekolah di kota Kabupaten Cirebon. Selain sebagai guru aktif menulis di beberapa surat kabar yang ada di cirebon. Diorganisasi PGRI tercatat pula sebagai redaktur majalah Diaelktika, majalah milik PGRI Kab. Cirebon. Tinggal di Gebang yang merupakan Kampung Nelayan yang ada di Cirebon

Sabtu, 15 Juni 2019

Pesta Giling Pabrik Gula Redup Ditelan Waktu (Artikel)


Artikel
  PESTA GILING PABRIK GULA
 Redup Ditelan Waktu
Oleh : Nurdin Kurniawan, S.Pd.


Nusantara pernah berjaya dikomoditas yang mempunyai ciri rasa manis, dulu  ketika negeri ini masih dibawah kolonial Belanda. Ya, itulah tanaman tebu. Seiring berjalannya waktu tebu bukanlah  komoditas yang diunggulkan lagi. Nama Indonesia  makin tak terdengar dengan manisnya tebu ketika masih dibawah kolonial Belanda.  Dulu nama Hindia Belanda adalah daerah penghasil gula terbesar didunia mengalahkan Kuba saat itu. Kini kondisinya berbalik. Indonesia kini malah mengimpor gula pasir.
Lebih sedih lagi dengan kebijakan pemerintah yang mengimpor gula rafinasi. Gula milik petani tebu menumpuk digudang-gudang pabrik gula. Salah seorang anggota DPR untuk daerah pemilihan Jawa Tengah ketika ditangkap KPK dengan barang bukti uang yang sudah dimasukkan dalam amplop untuk serangan fajar dalam Pileg ternyata uangnya adalah hasil bagi-bagi Mendag untuk mengamankan kebijakan tentang impor gula rafinasi.
Di Kabupaten Cirebon sendiri kini hanya tersisa 2 Pabrik Gula (PG) yang masih beroperasi yaitu PG. Tersana Baru, PG. Sindang Laut. Terakhir PG Karangsuwung berhenti beroperasi. Kedua pabrik gula tersebut adalah pabrik tua yang dibangun pada jaman penjajahan Belanda. Sudah bisa dibayangkan bangunan tua yang tersisa yang kini masih dipaksakan untuk kokoh berdiri.
Ada ritual yang berlangsung disaat yang hampir bersamaan dengan acara pesta giling pabrik gula. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan Ritual Pengantin Tebu. Bagi masyarakat Babakan Kecamatan Babakan dan sekitarnya dimana terdapat PG Tersana Baru menyebutnya dengan istilah babancakan. Suatu tradisi dalam rangka menyambut pesta giling pabrik gula.
 Sepanjang jalan menuju lokasi Pabrik Gula (PG) dipenuhi dengan pedagang kali lima. Di lapangan penuh dengan aneka permainan buat anak-anak seperti ombak banyu, kumidi putar, kereta api mini, tong setan, mandi bola, trampolin dan wahana bermain lainnya. Mereka mencari peruntungan di arena pabrik gula yang akan melaksanakan giling .
            Pengantin Tebu
            Tradisi pengantin tebu sudah berjalan sejak lama seiring dengan  usia pabrik gula itu sendiri. Di beberapa pabrik gula upacara adat pengantin tebu beda-beda sebutannya. Di pabrik gula yang ada diwilayah Kabupaten Cirebon seperti PG. Tersana Baru, PG. Karang Suwung dan PG. Sindang Laut dikenal dengan istilah babancakan. Di PG. Jatiwangi dan PG. Kadipaten (sudah tidak beroperasi lagi) yang ada di Kabupaten Majalengka  disebut dengan istilah badirian. Di PG. Madukismo- Bantul Prop. DIY disebut dengan istilah cambengan.
            Tradisi ini bermula dari pemanenan tebu untuk yang pertama kali yang merupakan tebu-tebu  pilihan. Sebelum proses penebangan diadakan upacara ritual tertentu. Tebu yang akan dijadikan pengantin tebu bukan sembarangan tebu tetapi dipilih tebu-tebu yang bagus. Sebelum dipotong/ dicabut dibacakan kidung-kidung yang intinya ucapan terimakasih para petani tebu kepada Yang Maha Kuasa dengan hasil tebu yang melimpah dan yang kedua  mohon izin tebu-tebu ini akan dipotong yang selanjutnya akan digiling di pabrik gula.
            Tebu-tebu itu selanjutnya dibawa ke suatu tempat untuk dihias. Tebu-tebu pilihan itu itu  disebut dengan tebu indung.  Dari beberapa tebu indung diambil 2  yang dianggap mewakili tebu lanang (jantan) dan tebu wadon (betina) . Tebu lanang dihiasi boneka pengantin laki-laki dan tebu wadon diahiasi boneka  pengantin perempuan. Kedua tebu inilah yang disebut dengan pengantin tebu seperti pada prosesi pengantin tebu di PG. Sindang Laut. Ada pula yang menggunakan sepasang pengantin manusia asli seperti yang dilakukan di PG. Tersana Baru.
Tradisi dari tahun ke tahun kadang suka terdapat perbedaan. Kadang yang menjadi pengantin tebunya adalah boneka laki-laki dan perempuan dihias ditempelkan di tebu indung. Ada pula yang menjadi pengantin tebunya adalah sepasang muda–mudi yang sengaja dirias sebagai pengantin. Dibelakangnya diiring oleh tebu-tebu indung yang sudah dihias dengan aneka macam kertas berwarna-warni  diarak menuju tempat-tempat yang rutenya telah ditentukan.
            Menurut budayawan  dari Cirebon Timur Bapak Sodikin SS., pria kelahiran Cirebon,  11 Desember 1945 yang sering menangani upacara adat pengantin tebu di PG. Tersana Baru mengatakan upacara adat  pegantin tebu dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Seperti dicontohkan di PG Tersana Baru tebu indungnya berjumlah 22 . Makna angka 22 ini diambil dari 22 kelompok petani tebu yang menggilingkan  tebunya ke PG. Tersana Baru. Satu kelompok tabu diwakili 1 batang tebu yang dibawa oleh orang-orang  yang berperawakan tegap dengan mengenakan pakaian yang serba hitam (pakaian yang sering dikenakan para jawara tempo dulu).
            Dibelakang iring-iringan penganten tebu bisanya diikuti pula oleh iring-iringan berbagai kesenian tradisional seperti burok, sisingaan dan juga drumn band . Anak-anak skolah dilibatkan dalam hal ini  SDN Tersana Baru yang kebetulan dekat sekali dengan PG. Tersana Baru yang ikut menampilkan marching band. Ikut dalam iring-iringan pula unsur Tripika, Bupati bahkan pejabat yang ada diatasnya. Iring-iringan yang sangat panjang dan ramai sehingga pada hari itu jalan ditutup untuk memberikan kesempatan pada ritual penganten tebu.
            Itulah prosesi pengantin tebu yang menandai pesta giling pabrik gula. Beda dulu beda pula dengan sekarang. Masa keemasan pabrik gula hanya tinggal kenangan. Bangunan-bangunan jaman peninggalan Belanda yang dahuu kokoh kini hanya seonggok bangunan tua yang renta menunggu roboh. Komplek pegawai jaman Belanda yang dahulu merupakan rumah dinas yang paling bagus dijamannya kini renta seperti bangunan tempat uka-uka. Beberapa diantaranya bahkan dibiarkan roboh tanpa ada anggaran rehab yang memadai. Kejayaan gula Nusantara yang mendunia sudah mulai bergeser.
            Tradisi babancakan (ada yang menyebutnya dengan bancakan)  pada pesta giling di setiap pabrik gula peninggalan kolonial Belanda yang ada di Cirebon  mulai ditinggalkan kalangan milenial. Pesta giling pabrik gula yang dahulu sebagai arena hiburan rakyat kini mulai ditinggalkan kalangan milenial. Dahulu orang berbondong-bondong bahkan ada dari Kuningan yang hanya sekedar ingin melihat pesta babancakan. Kini babancakan hanya  tinggal cerita. Daya tariknya sudah kalah dengan berdirinya mall-mall yang hampir ada di kota-kota sekitar berdirinya pabrik gula. Hiburan rakyat yang dahulu sangat didambakan kehadirannya mulai bergeser. Kalangan milenial kalau ditanya kenapa tidak kebabancakan lagi? “Maaf ...panas...desak-desakan bau keringat. Enak di mall yang adem dan bisa cuci mata”.
            Namun sayang sekali seiring berjalannya waktu ritual seperti pegantin tebu gemanya tidak seramai dulu lagi. Anak-anak muda sekarang sudah terbiasa dengan hiburan-hiburan di Mal ataupun supermarket. Acara tradisional seperti Pengantin Tebu seperti sudah kehilangan makna. Acara setahun sekali ini hanya disaksikan oleh masyarakat sekitarnya saja yang ada kaitannya dengan pabrik gula. Diluar itu masyarakat seperti tidak peduli apakah ada pengantin tebu atau tidak tak akan berpengaruh banyak.
            Pedagang kali lima yang banyak berjualan disekitar areal pabrik gula juga penghasilanya tidak sebagus dulu. Bahkan pada pesta giling tahun 2019 ada beberapa pedagang kaki lima yang sudah pulang sebelum acara pengantin tebu digelar. Pada pesta giling kali ini dipotong oleh bulan puasa jadi para pedagang yang sudah lama berjualan di stand yang ada sepanjang jalan sekitar pabrik gula sudah rindu kampung halaman. Mereka mulai membongkar sendiri lapak dagangannya walaupun belum dimulai prosesi pengantin tebu.
            Pesta giling pabrik gula kini redup ditelan waktu. Entah sampai kapan ritual yang seperti ini masih bisa bertahan. Sarana hiburan rakyat yang mulai memudar seiring berjalannya waktu. Pabrik Gula yang adapun makin renta dimakan usia. Masa keemasan pabrik gula dengan  gula petani lokal hanya sebuah cerita. Hanya jaman yang akan bicara masihkan ritual yang dulu sangat dinanti-nanti masyarakat sekitar masih bisa dilihat?  Akankah kita masih menyaksikan  pabrik gula yang yang masih ada seperti PG. Tersana Baru dan PG. Sindang Laut masih beroperasi lagi? Sebuah herapan tentunya jika Indonesia masih bisa menikmati manisnya gula hasil petani sendiri.


                                                                                                                 *) Redaktur Dialektika
                                                                      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar