Mengenai Saya

Foto saya
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Nurdin Kurniawan, S.Pd. Bekerja sebagai PNS disalah satu sekolah di kota Kabupaten Cirebon. Selain sebagai guru aktif menulis di beberapa surat kabar yang ada di cirebon. Diorganisasi PGRI tercatat pula sebagai redaktur majalah Diaelktika, majalah milik PGRI Kab. Cirebon. Tinggal di Gebang yang merupakan Kampung Nelayan yang ada di Cirebon

Sabtu, 15 Juni 2019

TRADISI MUDIK (Artikel)


Opini Didaktika

TRADISI   MUDIK
Oleh : Nurdin Kurniawan, S.Pd. *)


            Kata  mudik sudah tak asing lagi bagi kita yang masih punya kampung halaman. Ada satu tradisi yang ada di Indonesia berkenaan dengan pulang kampung atau mudik. Mudik itu sendiri  menurut  Wikipedia diartikan sebagai kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya.
Namun ternyata kata mudik ini sebenarnya merupakan singkatan yang berasal dari Bahasa Jawa Ngoko. Kata mudik merupakan singkatan dari 'mulih dilik' yang artinya adalah pulang sebentar.
Jadi sebenarnya kata mudik ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Lebaran.
Salah satu keunikan yang ada di Indonesia adalah tradisi mudik yang terjadi setiap menjelang lebaran / Idul Fitri. Mudik bagi masyarakat Indonesia merupakan moment yang paling ditunggu-tunggu, bahkan konon banyak masyarakat non muslim di Indonesia yang ikut merayakan tradisi mudik dengan pulang ke kampung halamannya saat menjelang lebaran.
Namun istilah mudik lebaran baru berkembang sekitar tahun 1970-an. Saat itu Jakarta sebagai ibukota Indonesia tampil menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang mengalami perkembangan pesat. Saat itu sistem pemerintahan Indonesia tersentral di sana dan ibukota negara melesat dengan berbagai kemajuannya dibandingkan kota-kota lain di Tanah Air.
Bagi penduduk lain yang berdomisili di desa, Jakarta menjadi salah satu kota tujuan impian untuk mereka mengubah nasib. Waktu itu belum seperti sekarang banyak yang mencari pekerjaan di luar negeri sebagai TKI atau TKW. Lebih dari 80 persen para urbanis datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.  Mereka yang sudah mendapatkan pekerjaan biasanya hanya mendapatkan libur panjang pada saat lebaran saja. Momentum inilah yang dimanfaatkan untuk kembali ke kampung halaman.
Hal ini terus berlanjut dan semakin berakar ketika banyak urbanis yang mencoba peruntungannya di kota. Tidak hanya di Jakarta, tradisi perpindahan penduduk dari desa ke kota juga terjadi di ibukota provinsi lainnya di Indonesia. Terlebih dengan diterapkan otonomi daerah pada tahun 2000, maka orang semakin banyak mencari peruntungan di kota-kota besar bukan hanya Jakarta.
Ternyata mudik punya sensasi tersendiri bagi yang pernah merasakannnya. Penulis yag pernah bermukim di Jakarta merasakan suasana yang  berbeda bila menjelang mudik. Tahun 1990 belum banyak transportasi on line seperti sekarang ini. Rental mobilpun belumlah menjamur seperti sekarang. Pilihan satu-satunya bila hendak mudik adalah transportasi umum baik darat, laut atau udara.
Berdesak-desakan untuk bisa mendapatkan tempat duduk di bus. Kadang harga tiket antara di bawah dengan ketika didalam bus berbeda. Kalau tidak sabar-sabar sekali bisa bertengkar dengan kondektur atau calo. Ada yang tidak kebagian tempat duduk namun tetap naik bus yang sudah padat. Mereka yang berdiri  hanya bisa pasrah yang penting bisa ke kampung halaman dengan selamat. Jakarta – Cirebon menggunakan bus Luragung bisa ditempuh hanya dengan 4 jam. Waktu itu belum ada Tol Cipali. Maka terkenalah beberapa perusahaan Oto Bus (PO)  yang terkenal cepat dan tepat waktu seperti Luragung Jaya, Setianegara, Sahabat.
Masih ada satu alternatif yang bisa menjadi pilihan transportasi saat mudik, yakni naik kendaraan roda dua alias motor. Sebenarnya mudik dengan menggunakan kendaraan roda dua sangat berbahaya, tapi hampir setiap tahun pasti semakin banyak saja yang mudik dengan kendaraan roda dua. Bahkan tak jarang kita lihat, ada yang mudik membawa anak masih kecil dengan menggunakan roda dua, itu pun juga dengan membawa banyak barang-barang.
Coba bayangkan saja, berjam-jam naik motor tentu sangat melelahkan. Belum lagi panas dan hujan yang bisa saja datang tiba-tiba tanpa permisi. Apalagi kalau sampai bawa anak kecil, binatang kesayangan dan oleh-oleh dengan begitu banyak kardus dan tas.
Mudik naik motor tentu sangat tidak disarankan, tapi dengan dalih kepraktisan, bisa menembus macet dan juga lebih terjangkau dari segi biaya, banyak orang akhirnya memilih pulang kampung menggunakan kendaraan roda dua. Mereka  yang pernah (atau malah sudah biasa) mudik naik motor, stamina dan kondisi fisik jadi hal utama yang wajib diperhatikan. Selain itu, pastikan untuk  tidak membawa beban terlalu berat. Selain tidak nyaman, tentunya sangat membahayakan.
Ya sebenarnya  mudik menggunakan transportasi apa saja tetap butuh perjuangan.
Mudik dengan pesawat  perjuangan di ongkos yang mahal. Mudik dengan kereta, perjuangan untuk mendapatkan  tiketnya. Mudik dengan bus atau mobil rental, perjuangan macetnya.
Mudik dengan kendaraan roda dua, perjuangan capek nya, dan juga siap-siap kena hujan dan panas.
Itulah sisi unik dari yang namanya mudik. Masyarakat memang tidak bisa meninggalkan tradisi mudik ini. Ada hal-hal yang membuat perantau wajib melaksanakan pulang kampung. Pertama mudik menjadi jalan untuk mencari berkah karena bisa bersilaturahmi dengan keluarga, kerabat dan tetangga. Kegiatan ini juga menjadi pengingat asal usul daerah bagi mereka yang merantau.
Tradisi mudik bagi perantau di ibu kota juga bertujuan menunjukkan eksistensi keberhasilannya. Selain itu, juga ajang berbagi rejeki kepada sanak saudara yang telah lama ditinggal untuk ikut merasakan keberhasilannya dalam merantau. Mudik juga menjadi terapi psikologis memanfaatkan libur lebaran untuk berwisata setelah setahun sibuk dalam rutinitas pekerjaan sehingga saat masuk kerja kembali memiliki semangat baru.
Selamat bermudik ria, jaga kesehatan dan keselamatan. Di kampung bersilaturahmi dengan keluarga, saudara, tetangga. Selamat Idul Fitri 1439 H mohon maaf lahir dan bathin.

                                                                                    *) Redaktur Liputan Dialektika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar