Artikel
PESTA GILING PABRIK
GULA
Redup Ditelan Waktu
Oleh : Nurdin Kurniawan, S.Pd.

Nusantara
pernah berjaya dikomoditas yang mempunyai ciri rasa manis, dulu ketika negeri ini masih dibawah kolonial Belanda.
Ya, itulah tanaman tebu. Seiring berjalannya waktu tebu bukanlah komoditas yang diunggulkan lagi. Nama
Indonesia makin tak terdengar dengan
manisnya tebu ketika masih dibawah kolonial Belanda. Dulu nama Hindia Belanda adalah daerah penghasil
gula terbesar didunia mengalahkan Kuba saat itu. Kini kondisinya berbalik.
Indonesia kini malah mengimpor gula pasir.
Lebih sedih lagi dengan kebijakan pemerintah yang mengimpor gula rafinasi.
Gula milik petani tebu menumpuk digudang-gudang pabrik gula. Salah seorang
anggota DPR untuk daerah pemilihan Jawa Tengah ketika ditangkap KPK dengan
barang bukti uang yang sudah dimasukkan dalam amplop untuk serangan fajar dalam
Pileg ternyata uangnya adalah hasil bagi-bagi Mendag untuk mengamankan
kebijakan tentang impor gula rafinasi.
Di
Kabupaten Cirebon sendiri kini hanya tersisa 2
Pabrik Gula (PG) yang masih beroperasi yaitu PG. Tersana Baru, PG. Sindang
Laut. Terakhir PG Karangsuwung berhenti beroperasi. Kedua pabrik
gula tersebut adalah pabrik tua yang dibangun pada jaman penjajahan Belanda.
Sudah bisa dibayangkan bangunan tua yang tersisa yang kini masih dipaksakan untuk kokoh berdiri.
Ada
ritual yang berlangsung disaat yang hampir bersamaan dengan acara pesta giling
pabrik gula. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan Ritual Pengantin Tebu. Bagi masyarakat Babakan Kecamatan Babakan dan sekitarnya dimana terdapat
PG Tersana Baru menyebutnya dengan istilah babancakan.
Suatu tradisi dalam rangka menyambut pesta giling pabrik gula.
Sepanjang jalan menuju lokasi Pabrik Gula (PG)
dipenuhi dengan pedagang kali lima. Di lapangan penuh dengan aneka permainan
buat anak-anak seperti ombak banyu, kumidi putar, kereta api mini, tong setan,
mandi bola, trampolin dan wahana bermain lainnya. Mereka
mencari peruntungan di arena pabrik gula yang akan melaksanakan giling .
Pengantin
Tebu
Tradisi
pengantin tebu sudah berjalan sejak lama seiring dengan usia pabrik gula itu sendiri. Di beberapa
pabrik gula upacara adat pengantin tebu beda-beda sebutannya. Di pabrik gula
yang ada diwilayah Kabupaten Cirebon seperti PG. Tersana Baru, PG. Karang
Suwung dan PG. Sindang Laut dikenal dengan istilah babancakan. Di PG. Jatiwangi dan PG. Kadipaten (sudah tidak
beroperasi lagi) yang ada di Kabupaten Majalengka disebut dengan istilah badirian. Di PG. Madukismo- Bantul Prop. DIY disebut dengan istilah
cambengan.
Tradisi ini
bermula dari pemanenan tebu untuk yang pertama kali yang merupakan tebu-tebu pilihan. Sebelum proses penebangan diadakan
upacara ritual tertentu. Tebu yang akan dijadikan pengantin tebu bukan
sembarangan tebu tetapi dipilih tebu-tebu yang bagus. Sebelum dipotong/ dicabut
dibacakan kidung-kidung yang intinya ucapan terimakasih para petani tebu kepada
Yang Maha Kuasa dengan hasil tebu yang melimpah dan yang kedua mohon izin tebu-tebu ini akan dipotong yang
selanjutnya akan digiling di pabrik gula.
Tebu-tebu itu selanjutnya dibawa ke
suatu tempat untuk dihias. Tebu-tebu pilihan itu itu disebut dengan tebu indung. Dari beberapa tebu
indung diambil 2 yang dianggap mewakili tebu lanang (jantan) dan tebu wadon (betina) . Tebu lanang dihiasi boneka pengantin
laki-laki dan tebu wadon diahiasi
boneka pengantin perempuan. Kedua tebu
inilah yang disebut dengan pengantin tebu seperti pada prosesi pengantin tebu
di PG. Sindang Laut. Ada pula yang menggunakan sepasang pengantin manusia asli
seperti yang dilakukan di PG. Tersana Baru.
Tradisi
dari tahun ke tahun kadang suka terdapat perbedaan. Kadang yang menjadi
pengantin tebunya adalah boneka laki-laki dan perempuan dihias ditempelkan di
tebu indung. Ada pula yang menjadi pengantin tebunya
adalah sepasang muda–mudi yang sengaja dirias
sebagai pengantin. Dibelakangnya diiring oleh tebu-tebu indung yang sudah
dihias dengan aneka macam kertas berwarna-warni
diarak menuju tempat-tempat yang rutenya telah ditentukan.
Menurut budayawan dari Cirebon Timur Bapak Sodikin SS., pria
kelahiran Cirebon, 11 Desember 1945 yang
sering menangani upacara adat pengantin tebu di PG. Tersana Baru mengatakan
upacara adat pegantin tebu dapat
disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Seperti dicontohkan di PG Tersana Baru tebu
indungnya berjumlah 22 . Makna angka 22 ini diambil dari 22 kelompok petani
tebu yang menggilingkan tebunya ke PG.
Tersana Baru. Satu kelompok tabu diwakili 1 batang tebu yang dibawa oleh
orang-orang yang berperawakan tegap
dengan mengenakan pakaian yang serba hitam (pakaian yang sering dikenakan para
jawara tempo dulu).
Dibelakang iring-iringan penganten
tebu bisanya diikuti pula oleh iring-iringan berbagai kesenian tradisional
seperti burok, sisingaan dan juga drumn
band . Anak-anak skolah dilibatkan dalam hal ini SDN Tersana Baru yang kebetulan dekat sekali
dengan PG. Tersana Baru yang ikut menampilkan marching band.
Ikut dalam iring-iringan pula unsur Tripika, Bupati bahkan pejabat yang ada
diatasnya. Iring-iringan yang sangat panjang dan ramai sehingga pada hari itu
jalan ditutup untuk memberikan kesempatan pada ritual penganten tebu.
Itulah prosesi pengantin tebu yang
menandai pesta giling pabrik gula. Beda dulu beda pula dengan sekarang. Masa
keemasan pabrik gula hanya tinggal kenangan. Bangunan-bangunan jaman peninggalan
Belanda yang dahuu kokoh kini hanya seonggok bangunan tua yang renta menunggu
roboh. Komplek pegawai jaman Belanda yang dahulu merupakan rumah dinas yang
paling bagus dijamannya kini renta seperti bangunan tempat uka-uka. Beberapa
diantaranya bahkan dibiarkan roboh tanpa ada anggaran rehab yang memadai.
Kejayaan gula Nusantara yang mendunia sudah mulai bergeser.
Tradisi babancakan (ada yang menyebutnya dengan bancakan) pada pesta giling di setiap pabrik gula
peninggalan kolonial Belanda yang ada di Cirebon mulai ditinggalkan kalangan milenial. Pesta
giling pabrik gula yang dahulu sebagai arena hiburan rakyat kini mulai
ditinggalkan kalangan milenial. Dahulu orang berbondong-bondong bahkan ada dari
Kuningan yang hanya sekedar ingin melihat pesta babancakan. Kini babancakan
hanya tinggal cerita. Daya tariknya
sudah kalah dengan berdirinya mall-mall yang hampir ada di kota-kota sekitar
berdirinya pabrik gula. Hiburan rakyat yang dahulu sangat didambakan
kehadirannya mulai bergeser. Kalangan milenial kalau ditanya kenapa tidak
kebabancakan lagi? “Maaf ...panas...desak-desakan bau keringat. Enak di mall
yang adem dan bisa cuci mata”.
Namun sayang
sekali seiring berjalannya waktu ritual seperti pegantin
tebu gemanya tidak seramai dulu lagi.
Anak-anak muda sekarang sudah terbiasa dengan hiburan-hiburan di Mal ataupun
supermarket. Acara tradisional seperti Pengantin Tebu seperti sudah kehilangan
makna. Acara setahun sekali ini hanya disaksikan oleh masyarakat sekitarnya
saja yang ada kaitannya dengan pabrik gula.
Diluar itu masyarakat seperti tidak peduli apakah ada pengantin
tebu atau tidak tak akan berpengaruh
banyak.
Pedagang kali lima yang banyak
berjualan disekitar areal pabrik gula
juga penghasilanya tidak sebagus dulu. Bahkan pada pesta giling tahun 2019
ada beberapa pedagang kaki lima yang sudah pulang sebelum acara pengantin
tebu digelar. Pada pesta giling kali ini dipotong oleh bulan puasa jadi para pedagang
yang sudah lama berjualan di stand yang ada sepanjang jalan sekitar pabrik gula
sudah rindu kampung halaman. Mereka mulai membongkar sendiri lapak dagangannya
walaupun belum dimulai prosesi pengantin tebu.
Pesta giling pabrik
gula kini
redup ditelan waktu. Entah sampai kapan ritual yang seperti ini masih bisa bertahan.
Sarana hiburan rakyat yang mulai memudar seiring
berjalannya waktu. Pabrik Gula yang adapun makin renta dimakan usia. Masa keemasan pabrik gula dengan
gula petani lokal hanya sebuah cerita. Hanya jaman yang
akan bicara masihkan ritual yang dulu sangat dinanti-nanti masyarakat
sekitar masih bisa dilihat? Akankah kita
masih menyaksikan pabrik
gula yang yang masih ada seperti PG. Tersana Baru dan PG. Sindang Laut masih
beroperasi lagi? Sebuah herapan tentunya jika Indonesia masih bisa menikmati
manisnya gula hasil petani sendiri.
*) Redaktur Dialektika

Tidak ada komentar:
Posting Komentar