Opini Didaktika
TRADISI MUDIK
Oleh
: Nurdin Kurniawan, S.Pd. *)

Kata mudik sudah tak asing lagi bagi kita yang
masih punya kampung halaman. Ada satu tradisi yang ada di Indonesia berkenaan
dengan pulang kampung atau mudik. Mudik itu sendiri menurut
Wikipedia diartikan sebagai kegiatan perantau atau pekerja migran untuk
kembali ke kampung halamannya.
Namun ternyata kata mudik ini sebenarnya merupakan singkatan yang berasal
dari Bahasa Jawa Ngoko. Kata mudik merupakan singkatan dari 'mulih dilik' yang
artinya adalah pulang sebentar.
Jadi
sebenarnya kata mudik ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Lebaran.
Salah satu keunikan yang ada di Indonesia adalah
tradisi mudik yang terjadi setiap menjelang lebaran / Idul Fitri. Mudik bagi
masyarakat Indonesia merupakan moment yang paling ditunggu-tunggu, bahkan konon
banyak masyarakat non muslim di Indonesia yang ikut merayakan tradisi mudik
dengan pulang ke kampung halamannya saat menjelang lebaran.
Namun istilah mudik lebaran baru berkembang sekitar tahun 1970-an. Saat itu
Jakarta sebagai ibukota Indonesia tampil menjadi satu-satunya kota di Indonesia
yang mengalami perkembangan pesat. Saat itu sistem pemerintahan Indonesia tersentral
di sana dan ibukota negara melesat dengan berbagai kemajuannya dibandingkan
kota-kota lain di Tanah Air.
Bagi penduduk lain yang berdomisili di desa, Jakarta menjadi salah satu
kota tujuan impian untuk mereka mengubah nasib. Waktu itu belum seperti
sekarang banyak yang mencari pekerjaan di luar negeri sebagai TKI atau TKW. Lebih
dari 80 persen para urbanis datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.
Mereka yang sudah mendapatkan pekerjaan biasanya hanya mendapatkan libur
panjang pada saat lebaran saja. Momentum inilah yang dimanfaatkan untuk kembali
ke kampung halaman.
Hal ini terus berlanjut dan semakin berakar ketika banyak urbanis yang
mencoba peruntungannya di kota. Tidak hanya di Jakarta, tradisi perpindahan
penduduk dari desa ke kota juga terjadi di ibukota provinsi lainnya di
Indonesia. Terlebih dengan diterapkan otonomi daerah pada tahun 2000, maka
orang semakin banyak mencari peruntungan di kota-kota besar bukan hanya Jakarta.
Ternyata mudik punya sensasi tersendiri bagi yang pernah merasakannnya. Penulis
yag pernah bermukim di Jakarta merasakan suasana yang berbeda bila menjelang mudik. Tahun 1990
belum banyak transportasi on line seperti sekarang ini. Rental mobilpun belumlah
menjamur seperti sekarang. Pilihan satu-satunya bila hendak mudik adalah
transportasi umum baik darat, laut atau udara.
Berdesak-desakan untuk bisa mendapatkan tempat duduk di bus. Kadang harga
tiket antara di bawah dengan ketika didalam bus berbeda. Kalau tidak
sabar-sabar sekali bisa bertengkar dengan kondektur atau calo. Ada yang tidak
kebagian tempat duduk namun tetap naik bus yang sudah padat. Mereka yang berdiri hanya bisa pasrah yang penting bisa ke
kampung halaman dengan selamat. Jakarta – Cirebon menggunakan bus Luragung bisa
ditempuh hanya dengan 4 jam. Waktu itu belum ada Tol Cipali. Maka terkenalah
beberapa perusahaan Oto Bus (PO) yang
terkenal cepat dan tepat waktu seperti Luragung Jaya, Setianegara, Sahabat.
Masih ada satu alternatif yang bisa menjadi pilihan transportasi saat
mudik, yakni naik kendaraan roda dua alias motor. Sebenarnya mudik dengan
menggunakan kendaraan roda dua sangat berbahaya, tapi hampir setiap tahun pasti
semakin banyak saja yang mudik dengan kendaraan roda dua. Bahkan tak jarang
kita lihat, ada yang mudik membawa anak masih kecil dengan menggunakan roda
dua, itu pun juga dengan membawa banyak barang-barang.
Coba bayangkan saja, berjam-jam naik motor tentu sangat melelahkan. Belum
lagi panas dan hujan yang bisa saja datang tiba-tiba tanpa permisi. Apalagi
kalau sampai bawa anak kecil, binatang kesayangan dan oleh-oleh dengan begitu
banyak kardus dan tas.
Mudik naik motor tentu sangat tidak disarankan, tapi dengan dalih
kepraktisan, bisa menembus macet dan juga lebih terjangkau dari segi biaya,
banyak orang akhirnya memilih pulang kampung menggunakan kendaraan roda dua. Mereka
yang pernah (atau malah sudah biasa)
mudik naik motor, stamina dan kondisi fisik jadi hal utama yang wajib diperhatikan.
Selain itu, pastikan untuk tidak membawa
beban terlalu berat. Selain tidak nyaman, tentunya sangat membahayakan.
Ya sebenarnya mudik menggunakan transportasi apa saja tetap
butuh perjuangan.
Mudik dengan pesawat perjuangan di ongkos yang mahal. Mudik dengan kereta, perjuangan untuk mendapatkan tiketnya. Mudik dengan bus atau mobil rental, perjuangan macetnya.
Mudik dengan kendaraan roda dua, perjuangan capek nya, dan juga siap-siap kena hujan dan panas.
Mudik dengan pesawat perjuangan di ongkos yang mahal. Mudik dengan kereta, perjuangan untuk mendapatkan tiketnya. Mudik dengan bus atau mobil rental, perjuangan macetnya.
Mudik dengan kendaraan roda dua, perjuangan capek nya, dan juga siap-siap kena hujan dan panas.
Itulah sisi unik dari yang namanya
mudik. Masyarakat memang tidak bisa meninggalkan
tradisi mudik ini. Ada hal-hal yang membuat perantau wajib melaksanakan pulang
kampung. Pertama mudik menjadi jalan untuk mencari berkah karena bisa
bersilaturahmi dengan keluarga, kerabat dan tetangga. Kegiatan ini juga menjadi
pengingat asal usul daerah bagi mereka yang merantau.
Tradisi mudik bagi
perantau di ibu kota juga bertujuan menunjukkan eksistensi keberhasilannya.
Selain itu, juga ajang berbagi rejeki kepada sanak saudara yang telah lama
ditinggal untuk ikut merasakan keberhasilannya dalam merantau. Mudik juga
menjadi terapi psikologis memanfaatkan libur lebaran untuk berwisata setelah
setahun sibuk dalam rutinitas pekerjaan sehingga saat masuk kerja kembali
memiliki semangat baru.
Selamat bermudik ria,
jaga kesehatan dan keselamatan. Di kampung bersilaturahmi dengan keluarga,
saudara, tetangga. Selamat Idul Fitri 1439 H mohon maaf lahir dan bathin.
*)
Redaktur Liputan Dialektika

Tidak ada komentar:
Posting Komentar