Artikel
UJIAN
NASIONAL BERBASIS KOMPUTER (UNBK)
Ciptakan Kejujuran
Oleh : Nurdin Kurniawan, S.Pd.*)

Nilai Ujian Nasional (UN) yang
spektakuler besar dan hasilnya hampir seragam menjadi kelemahan sebuah
institusi pendidikan. Benarkah anak didik kita mendapatkan hasil yang seperti
itu? Hal ini menjadi pertanyaan dari tahu ke tahun seolah meragukan kemampuan
siswa dalam mengerjakan UN. Apakah anak-anak kita dengan jujur mengerjakan
soal?
Satuan sekolah yang ada diatasnya
juga kadang ikut meragukan kemampuan yang diperoleh pelajar. Sekolah seperti
SMP/MTs meragukan hasil nilai UN anak SD, sekolah SMA/SMK meragukan nilai yang
diperoleh anak-anak SMP dan MTs. Mengapa hal ini bisa terjadi? Dari hasil yang
diperoleh nilainya besar-besar diatas rata-rata, bahkan jauh sekali dari nilai
try out dan yang menjadi keraguan adalah ketika nilai yang diperoleh hasilnya
hampir seragam. Timbul pertanyaan benarkan anak-anak mengerjakan UN dengan
kemampuannya sendiri?
Ada sekolah yang karena tidak
percaya dengan hasil UN lalu sekolah tersebut menyelenggarakan tes lagi setelah
anak didiknya diterima pada PPDB. Seolah hasil SKHUN yang sudah terbit
diragukan kebenarannya. Anak diranking lagi berdasarkan nilai tes yang baru.
Dari hasil tes inilah keraguan itu akhirnya terjawab.
Pemerintah tak habis piker kenapa UN
seolah menjadi hantu yang menakutkan setiap tahunya. Sampai akhirnya diambil
regulasi kalau UN mulai Tahun 2015 tidak menentukan kelulusan. Tentu saja
kebijakan ini disambut gembira guru dan juga murid. Mulailah nilai UN tidak
seperti tahun sebelumnya yang spektakuler besar diatas rata-rata. Sekolah
seperti tidak ada beban sama sekali dengan kondisi anak yang mengikuti UN. Mau
besar ataupun kecil nilai UN tokh yang menentukan kelulusan adalah sekolah. Sekolah
yang lebih tahu anak ini malas atau tidak, sekolah yang lebih tahu anak ini
rajin atau tidak, sekolah yang lebih tahu anak ini pintar ataupun tidak. Plong!
UN kini bukan hal yang menjadikan sekolah takut dibilang tidak berkualitas
karena siswanya banyak yang tidak lulus. UN kini bukan menjadi penentu
kelulusan siswa.
Kejujuran
Membentuk
karakter agar siswa jujur tidaklah mudah perlu waktu yang lama dan harus
terus-menerus diingatkan. Bagaimana menciptakan agar ketika Ujian Nasional
siswanya dapat jujur ini mejadi pertanyaan yang belum bisa terungkap dengan
pasti kebenarannya. Maka terobosan yang
dilakukan pemerintah adalah dengan menggulirkan Ujian Nasional Berbasis
Komputer (UNBK).
Ujian Nasional Berbasis Komputer
(UNBK) disebut juga Computer Based Test (CBT) adalah sistem
pelaksanaan Ujian Nasional dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya.
Dalam pelaksanaannya, UNBK berbeda dengan sistem ujian nasional berbasis kertas
atau Paper Based Test (PBT) yang selama ini sudah berjalan. Penyelenggaraan
UNBK menggunakan sistem semi-online yaitu soal dikirim dari server pusat secara
online melalui jaringan (sinkronisasi) ke server lokal (sekolah), kemudian
ujian siswa dilayani oleh server lokal (sekolah) secara offline. Hasil ujian
dikirim kembali dari server lokal (sekolah) ke server pusat secara online
(upload).
Penyelenggaraan UNBK pertama kali
dilaksanakan pada tahun 2014 secara online
dan terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur (SIKL).
Hasilnya yang mudah diketahui dengan cepat dan bisa menerapkan kejujuran pada
orang yang sedang mengerjakan ujian
membuat UNBK mulai dikembangkan sebagai salah satu bentuk ujian yang dianggap bisa menumbuhkembangkan sikap
jujur dalam mengerjakan soal.
Beda sekali dengan ujian yang masih menggunakan
media kertas maka UNBK harus mempersiapkan sarana tambahan yang tidak semua
sekolah mampu untuk mengadakannya. Setidaknya sekolah harus mempunyai
laboraturium komputer yang lengkap dengan sarana jaringan internet didalamnya.
Hanya sekolah yang sudah siap dengan itu semua yang bisa menyelenggarakan UNBT.
Ada sekolah yang karena ingin bisa
menyelenggrakan UNBK memaksakan diri dengan menyewa komputer dengan membebani
kepada orangtua siswa. Hal ini jelas-jelas dilarang oleh pemerintah. Bagi sekolah calon penyelenggara UNBK yang
belum dapat memenuhi kecukupan infrastruktur dapat mengundurkan diri dari UNBK
dan mengikuti UN berbasis Kertas dan Pensil (UNKP). UNBK hanya diselenggarakan
pada sekolah yang sudah siap baik dari infrastruktur, SDM, maupun peserta.
Infrastruktur sejauh mungkin memanfaatkan laboratorium komputer yang ada di
sekolah.
Secara konsep, UN secara online memiliki banyak kelebihan.
Seperti menghilangkan keperluan kertas dalam setiap penyelenggaraan UN. Lebih
dari itu, anak bisa lebih cepat mengetahui hasil ujiannya. Seperti diketahui
siswa yang ingin mengerjakan UNBK tinggal memasukkan 'username' sama 'password'.
Setelah itu data muncul dengan sendirinya. Tidak perlu mengisi nama dan
lain-lain seperti UN konvensional. Tetapi cara ini juga memberikan tantangan
bagi para guru untuk berperilaku jujur, tidak mencoba curang dengan memberi
bantuan kepada muridnya.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan
Provinsi Jawa Barat seperti diliris Kompas.com.
mencatat sebanyak 113.166 siswa menjadi peserta Ujian Nasional Berbasis
Komputer (UNBK) 2016 yang telah dilaksanakan serentak pada tanggal 4-7 April
2016. Total peserta UNBK 2016 di Jawa Barat adalah 113.166 siswa terdiri dari
36.826 peserta dari SMA/MA dan 76.340 peserta dari SMK.
Dengan sudah diterapkannya UNBK
dibeberapa sekolah diharapkan dapat
menerapkan karakter kejujuran yang selama ini menjadi bahan pertanyaan. UNBK
setidaknya bisa menjawab kebenaran nilai UN yang selama ini masih dipertanyakan
apakah memang benar dapat hasil jerih payah siswa seutuhnya atau ada campur
tangan pihak lain. Semoga UNBK bisa menepis keraguan itu semua. UNBK
menciptakan generasi yang memang benar-benar jujur.
*) Praktisi Pendidikan
Domisili di Cirebon

Tidak ada komentar:
Posting Komentar