ARTIKEL
VIRAL FILM G 30 S/PKI
Oleh : Nurdin Kurniawan, S.Pd. *)

Beda generasi, beda jaman beda pula
sudut pandang dalam menilai sebuah sejarah. Orang-orang yang lahir sebelum
kejadian tak akan kenal banyak sejarah yang berkembang. Jauh setelah itu lalu
dipelajari sejarah yang sesungguhnya. Itu juga kebanyakan bukan langsung dari
sumber pertama. Bahkan jauh setelah itu yang namanya sejarah terus bergulir. Orang-orang
yang lahir jauh setelah peristiwa sejarah berlangsung bisa mengamatinya dari membaca melalui buku
atau bertanya pada yang tahu akan kejadian sesungguhnya..
Menjadi sebuah polemik ketika
sejarah dibuat berdasarkan kepentingan penguasa. Ketika sang penguasa sudah
tidak memimpin lagi kebijakan-kebijakannnya tak lagi dipatuhi. Bahkan tak sebatas
itu banyak yang menggoyang bahkan mempertanyakan apakah memang sejarah
terjadinya seperti itu?
Memasuki Bulan September ada suatu
peristiwa yang sangat terkenal yang membuat sejarah bangsa ini kelam. Kelam karena terjadi suatu peristiwa
yang sangat menyayat hati sebagai sebuah
bangsa. Sebuah tragedi nasional yang membuat negara ini mengibarkan bendera
setengah tiang. Peristiwa itu adalah Gerakan 30 September /PKI. Untuk mengenang
tragedi yang memilukan itu penguasa Orde Baru lalu membuat film dokumenter yang
berjudul Pengkhianatan G 30 S/PKI.
Film ini pernah ditarik dari
peredaran ketika sebuah rejim berganti. Di institrusi TNI sendiri waktu itu TNI
AU tidak sependapat dengan film G 30 S/PKI. Dua mantan KSAU, Laksamana Madya
Udara TNI (Purn.) Sri Mulyono Herlambang dan Marsekal TNI (Purn.) Saleh Basarah
disebut tokoh yang mengusulkan penghentian itu. Alasannya waktu itu adalah film
tersebut terlalu memojokkan TNI AU yang dituding terlibat Gerakan 30 September
1965.
Kini film tersebut banyak diperbincangkan
setelah Panglima TNI mengintruksikan prajuritnya untuk nonton bareng film G 30 S /PKI. Panglima
TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menganggap pentingnya generasi muda sekarang untuk
mengetahui sejarah Indonesia di masa lalu. Salah satunya soal sejarah Partai
Komunis Indonesia (PKI) yang dikemas dalam film Pengkhianatan G30S/PKI.
Dengan
adanya pemutaran film tersebut, maka masyarakat diingatkan jangan sampai
peristiwa yang sama terulang lagi. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo tidak
ambil pusing atas polemik pemutaran film G30S/PKI di lingkup internal
institusinya. Dia menegaskan acara nonton bareng film kontroversial itu memang
perintahnya.
Bagi
yang lahir setelah tahun 1965 ada
baiknya menyaksikan film yang satu ini. Penulis sendiri ketika mengikuti
seleksi CPNS sempat bengong ketika salah satu pertanyaan yang muncul berbunyi “
Pada saat G 30 September 1965 anda berada dimana? Kelahiran tahun 1971
pertanyaannya masih berbunyi seperti itu. Jauh ketinggalan untuk ditanyakan pada orang-orang yang lahir
setelah tahun 1965. Kini mula menyadari kalau hal itu adalah bagian dari suatu strategi
pemerintahan pada waktu itu yang memang ada suatu kekhawatiran munculnya
kembali gerakan PKI di Indonesia.
Tahun 1984 film ini mulai diputar perdana
dibioskop-bioskop. Disalah satu bioskop yang ada di kecamatan penulis ikut
menyaksikan film perdana Pengkhiatan G
30 S/PKI. Setiap sekolah anak-anaknya digiring untuk ikut menyaksikan film ini.
Penulis masih ingat masih duduk di kelas 6 sekolah dasar. Satu gedung biskop
dipenuhi anak-anak SD dari kelas 4 sampai kelas 6 saja yang ikut menyaksikan. Dalam
hitungan minggu film tersebut masih saja diputar sebab dalam satu kecamatan
banyak sekali sekolah dasar yang menunggu giliran. Setelah sekolah dasar
selesai baru siswa SMP yang mendapat giliran untuk menonton.
Satu komando dari atas sekolah
diliburkan hanya untuk menyaksikan film Pengkhianatan
G 30 S/PKI. Tak
ada satupun sekolah yang berani menolak untuk tidak mengkondisikan siswanya
untuk membeli karcis. Satu komando dan semuanya patuh mentaati. Era Orde Baru
memang sangat disegani. Tak ada pejabat ataupun individu yang berani dengan
terang-terangan menolak untuk membeli karcis. Film yang berdurasi hampir 3 jam
itu akhirnya bisa ditonton walau barangkali ada diantaranya yang tidak sampai
selesai. Maklumlah kondisi bioskop waktu itu tidak senyaman bisokop-bioskop
sekarang yang ruangannya ada ac-nya.
Kini untuk
memutar kembali film seperti itu di sekolah-sekolah tentu akan banyak hambatan,
tantangan bahkan gangguan. Beda dengan kondisi di jaman Orde Baru yanga masih
satu komando. Sekolah jaman sekarang
banyak aturan dan tidak dengan gampang menggiring siswa ke gedung biskop untuk
nonton bareng, apalagi harus bayar!
Film Pengkhianatan G 30 S/ PKI
adalah judul film dokudrama propaganda Indonesia
tahun 1984.
Film ini disutradarai dan
ditulis oleh Arifin C. Noer,
diproduseri oleh G. Dwipayana, dan
dibintangi Amoroso Katamsi, Umar Kayam, dan
Syubah Asa.
Diproduksi selama dua tahun dengan anggaran sebesar Rp. 800 juta kala itu. Film ini dibuat berdasarkan pada versi resmi
menurut pemerintah kala itu dari peristiwa "Gerakan 30 September"
atau "G30S" (peristiwa percobaan kudeta pada
tahun 1965) yang ditulis oleh Nugroho Notosusanto (Mendikbud
di era Soeharto) dan Ismail Saleh,
yang menggambarkan peristiwa kudeta ini didalangi oleh Partai Komunis Indonesia atau PKI.
Film Penumpasan Gerakan G30 S/PKI meraih
sukses secara komersil maupun kritis. Film ini dinominasikan untuk tujuh penghargaan
di Festival Film Indonesia 1984, Film ini terus digunakan sebagai kendaraan
propaganda oleh pemerintah Orde Baru.
Jauh sebelum film G 30 S/PKI beberapa judul
film perjuangan bangsa wajib ditonton oleh para pelajar.
Film-film bernuansa heroisme kepahlawanan perjuangan dan kejuangan lain seperti
Serangan Fajar, Janur Kuning, Naga Bonar, Kereta Api Terakhir, Pasukan Berani
Mati, Tjut Nya’ Dhien, Soerrabaja 1945, Lebak Membara, Komando Samber Nyawa dan
yang lainnya. Kala itu menonton film di bioskop seolah menjadi bagian dari
kurikulum lokal yang harus dituruti. Kegiatan nonton film bareng seperti itu
kini sudah tidak dijumpai di era reformasi. Bahkan kalau ada edaran suruh
nonton bareng banyak pihak yang menentang untuk tidak patuh membeli karcis
dengan alasan komersialisasi pendidikan.
Sudah berlalu
era Orde Baru sejak jatuhnya Soeharto tahun 1998. Sudah lama pula film G 30
S/PKI tidak diputar ditelevisi. Pada bulan
September 1998, empat bulan setelah jatuhnya
Soeharto, Menteri Penerangan Yunus
Yosfiah menyatakan bahwa film ini tidak akan lagi menjadi bahan
tontonan wajib, dengan alasan bahwa film ini adalah usaha untuk memanipulasi
sejarah dan menciptakan kultus dengan Soeharto di tengahnya. Pada tahun 2012 Kasau waktu itu Saleh
Basarah dari Angkatan Udara termasuk orang
yang merekomendasikan untuk tidak diputarnya film ini. Saleh Basarah telah menghubungi Menteri Pendidikan Juwono
Sudarsono dan memintanya untuk tidak menayangkan Pengkhianatan G 30 S PKI, karena film
ini telah merusak citra Angkatan Udara Republik Indonesia. Pada September 1998, Menteri Penerangan
Yunus Yosfiah menggambarkan film ini sebagai upaya
untuk menciptakan pengkultusan Soeharto.
Kewaspadaan
memang harus tetap ada jangan sampai sejarah kelam bangsa Indonesia terulang
lagi. Ajakan yang disampaikan Panglima adalah sesuatu yang sangat wajar.
Sebagai bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.
Presiden Soekarno sendiri mengatakan Jas Merah, jangan sekali-kali merupakan
sejarah. Sejarah kelam yang mewarnai bangsa Indonesia. Sebagai rakyat biasa
tentunya berharap peristiwa G 30 S/PKI atau yang sejenisnya jangan sampai
terulang lagi.
Sebagai
evaluasi juga tentunya penguasa jangan punya rasa takut yang berlebihan. Jangan
lagi ditanyakan pada anak-anak sekarang dengan suatu pertanyaan yang sangat
amat tidak logis. Masa anak-anak yang lahir tahun 2000 ditanyakan “Pada saat
kejadian G 30 S/PKI anda berada dimana?”. Mari kita ciptakan NKRI yang damai.
*) Praktisi Pendidikan
Domisili di Gebang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar