Mengenai Saya

Foto saya
Cirebon, Jawa Barat, Indonesia
Nurdin Kurniawan, S.Pd. Bekerja sebagai PNS disalah satu sekolah di kota Kabupaten Cirebon. Selain sebagai guru aktif menulis di beberapa surat kabar yang ada di cirebon. Diorganisasi PGRI tercatat pula sebagai redaktur majalah Diaelktika, majalah milik PGRI Kab. Cirebon. Tinggal di Gebang yang merupakan Kampung Nelayan yang ada di Cirebon

Sabtu, 15 Juni 2019

VIRAL FILM G 30 S/PKI (Artikel)


ARTIKEL

VIRAL  FILM G 30 S/PKI
Oleh : Nurdin Kurniawan, S.Pd. *)


            Beda generasi, beda jaman beda pula sudut pandang dalam menilai sebuah sejarah. Orang-orang yang lahir sebelum kejadian tak akan kenal banyak sejarah yang berkembang. Jauh setelah itu lalu dipelajari sejarah yang sesungguhnya. Itu juga kebanyakan bukan langsung dari sumber pertama. Bahkan jauh setelah itu yang namanya sejarah terus bergulir. Orang-orang yang lahir jauh setelah peristiwa sejarah berlangsung  bisa mengamatinya dari membaca melalui buku atau bertanya pada yang tahu akan kejadian sesungguhnya..
            Menjadi sebuah polemik ketika sejarah dibuat berdasarkan kepentingan penguasa. Ketika sang penguasa sudah tidak memimpin lagi kebijakan-kebijakannnya tak lagi dipatuhi. Bahkan tak sebatas itu banyak yang menggoyang bahkan mempertanyakan apakah memang sejarah terjadinya seperti itu?
            Memasuki Bulan September ada suatu peristiwa yang sangat terkenal yang membuat sejarah bangsa ini  kelam. Kelam karena terjadi suatu peristiwa yang sangat menyayat hati sebagai  sebuah bangsa. Sebuah tragedi nasional yang membuat negara ini mengibarkan bendera setengah tiang. Peristiwa itu adalah Gerakan 30 September /PKI. Untuk mengenang tragedi yang memilukan itu penguasa Orde Baru lalu membuat film dokumenter yang berjudul Pengkhianatan G 30 S/PKI.
            Film ini pernah ditarik dari peredaran ketika sebuah rejim berganti. Di institrusi TNI sendiri waktu itu TNI AU tidak sependapat dengan film G 30 S/PKI. Dua mantan KSAU, Laksamana Madya Udara TNI (Purn.) Sri Mulyono Herlambang dan Marsekal TNI (Purn.) Saleh Basarah disebut tokoh yang mengusulkan penghentian itu. Alasannya waktu itu adalah film tersebut terlalu memojokkan TNI AU yang dituding terlibat Gerakan 30 September 1965.
            Kini film tersebut banyak diperbincangkan setelah Panglima TNI mengintruksikan prajuritnya  untuk nonton bareng film G 30 S /PKI. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menganggap pentingnya generasi muda sekarang untuk mengetahui sejarah Indonesia di masa lalu. Salah satunya soal sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dikemas dalam film Pengkhianatan G30S/PKI.
Dengan adanya pemutaran film tersebut, maka masyarakat diingatkan jangan sampai peristiwa yang sama terulang lagi. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo tidak ambil pusing atas polemik pemutaran film G30S/PKI di lingkup internal institusinya. Dia menegaskan acara nonton bareng film kontroversial itu memang perintahnya.
Bagi yang lahir setelah tahun 1965  ada baiknya menyaksikan film yang satu ini. Penulis sendiri ketika mengikuti seleksi CPNS sempat bengong ketika salah satu pertanyaan yang muncul berbunyi “ Pada saat G 30 September 1965 anda berada dimana? Kelahiran tahun 1971 pertanyaannya masih berbunyi seperti itu. Jauh ketinggalan  untuk ditanyakan pada orang-orang yang lahir setelah tahun 1965. Kini mula menyadari kalau hal itu adalah bagian dari suatu strategi pemerintahan pada waktu itu yang memang ada suatu kekhawatiran munculnya kembali gerakan PKI di Indonesia.   
            Tahun 1984 film ini mulai diputar perdana dibioskop-bioskop. Disalah satu bioskop yang ada di kecamatan penulis ikut menyaksikan film perdana  Pengkhiatan G 30 S/PKI. Setiap sekolah anak-anaknya digiring untuk ikut menyaksikan film ini. Penulis masih ingat masih duduk di kelas 6 sekolah dasar. Satu gedung biskop dipenuhi anak-anak SD dari kelas 4 sampai kelas 6 saja yang ikut menyaksikan. Dalam hitungan minggu film tersebut masih saja diputar sebab dalam satu kecamatan banyak sekali sekolah dasar yang menunggu giliran. Setelah sekolah dasar selesai  baru siswa SMP yang  mendapat giliran untuk menonton.
            Satu komando dari atas sekolah diliburkan hanya untuk menyaksikan film Pengkhianatan
G 30 S/PKI. Tak ada satupun sekolah yang berani menolak untuk tidak mengkondisikan siswanya untuk membeli karcis. Satu komando dan semuanya patuh mentaati. Era Orde Baru memang sangat disegani. Tak ada pejabat ataupun individu yang berani dengan terang-terangan menolak untuk membeli karcis. Film yang berdurasi hampir 3 jam itu akhirnya bisa ditonton walau barangkali ada diantaranya yang tidak sampai selesai. Maklumlah kondisi bioskop waktu itu tidak senyaman bisokop-bioskop sekarang yang ruangannya ada ac-nya.
                Kini untuk memutar kembali film seperti itu di sekolah-sekolah tentu akan banyak hambatan, tantangan bahkan gangguan. Beda dengan kondisi di jaman Orde Baru yanga masih satu komando.  Sekolah jaman sekarang banyak aturan dan tidak dengan gampang menggiring siswa ke gedung biskop untuk nonton bareng, apalagi harus bayar!
            Film Pengkhianatan G 30 S/ PKI adalah judul film dokudrama propaganda Indonesia tahun 1984. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Arifin C. Noer, diproduseri oleh G. Dwipayana, dan dibintangi Amoroso Katamsi, Umar Kayam, dan Syubah Asa. Diproduksi selama dua tahun dengan anggaran sebesar Rp. 800 juta kala itu.  Film ini dibuat berdasarkan pada versi resmi menurut pemerintah kala itu dari peristiwa "Gerakan 30 September" atau "G30S" (peristiwa percobaan kudeta pada tahun 1965) yang ditulis oleh Nugroho Notosusanto (Mendikbud di era Soeharto) dan Ismail Saleh, yang menggambarkan peristiwa kudeta ini didalangi oleh Partai Komunis Indonesia atau PKI.
Film Penumpasan Gerakan G30 S/PKI meraih sukses secara komersil maupun kritis. Film ini dinominasikan untuk tujuh penghargaan di Festival Film Indonesia 1984, Film ini terus digunakan sebagai kendaraan propaganda oleh pemerintah Orde Baru.
                Jauh sebelum film G 30 S/PKI beberapa judul film perjuangan bangsa wajib ditonton oleh para pelajar. Film-film bernuansa heroisme kepahlawanan perjuangan dan kejuangan lain seperti Serangan Fajar, Janur Kuning, Naga Bonar, Kereta Api Terakhir, Pasukan Berani Mati, Tjut Nya’ Dhien, Soerrabaja 1945, Lebak Membara, Komando Samber Nyawa dan yang lainnya. Kala itu menonton film di bioskop seolah menjadi bagian dari kurikulum lokal yang harus dituruti. Kegiatan nonton film bareng seperti itu kini sudah tidak dijumpai di era reformasi. Bahkan kalau ada edaran suruh nonton bareng banyak pihak yang menentang untuk tidak patuh membeli karcis dengan alasan komersialisasi pendidikan.
                Sudah berlalu era Orde Baru sejak jatuhnya Soeharto tahun 1998. Sudah lama pula film G 30 S/PKI tidak diputar ditelevisi. Pada bulan September 1998, empat bulan setelah jatuhnya Soeharto, Menteri Penerangan Yunus Yosfiah menyatakan bahwa film ini tidak akan lagi menjadi bahan tontonan wajib, dengan alasan bahwa film ini adalah usaha untuk memanipulasi sejarah dan menciptakan kultus dengan Soeharto di tengahnya. Pada tahun 2012 Kasau waktu itu Saleh Basarah dari Angkatan Udara termasuk orang yang merekomendasikan untuk tidak diputarnya film ini. Saleh Basarah telah menghubungi Menteri Pendidikan Juwono Sudarsono dan memintanya untuk tidak menayangkan Pengkhianatan G 30 S PKI, karena film ini telah merusak citra Angkatan Udara Republik Indonesia. Pada September 1998, Menteri Penerangan Yunus Yosfiah menggambarkan film ini sebagai upaya untuk menciptakan pengkultusan Soeharto.
Kewaspadaan memang harus tetap ada jangan sampai sejarah kelam bangsa Indonesia terulang lagi. Ajakan yang disampaikan Panglima adalah sesuatu yang sangat wajar. Sebagai bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Presiden Soekarno sendiri mengatakan Jas Merah, jangan sekali-kali merupakan sejarah. Sejarah kelam yang mewarnai bangsa Indonesia. Sebagai rakyat biasa tentunya berharap peristiwa G 30 S/PKI atau yang sejenisnya jangan sampai terulang lagi.
Sebagai evaluasi juga tentunya penguasa jangan punya rasa takut yang berlebihan. Jangan lagi ditanyakan pada anak-anak sekarang dengan suatu pertanyaan yang sangat amat tidak logis. Masa anak-anak yang lahir tahun 2000 ditanyakan “Pada saat kejadian G 30 S/PKI anda berada dimana?”. Mari kita ciptakan NKRI yang damai.


                                                                                             *) Praktisi Pendidikan
                                                                                                 Domisili di Gebang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar